15. Sandiwara (M)Arak

Sandiwara (M)arak

Sumber: Flores Bangkit 11 Januari 2014

Dalam waktu yang bersamaan, muncul dua kejadian yang bisa saja hadir secara kebetulan ataukah memang menghadirkan sesuatu yang lebih jauh.

Di level nasional, SBY kelihatan begitu bijak dan ‘merakyat’. Setelah mendengar kenaikan harga Elpiji 12 kg yang tentu sangat memberatkan masyarakat, ia segera ‘bertindak’. Ia meminta agar harga itu segera ‘ditinjau’, yang segera diikuti dengan pengurangan kenaikan dari 3500 menjadi hanya 1000.

Di level lokal, tepatnya di Larantuka, ada hal mirip. Dengan nuansa yang hampir sama, Bupati, Yoseph Lagadoni Herin hadir begitu ‘merakyat’. Terhadap empat ibu penjual arak asal Ilepadung yagn divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Larantuka dan divonis 5 bulan kurungan atau denda Rp 5 juta rupiah, sang bupati memberikan ‘solusinya’.

Terhadap pilihan antara mengurung keempat ibu selama lima bulan atau membayar denda Rp 20 juta (masing-masing Rp 5 juta), sang bupati memberi ‘jalan keluar’. Ia membayar denda itu dan ‘bebaslah’ keempat ibu penjual arak itu.arak

Hal ini memunculkan pertanyaan, hal mana menjadi latar belakang tulisan ini: Apakah itu pratanda kepemimpinan yang ‘merakyat’, atau sebuah manipulasi atas penderitaan rakyat? Apakah menunjukkan keberpihakkan pemimpin pada rakyat atau rakyatlah yang diharapkan menambah pesona sang pemimpin?

 

Menertawakan Diri

Mencermati dinamika yang terjadi, baik secara nasional maupun lokal, maka keyakinan kian jelas, bahwa sandirawa politik menjadi bagian yang disayangkan melekat pada politik. Politik yang seyogyanya menjadi seni mengatur sedemikian sehingga tercipta kesejahteraan, dalam kenyataanya digunakan sebagai cara licik (dengan cara apa pun) untuk mencapai sesuatu.

Dalam proses itu, manajemen isu menjadi bagian yang tak terpisahkan. Setiap isu disusun, ditanggapi, dan diatur sedemikian sehingga membawa ‘berkah’ yang pada gilirannya menambah pesona sang politisi. Dalam arti tertentu hal ini wajar. Dalam dunia cybermedia seperti ini, yang tercepat dalam menanggapi isu akan mendapatkan perhatian.

Yang disayangkan, bila hal itu wajar, tetapi mengapa rakyat kecil yang dijadikan ‘objek’ dari sandiwara politik? Dua kisah yang diangkat pada pengantar tulisan ini justru mengangkat realitas penderitaan masyarakat sebagai sarana untuk menambah pesona sang pemimpin, meski ketika ditelusuri lebih dalam, hal itu sekaligus kontradiktoris terhadap pemimpin itu sendiri.

Dalam kasus Elpiji, kesan segera akan muncul bahwa SBY menjadi pembela orang kecil dan sangat ‘concern’ mendengarkan ratap tangis masyarakat kecil yang menderita akibat kenaikan Elpiji sebesar Rp 3500. Ia juga dilihat sebagai pemimpin yang cekatan karena hanya dalam mainan hari, setelah mendepatkan tanggapan yagn sangat besar dari masyarakat yang diikuti dengan peralihan ke Elpiji 3kg,maka ia ‘meminta’ Pertamina ‘meninjau’ keputusan itu.

Benar terjadi. Pertamina ‘mendegarkan’. Tetapi sebuah tanda tanya besar, mengapa pemerintah menunggu hingga ada ‘aksi’ baru ‘bereaksi?” Apakah dia sebagai pemegang saham terbesar tidak tahu sama sekali ketika Elpiji dinaikkan? Atau, apakah ia menjadi ‘pembela rakyat’ terhadap keputusan yang dibuat sendiri?

Kisah darama serupa terjadi di Flores Timur. Bupati menjadi bagian dari Perda No 8 Tahun 2011 tentang Minuman Keras. Dengan demikian tindakan polisi menahan keempat wanita dari Ilepadung yang diikuti dengan proses peradilan adalah perwujudan dari peraturan yang ditetapkan bersama wakil rakyat dan pemerintah.

Dalam konteks ini, pembayaran denda oleh bupati adalah sebuah kontradiksi yang teramat jelas. Ia menertawakan dirinya sendiri dengan membayar denda terhadap apa yang dibuatnya. Atau lebih lagi kalau uang Rp 20 juta itu diambil dari kas negara untuk membayar denda kembali ke kas negara. Sebuah drama dengan aktor yang kian menggelikan.arak flores

Arak Flores dikagumi wisawatanasing… (di sini dilarang dan orangnya dipenjarakan?

Itu berarti dalam konteks Flotim, sandiwara yang kian marak itu mencapai titik menggelikan dalam kisah arak itu. Ia menmbah kisah panas yang terjadi di seantero jagat hal mana membuat kita lebih prihatin. Maksudnya, ketika aneka kisah sandiwara terjadi di level nasional, mestinya di level kecil, kita yang lebih mengenal budaya, punya pemahaman yang lebih bijak tentang praksis hidup. Nyatanya, apa yang terjadi di level bawah tidak beda, malah lebih menggelikan lagi.

Kedewasaan Politik

 

Sandiwara politik perlu disadari sebagai sebuah strategi tak elok dalam manajemen isu. Di sana kasihannya rakyat dijadikan objek (isu) yang diharapkan menguntungkan pemimpin. Padahal semua tahu, kalau sandiwara dalam berpolitik itu lumrah maka bisa dilaksanakan dengan cara apa saja tetapi dengan tidak mengorbankan rakyat kecil.

Mengapa demikian? Karena rakyat yang dimpimpin yang mengandaikan memiliki kelemahan dalam banyak hal membutuhkan pemimpin yang dapat memberikannya bimbingan dan arahan. Ia memilih pemimpin yang dapat mengantarnya kepada tujuan yang lebih mulia yakni kesejahteraan diri dan bangsanya.

Pada sisi lain, suara rakyat dianggap sebagai transendensi dari suara Tuhan. Itu berarti apa yang dikeluhkan dan diharapkan rakyat sungguh mewakili keberpihakan Tuhan. Di sana jelas konsekuensinya. Respek terhadap rakyat menjadi hal yang tidak bisa ditawar-tawar.

Pada sisi lain, hukum karma, seperti yang ditulis Nishan Panwar punya pendapat yang tegas:  When you live your life creating drama for others, Karma will get you in the end (ketika kamu mengisi kehidupanmu dengan menciptakan sandiwara untuk orang lain, maka hukum karma akan kembali padamu. Itu berarti setiap aksi yang mempermainkan suara rakyat apalagi memanipulasi demi kepentingan diri akan kembali sebagai karma.

Lalu apa yang mesti dibuat? Tentu sangat jelas. Sebuah kedewasaan politik hanya akan tercipta kalau kita berhenti dari setiap permainan drama atau sandiwara yang kita buat, demikian kata Melchor Lim (Maturity starts when drama ends). Keberanian meninggalkan sandiwara politik inilah yang harus menjadi target pemimpin siapa pun. Aneka trik yang tak elok mesti dipinggirkan dan memberi tempat pada kedewasaan.

Dalam konteks ini, tragedi arak hadir secara sangat tepat. Maraknya aksi sandiwara di tingkat nasional mengajak kita pada level daerah untuk memikirkan kembali aneka sandiwara ini. Bila kita bersungguh-sungguh memutus mata rantai maraknya sandiwara, maka arak yang tadinya beralkohol, ketika diteguk dalam dosis yang terbatas dapat ‘membakar’ semangat kita untuk menjadikan daerah kita lebih baik berkat keikhlasan dan ketulusan para pemimpinnya.

Robert Bala. Pengamat Sosial-Budaya. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s