16. Provinsi “Flores” atau “Florestar?”

Provinsi “Flores” atau “Florestar?”

(Sumber Flores Bangkit 04/02/2014/ Floresiana)

Geliat Otonomi Daerah telah mendorong tidak sedikit daerah untuk berpisah dari daerah induknya. Alasan utama tentunya agar mempermudah pelayanan masyarakat demi mencapai kesejahteraan rakyat.

Alasan ini pula yang melatarbelakangi pembentukan provinsi Flores. Bahkan bila dibandingkan dengan daerah lain yang sudah ‘berdiri sendiri’, Flores memiliki sejarah panjang. Tuntutan itu rasanya bukan lagi hal yang bisa disangkal. Malah mengapa tidak, perlu cepat terwujud. Dengan demikian, Flores dapat berdiri sendiri, terlepas dari induknya, Nusa Tenggara Timur.13747162621307665980

Namun dalam proses pembentukan, penentuan nama menjadi salah satu elemen penting. Provinsi baru tidak bisa ‘bernama apa saja’ yang penting ide pembentukan itu segera diwujudkan.  Sebaliknya ia perlu dipertimbangkan, tidak saja sebagai identitas tetapi juga sebagai pemersatu.

Sebagai Tanda

Shakespeare dengan jelas mengidentikkan nama sebagai tanda: nomen es omen. Artinya, sebuah nama menjadi tanda yang membedakan dan menyatukan. Ia hadir dengan ciri yang membedakan dari nama lainnya, tetapi secara ke dalam menyatukan semua yang bernaung di bawahnya.

Merujuk pada pemberi nama, orang Portugis, maka Flores berasal dari kata ‘as flores’ (portugis) atau ‘las flores’ (Spanyol) yang berarti ‘bunga-bunga’. Ia merupakan bentuk jamak. Artinya, yang dimaksudkan bukan saja setangkai bunga (singular:  a flor (Portugis), la flor (Spanyol), flos (Latin)), tetapi ‘flores’ alias bunga-bunga.

Mengacu pada nama di atas maka semestinya saat yang dimaksudkan pada saat memberi nama itu, Flores mestinya tidak  mengacu pada satu pulau saja yang kini kita sebut “Flores”. Memang sebagai induk, tidak bisa disangkali, nama itu lebih identik dengan satu pulau utama.

Tetapi yang tidak boleh dilupakan, pulau itu menjadi indah dan menarik karena berada di antara pulau-pulau kecil yang mengintarinya. Dengan kata lain, “Flores” menjadi indah pulau ‘induk’ dihiasi dengan pulau-pulau kecil lainnya.

Berpijak pada pemahaman ini maka Flores (pulau) menjadi indah karena ia bersifat majemuk. Tanpa mengandaikan pulau-pulau di sekitarnya, ia hanya sekedar ‘flos’ (Latin) atau Flor (Spanyol/Portugis), yang berarti hanya setangkai bunga (singular). Ia justru menjadi jamak karena keberadaannya bersama dengan pulau-pulau lainnya.

Dalam kaitan dengan itu, ide untuk memberi nama “Florata” (termasuk Lembata), atau Florestar (karena termasuk Lembata dan Alor-Pantar), kelihatan indah. Minimal kabupaten di luar daratan Flores itu merasa ‘diperhitungkan’ dalam nama tersebut.

Meski demikian, ia kontradiktoris karena namanya itu sendiri mengandaikan ia lebih dari satu pulau.  Hal ini pula yang hartus ditanamkan dalam diri orang Flores ‘daratan’ bahwa ia baru menjadi indah ketika ada bersama pulau lain. Di sini tidak ada yang ‘lebih’ dan yang ‘kurang’.

Dalam konteks ini, nama yang tepat adalah Provinsi Flores karena hal itu mengandaikan dalam namanya, pulau Flores dan pulau-pulau kecil lainnya yang berada di sekitarnya.

Pada sisi lain, upaya mengakomodir Lembata dan Alor (Pantar) dalam nama yang dianjurkan untuk provinsi baru menjadi “Florata” (Flores dan Lembata), atau “Florestar” (Flores, Lembata, Alor dan Pantar), meski kedengaran tetapi mengandung jebakan.

Yang dimaksudkan, bila sebuah nama diambil sebagai gabungan dari beberapa daerah, maka apa yang terjadi ketiak ada penbamahan daerah otonomi baru? Sebut saja yang paling dekat adalah Adonara. Apakah kemudian nama Florestar harus ditambah lagi atau paling kurang menambah a menjadi Florestaar, biar Adonara bisa masuk? Bagaimana kalau pulau lain seperti Solor, Palue ingin juga menjadi daerah otonom? Apakah kita harus merubah nama provinsi untuk mengakomodir masuknya daerah otonom baru?

Dalam konteks ini, dan merujuk pada arti etimologis maka mestinya nama yang paling pas adalah Provinsi Flores. Hal itu disadari dalam konteks pluralitas baik geografis (gugusan pulau-pulau) maupun konteks budaya. Hal inilah yang harus disadari dan dimaknai secara terus menerus.

Tanda Persatuan

Konsep nama sebagai kesatuan kemajemukan, mestinya pada saat bersamaan menjadi simbol persatuan dan kesatuan yang nota bene sudah dihidupi sebagai falsafah dan praktek hidup dan bukan sekedar sebuah nama baru yang dipaksakan.

Hal ini mengacu kepada keanekaragaman suku bangsa yang mendiami Flores, hal mana melatarbelakangi S.M.Cabot memberi nama Flores sebagai Tanjung Bunga “Capo de Flores”.

Hal itu tentu saja tidak sekedar sebuah nama yang menggambarkan derertan pulau-pulau tetapi menggambarkan kekayaan suku bangsa. Dengan memberi nama “Tanjung Bunga”, ia secara tidak langsung menonjolkan (sebagaimana sebuah tanjung yang menjulur ke luar) pluralitas yang ada dan dihidupi secara begitu alamiah.

Di sini, suku bangsa yang berbeda, yakni Melayu, Melanesia, dan Portugis hidup bersama. Mereka menyadari bahwa kita berasal dari berbagai suku bangsa dan bertemu bak dalam sebuah ‘melting pot’ atau kuali peleburan.

Itu berarti menjadi orang Flores bukan lagi pilihan, tetapi sebuah keterberian. Kita hanya bisa menjadi orang Flores karena peleburan. Karena itu hal itu tidak bisa disangkal. Hal itu pula yang memberanikan kita untuk menjaga persatuan dan kesatuan sebagai nilai penting.

Contoh hal ini tidak kurang. Dalam kaitan dengan agama, sejarah Flores belum pernah (moga-moga tidak) mencatat tentang kerusuhan antaragama. Pada saat perayaan keagamaan Katolik, umat Islam lah yang menjadi penjaganya. Demikian juga, dalam urusan agama Islam, orang Katolik yang berdiri di muka.

Mengapa sampai demikian? Karena agama adalah ‘warisan’ yang kita terima setelah kita melebur. Kita sudah menjadi orang Flores yang plural sebelum menerima agama, karena itu ketika agama datang, kita menerimanya sebagai dimensi yang memperkaya keanekaragaman kita.

Kembali kepada pendasaran ini maka nama Flores menjadi pilihan yang paling tepat untuk menamai provinsi baru. Ini provinsi Flores yang multikulltural, pluralis. Bersambung

Flores Bangkit  4 Februari 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s