(6) Kain dan Abel di Lembata

Kain dan Abel di Lembata

Pada pertengahan tahun 2009 (20 Mei), Lembata dikejutkan dengan kematian Yohakim Laka Loi Langoday. Sebuah kematian yang tidak wajar karena ditemukan di hutan bakau di sebelah timur Bandara Wunopito.

Kematian mantan Kepala Bidang Pengawasan , Pengelolaan, dan Pemasaran pada Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lembata itu dikaitkan dengan masalah proyek tahun 2009 dan diduga adanya keterlibatan orang-orang penting. Yang lebih mengejutkan, kematian itu melibatkan juga saudara korban (LBL) sebagai pelakunya.

KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
Empat tahun, tepatnya, 8 Juni 2013, kisah serupa terjadi. Kali ini menimpa mantan Kadis Perhubungan Lembata, Lorens Wadoe. Peristiwa kematian itu diduga juga bisa berkaitan dengan dana 40 miliar rupiah dalam pembangunan  dermaga Lewoleba yang dibangun ‘sedanya’ (Petrus Bala Pattyona, dalam tanggapan atas berita Flores Bangkit, 2/8,) dan karenanya diduga melibatkan ‘tokoh-tokoh penting di Lembata’.

Tetapi sebelum mengkategorikannya sebagai ‘pembunuhan berencana’, hal mengejutkan bahwa dari tiga tersangka yang sudah diciduk (MW dan YBR), salah seorangnya yakni VW adalah saudara korban.Terlepas kesaksiannya sebagai pendana yang nota bene diragukan, tetapi keterlibatannya yang dikaitkan dengan dana yang diterima korban sebesar 275 juta atas pelebaran jalan, lalu dikait-kaitkan.

Ada apa di balik dua peristiwa yang nota bene kasusnya sangat menggemparkan Lembata? Bukan maksud tulisan ini untuk menggeneralisir bahwa di kabupaten yang terkenal dengan ‘Statement 7 Maret’ ini sudah dipenuhi dendam antarsaudara. Ada kisah persaudaraan lainnya yang lebih membanggakan.

Tetapi dua kasus berurutan yang kasusnya tidak bisa dilepaskan begitu saja dengan gelontongan dana ‘miliaran’, maka hal itu perlu didalami. Minimal, perlu dijadikan permenungan agar tidak lagi terjadi kasus serupa di masa yang akan datang.

Iri Hati?

Kisah dendam antarsaudara bukan barusan terjadi di Lembata. Ia bahkan direfleksiakn sebagai sesuatu yang setua umur manusia. Kitab Perjanjian Lama secara sangat simbolis mengaisahkannya dalam  cerita Kain dan Abel (Kejaian 4,116).

Kainn

Dikisahkan, dendam dan iri yang berakhir dengan pembunuhan itu muncul saat sang kakak, Kain, menyakisikan bahwa persembahan sang adik lebih diterima oleh Tuhan. Hati sang kakak pu menjadi ‘panas’ dan mukanya ‘muram’. Pembunuhan pun terjadi, didahului ajakan sang kakak untuk ke kebun. Di sana, sang adik dibunuh dalam cara yang pasti tidak disangka-sangka olehnya sebelumnya.

Kisah itu tidak menjelaskan mengapa sebuah persembahan diterima dan yang lainnya ditolak. Ia hanya ekspresi, dalam kehidupan, juga hidup bersaudara, pengalaman keberhasilan dan kegagalan itu hal yang lumrah. Semestinya seorang saudara gembira dalam kegembiraan saudaranya.

Yang terjadi. Kegembiraan tidak selalu ditanggapi secara positif. Tak jarang, kegembiraan saudara ditanggapi dengan rasa sedih. Sedih melihat saudara senang dan senang melihat saudara susah. Lebih jauh lagi, rasa iri tak terkontrol hingga putus sama sekali relasi itu. Dalam kasus Kain, bahkan secara arogan mempertanyakan Tuhan  apakah ia menjadi penjaga adiknya.

Arif dan Bijak

Dalam tulisannya: Rivalidad Fraternal? Tus Hijos se comportan   como Cain y Abel, (Persaingan antarsaudara. Anak-anakmu bertingkah seperti Kain dan Abel), 28 Januari 2013, psikolog Angelica Orozco Vilanueva, juga mengakui bahwa rivalitas alias persaingan antarsaudara itu sudah bisa dideteksi sejak awal dalam setiap keluarga.

Masa yang paling ‘genting’ dengan aneka persaingan ketika anak berumur 7-9 tahun. Biasanya berawal dari perebutan alat permainan.  Rasa iri itu sudah pasti muncul awalnya dari sang kakak yang berusaha mengurangi perhatian orang tua kepada sang adik. Secara logis, sejak kehadiran sang adik, perhatian kepadanya berkurang.

Orang tua biasanya berusaha mencari jalan agar perselisihan itu tidak terus terjadi. Secara arif dan bijak, meski dengan talenta dan kemampuan berbeda-beda, persiangan itu tidak diperlebar dengan membanding-bandingkan anak. Kakak yang lebih pintar atau adik yang lebih baik tidak dijadikan alasan untuk menambah permusuhan tetapi disikapi secara bijak dengan menyokong lainnya agar bertumbuh dengan caranya sendiri.

Dengan berjalannya waktu maka sikap mencintai sebagai antarsaudara semakin kuat. Rasa cinta itu tidak hanya berada pada taraf biologis-erotis, dimana segala pengorbanan begitu dikalkulasi untung ruginya. Lebih jauh ia menjadi sebuah cinta filio, dalamnya yang ditonjolkan adalah sikap sikap membantu dan menolong secara tulus. Malah lebih dari itu, ia bisa bersifat ágape dimana seorang saudara bisa begitu mengorbankan diri hanya agar saudaranya itu bisa senang.

Sayangnya, proses masa kecil itu terkadang meninggalkan celah. Kisah keluarga Langoday dan Wadoe, terlepas apakah ‘diotaki’ atau tidak, perlu digali dalam lingkup  masa kecil. Ruang dendam itu tentu tidak bisa dilihat baru sekarang hingga akhirnya turut dalam mendalangi pembunuhan saudara. Sangat boleh jadi sudah hadir menjadi celah masa kecil, ketika mereka masih berumur 7-9 tahun tetapi tidak berhasil disembuhkan.

Iri dan dendam yang tidak tersembuhkan itulah akhirnya mudah diprovokasi, bahkan ketika yang bersangkutan menginjak masa yang sudah dianggap tidak muda lagi. Yang disayangkan, celah itu begitu mendalam hingga orang di luar lingkaran keluarga bisa tahu yang akhirnya dengan mudah masuk dan memengaruhi malah mengobrak-abrik keutuhan keluarga itu.

Tetapi kisah itu bisa ditafsir lebih luas. Kekompakan keluarga yang bisa saja sudah dimiliki bisa saja terancam oleh perubahan sosial yang terjadi. Perubahan sosial misalnya sangat nyata di Lembata, khususnya Lewoleba. Dulu ia hanya sebuah desa, lalu jadi desa besar, dan kini disebut kota. Cara hidup berubah. Tak terkecuali harga ekonomi tanah yang dulunya begitu murah malah gratis, kini bisa mengubah hidup seseorang.

Mengutip Kitab Kejadian, sudah sejak saat itu, Tuhan berkata kepada Kain bahwa Darah adikmu itu berteriak kepadaKu dari tanah.. Itu pratanda bahwa tanah telah berubah jadi panas dan sumber petaka, dan mengapa tidak, menjadi sumber konflik antarkeluarga. Tanah juga bisa mewakili perbedaan ekonomis yang bisa terjadi antar saudara.

Dalam konteks ini, kebajikan dan kebijakan dalam lingkup keluarga perlu diperkuat, agar tanah tidak bisa jadi sumber. Ia sekaligus mengingatkan bahwa perubahan di Lembata juga di NTT, perlu disikapi dengan bijak. Pertama secara internal dalam keluarga besar, sebelum melebar lebih jauh. Hanya dengan demikian, aneka kisah “Kain dan Abel”, tidak mesti terjadi lagi di Lembata dan di mana pun.

Sumber: Flores Bangkit 05 Agustus 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s