12. Ketakutan 2013

‘Ketakutan 2013’

(Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

2013 baru saja lewat. Sebuah angka yang bisa saja bagi banyak orang penuh kenangan. Tetapi angka ‘13’ yang melekat padanya, bisa saja telah menjadi sebuah momen yang tidak bisa dilupakan oleh pengalaman negatif.

Tetapi bagaimana pun, semuanya telah menjadi kenangan. Tak heran, seorang sahabat menulis pesan menyimpulkan hal ini: Yesterday is a memory, today is a gift, and tomorrow is a hope. 2013 telah menjadi bagian dari kenangan. Yang terpenting adalah bagaimana menjadikan realitas kekinian yang nota bene menjadi berkat sebagai pijakan agar di tahun 2014 semua harapan yang belum terlaksana dapat terwujud.ketakutan 2013

Pertanyaannya: bagaimana menjadi tahun 2014 lebih bermakna? Inilah pertanyaan penting karena secara politik ia memandai sebuah proses politik yang penting bagi negeri ini dan mengapa tidak, memiliki imbas untuk Flores secara khusus.

Ketakutan Meluas

Menyimpulkan aneka kepincangan yang mewarnai 2013 maka kata kuncinya bisa terwakili dalam kata ‘takut’.

Dalam bahasa Martin Heideger, sebagaimana disitir Laba Wejak (FloresBangkit 09/12), ia ada sebagai sesuatu yang nyata dengan objek riil akan sesuatu sebagai alasannya.

Hal itu terjadi baik dalam skala luas (nasional) maupun dalam lingkup kecil. Secara umum, meluasnya korupsi secara nasional meski secara hukum aneka hukuman sebenarnya sudah dilansirkan terutama dengan kontrol dari KPK, tetapi ia masih saja tidak memunculkan efek jera.

Tertangkapnya orang-orang mulai dari level menteri dan petinggi partai maupun orang di bawahnya tidak dengan sendirinya ‘menobatkan’ yang lain. Alasannya sederhana saja. Mereka yang berkuasa menyadari bahwa kekuasaan itu tidak kekal. Apa yang terjadi besok tidak bisa dipredikisikan. Waktu yang terpenting adalah ‘hari ini’ dan ‘kesempatan’ yang ada sekarang.

Dalam konteks itu maka hal yang bisa dibuat adalah ‘memanfaatkan’ semaksimal mungkin kesempatan yang ada. Aneka cara tak elok dilakukan sekedar memantapkan kepastian tentang kekayaan. Jadinya, tiada hari tanpa korupsi.

Pada skop yang lebih kecil pun terjadi hal yang sama. Masyarakat yang kehilangan kepercayaan pada penguasa bisa memanfaatkan kesempatan yang ada. Ketika sebuah tawaran di depan mata dianggap ‘reasonable’ untuk dapat memperoleh sesuatu, ia laksanakan saja tanpa pertimbangan akal sehat yang semestinya diberikan.

Kisah pembunuhan Lorens Wadu di Lembata bisa dijadikan satu contohnya. Ketika kesempatan itu ada, bahkan lingkup terdekat keluarga pun ikut ‘ambil bagian’. Ia tidak menyadari skenario besar yang bisa saja berada di baliknya. Yang penting apa yang bisa diperoleh dari kematian seseorang, terlepas apakah ia adalah saudara atau tidak.

“Carpe Diem”

Hal yang sama bak kesempatan empuk bagi politisi egois yang bak menanti mangsa kapan pun bila ada. Kepincangan dalam relasi keluarga dengan cepat ‘dimanfaatkan’ untuk meramunya menjadi sebuah peristiwa kusam bak benang kusut yang akhirnya susah diurai.

Mentalitas ‘carpe diem’, cukup hari ini alias karena ada kesempatan juga bisa dijadikan fenomen yang melingkupi juga “Sail Komodo 2013”, yang menjadikan Flores begitu ‘terkenal’ secara nasional bahkan internasional.

Tidak sedikit politisi yang bukannya melihat kesempatan ini untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dalam arti rencana jangka panjang tetapi melihatnya sebagai ‘kesempatan’. Dengan prinsip bagaimana agar ‘uang negara’ itu bisa ‘dikeruk’ (katanya) untuk pembangunan di Flores.

Jadilah proyek kilat seperti “Bedah Rumah”, pembangunan Rumah Sakit, dijadikan proyek kilat. Ia disusun ‘seadanya’ dan dalam ‘tempo yang sesingkat-sigkatnya’, mumpung pada momen paling berharga itu Flores ketiban rezeki oleh kehadiran pejabat.

Hasilnya bisa diprediksi. Kegiatan yang diramu seadanya tanpa persiapan yang memadai tentu saja hanya membawa ‘berkah’ untuk pejabat oportunistik. Mereka ketiban rezeki sementara program itu akan mubazir karena tidak akan terurus sesudahnya. Hal itu sudah nyata dan menjadi contoh sangat nyata.

Mengapa bisa terjadi demikian? Kata-kata Thomas Jefferson dapat dijadikan jawabannya:  When the people fear the government there is tyranny. When the government fears the people is liberty. Di sana ada dua hal penting. Manajemen pemerintahan yang tidak terkelola secara baik di mana daerah  ‘terpencil’ sebagai Flores hanya bisa diperhatikan kalau ada ‘event’ seperti ini menunjukkan bahwa sebenarnya yang berlaku adalah sistem tiranis.

Di sana pemerintah lokal nyaris bersuara di level nasional. Mereka lalu bisa memanfaatkan ‘event’ seperti ini untuk dapat ‘mengeruk’ bantuan secara nasional, sebuah sistem yang tentu tidak mendidik apalagi menyejahterakan rakyat.ketakutan 2014

Pada sisi ini bisa juga muncul sisi lain yang sebenarnya sama negatifnya. Terhadap pemerintah lokal yang lebih menyetujui apa yang ‘diturunkan’ dari atas, bisa saja muncul praksis pemimpin lokal yang lain untuk tampil beda. Peristiwa pemblokian Bandara di Soa bisa jadi contohnya.

Ia melakukan tindakan konyol yang bisa saja dilandasi oleh akumulasi kekecewaan atas pelayanan penerbangan, belum lagi aneka kecelakaan yang terjadi. Sayangnya, ia lalu mengancam untuk melakukan penutupan Bandara yang memang terwujud pada Sabtu 21/12.

Lalu apa sebenarnya yang mengemuka dalam aneka tindakan tak pantas tersebut? Secara umum ia mewakili sebuah ekspresi rasa takut. Pemerintah daerah yang merasa ‘takut’ kalau tidak diperhatikan oleh pusat akhirnya melakukan tindakan memanfaatkan momen apa pun untuk ‘dapat diperhatikan’.

Ketakutan juga ada dalam pribadi pemimpin yang kebetulan memimpin sebuah daerah. Ia takut karena realitas politik seperti sekarang ini tidak memberikan kepastian apa pun. Karena itu ketika ada kesempatan (dalam kesempitan), akan dimaksimalkan untuk menguntungkan diri. Ia juga menggunakan kewenangan yang ada untuk berbuat apa saja tanpa memberi ruang untuk berpikir kritis karena tahu bahwa dalam arti tertentu ia adalah ‘raja’ di daerahnya.

Lalu apa yang dibuat masyarakat kalau kenyataannya, pemimpin yang menjadi acuannya hidup dalam ketakutan dan bahkan menebar aneka ancaman yang menakutkan? Di sinlah kenyataan pahit yang terpaksa kita alami. Rakyat yang sebelumnya sudah tak puas akan moralitas pemimpin yang ‘begitu-begitu’, akhirnya merasa bahwa kalau tidak berbuat sesuatu maka ia tidak akan didengar. Ia pun merasa kalau pemimpinnya bisa menempuh jalan pintas, mengapa ia tidak?

Jadilah aksi jalan pintas itu meluas. Tindakan  main hakim sendiri diambil karena tahu kalau mengikuti jalur normal dan formal maka ia tidak akan didengarkan. Di sinilah kenyataan ‘chaos’ menjadi sebuah tontotan yang masih kerap terjadi. Rakyat memilih jalannya sendiri karena tahu bahwa itulah jalan satu-satunya yang ampuh.

Dalam nuansa inilah maka kita bisa menamai bahwa memang 2013, tidak hanya ‘celaka’ dari angka ‘13’, tetapi sungguh mewakili sebuah deretan waktu yang dipenuhi oleh meluasnya ketakutan, hal mana harus segera disadari dan dicari jalan keluarnya.

Robert Bala. Diploma Resolusi Konflik dan Penjagaan Perdamaian pada Universidad Complutense de Madrid Spayol.

Sumber: FloresBangkit 02 Januari 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s