17. Provinsi untuk “Flores”

Bagian Terakhir dari Dua Tulisan

Provinsi untuk “Flores”

Flores Bangkit, FLORESIANA 05/02/2014

Proses finalisasi pembentukan “Provinsi Flores”, mengandaikan sekaligus kesepakatan untuk Ibu Kota. Ketika provinsi ini berdiri, di manakah pusatnya alias ibu kota Provinsi? Apakah kita bisa menetapkan ‘kota apa saja’ yang penting ide ini cepat diwujudkan ataukah mempertimbangkannya dengan matang?

Pintu Wisata?

Menetapkan ibu kota provinsi, tentu saja harus mengikuti perkembangan  yang terjadi dalam dekade terakhir. Dalam perspektif ini, tidak saja Flores, tetapi secara nasional, bahkan secara global, orang akan sangat mengenal Labuan Bajo sebagai kota yang paling ‘nyentrik’.

Lihat saja arus penerbangan ke daerah ini dan menggeliatnya ekonomi di daerah ini. Berkat suksesnya Komodo sebagai pemenang “7 Wonders”, maka kota itu sudah tidak bisa dibanding dengan kota apa pun di Flores.

Dari posisinya yang berada di Barat, Labuan Bajo menjadi bak ‘pintu masuk’ pulau Flores. Dengan arus wisata yang ada, terbukanya pintu gerbang diharapkan dapat memfasilitasi pergerakan wisawatawan ke daerah lain di Flores. Pemilihan Labuan Bajo sebagai ibu kota tentu saja ditempatkan dalam konteks ini dan mengapa tidak, menjadi alasan yang patut diperhitungkan.

Permasalahannya, apakah penetapan ibu kota terbatas pada faktor pengembangan ekonomi? Atau, apakah kota bisnis dan pariwisata menjadi prasyarat mutlak dalam penentuan ibu kota?Ine Mbu1

Tentu saja tidak. Ibu kota adalah pusat pemerintahan sebuah daerah harus menjadi bak poros pemersatu secara geografis mengingat bagaimana pun, warga akan berurusan dengan propinsi dalam hal-hal administratif.  Dengan demikian, perlu dipikirkan aspek kemudahan yang dapat dicapai oleh setiap orang dari sudut berbeda untuk dapat mengakses tempat tersebut.

Dalam konteks ini maka Labuan Bajo yang kelihatan menjadi pintu masuk akan sulit dijangkau oleh orang-orang di Flores Timur, apalagi Lembata dan Alor. Untuk akesesibilitas, tentu mereka akan memilih untuk tetap bergabung dengan NTT, yang bisa dijangkau hanya sekali naik Ferry (12 jam) dengan biaya kurang dari Rp 100.000. Biaya yang akan dikeluarkan tentu berlipat hingga lima kali kalau harus ke Labuan Bajo.

Meski demikian, kedudukan Labuan Bajo harus terus dikembangkan sebagai pusat wisata dan mengapa tidak, pusat bisnis. Mengikut wacana pemindahan ibu kota dari Jakarta dan tetap menjadikan Jakarta sebagai kota bisnis bisa ditempatkan dalam konteks ini. Atau pengalaman Brazil bisa diambil hikmah. Meskipun Rio de Janeiro dan Sao Paulo merupakan kota terbesar, tetapi mereka sepakat untuk membuat ibu kota pemerintahan di Brasilia, sebuah daerah baru yang dikembangkan khusus untuk itu.

Mbay atau Maumere?

Dari sisi strategis geografis, semestinya Ende merupakan pilihan yang tepat. Ia bisa menghubungkan tidak saja daratan Flores tetapi bisa memungkinkan kabupaten kepulauan seperti Lembata (Adonara) dan Alor Pantar untuk bisa berelasi lewat jalur laut. Itulah sebabnya, selama periode awal kemerdekaan, Ende sebagai pusat pemerintahan Flores.

Sayangnya, kondisi geografis Ende yang kecil, tentu saja menyulitkan pengembangannya ke depan. Alternatifnya terbuka dengan kondisi yang berbeda, yakni Mbay dan Maumere. Dari sisi kota baru dengan lahan yang luas, maka Mbay menjadi pilihan yang sangat tepat. Sebuah ibu kota dapat dirancang dengan lebih baik dengan masalah yang minim dibandingkan dengan kota yang sudah dihuni.

Meski demikian, apakah posisinya sebagai lumbung padi di NTT akan terganggu? Secara ideal tentunya tidak diharapkan agar areal pertanian yang tentu sudah didisain secara baik dalam konteks Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet) Mbay tidak tergangganggu.

Kenyataan tentang begitu banyaknya pengalihan lahan untuk pembangunan fisik seperti perumahan merupakan kenyataan pahit yang dihadapi. Apalagi sebagai Ibu kota provinsi, tentu hal itu akan terpaksa dilakukan. Memang bisa ada perencanaan agar kota baru nanti di buat di daerah bukan pertanian. Tetapi ancaman penyempitan areal pertanian itu akan sangat terbuka.

Pada sisi lain, posisi Mbay akan masih menjadi kesulitan untuk Lembata dan Alor Pantar. Jangkauan yang meski lebih dekat dibandingkan dengan Labuan Bajo, tetapi masih sangat terlalu jauh. Malah pilihan untuk tetap bergabung dengan Kupang masih lebih terbuka.

Alternatif pilihan pun dapat terbuka untuk Maumere. Di tilik dari posisi, letaknya bisa sedikit jauh dari Manggarai. Namun transportasi termasuk pesawat yang cukup ‘murah’ yang melewati Labuan Bajo ke Ende dan Maumere, mestinya mempermudah. Belum lagi kalau jalur laut Maumere – Labuan Bajo bisa dirancang sehingga bisa memudahkan lalulintas (sambil menyinggahi Mbay).

Pengembangan Maumere sangat memungkinkan, terutama ketika dataran itu bisa memanjang ke pesisir pantai utara juga ke arah Maumere – Larantuka. Ia membentas dan memungkinkan sebuah pengembangan yang lebih luas. Belum lagi kalau pengembangan ke arah Nele yang memungkinkan pengembangan wilayah yang lebih jauh.

Dari sisi kematangan politik, Sikka pada umumnya dan Maumera pada khususnya bisa dianggap paling matang di daratan Flores. Pada masa Orde Baru, yang terkenal dengan dominasi Golkar, justru oleh kematangan berpolitik di Sikka, dapat terimbangi dominasi itu. Dinamika politik itulah yang telah melahirkan tokoh politik yang sudah teruji seperti Frans Seda, Bung Kanis, untuk sekedar menyebut dua contoh.

Kematangan berpolitik ini akan menjadi pendorong dalam dinamika politik propinsi. Dalam dekade terakhir, Sikka terlah hadir begitu konsisten dengan keutuhan daerahnya, jauh dari geliat ‘otonomi’ padahal dari sisi kuantitas jumlah penduduk, ia tidak kekurangan alasan. Jelasnya, ketika Manggarai bisa ‘berbagi’ jadi tiga, Sikka (dan Ende), tetapi satu. Minimal sampai dengan saat ini.

Pertimbangan ini kembali menjadikan Maumera sebagai kandidat yagn kuat untuk tidak mengatakan alternatif yang perlu mendapatkan prioritas. Namun ini sekedar wacana. Apa pun yang dipertimbangkan, hanya merupakan pertautan ide untuk akhirnya mendapatkan yang terbaik untuk provinsi baru ini.

Yang pasti, sebagai orang Flores, mestinya nama yang melekat erat pada nama itu tidak harus hilang. Ia terkenal sangat plural yang tidak pernah memandang mayoritas dan minoritas, apalagi voting. Semua, termasuk yang kecil punya andil menjadikan Flores, tanjung bunga yang indah. Karena itu penetapan ibu kota bukan soal kalah atau menang tetapi baik memilih pot bunga, tempat di mana setiap bunga apa pun dari daerah mana pun dapat disatukan. Inilah provinsi untuk “Flores”, untuk keberagaman. Habis

Flores Bangkit 2 April 2013

Advertisements

2 Responses to 17. Provinsi untuk “Flores”

  1. setelah membaca tulisan di atas dgn sgla macam penjelasannya maka mgkn paling tepat MOF jd pilhan utama, Semoga ya… Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s