13. Politik “Empat Mata”

Politik “Empat Mata” 2014

Bagian Terakhir dari Dua Tulisan

Meluasnya rasa takut di tahun 2013 yang menciptakan sebuah ketidakpastian baik pada level pemimpin dan masyarakat memunculkan pertanyaan tentang apa yang bisa dibuat di tahun 2014 yang secara umum dianggap mengandung harapan menjadi tahun penuh kegembiraan hal mana terbersit dalam ‘hapyy new year?’empat mataJelasnya, apa yang bisa dibuat agar pengalaman negatif itu tidak terulang lagi? Apa yang bisa dibuat sekarang ini sudah di Bulan Januari agar kelak di bulan Desember sebagai penghujung kita tidak meratapi kesalahan yang sama?

Pintu Gerbang

Jauarius Mensis atau Bulan Januari tidak sekedar sebuah sebutan untuk menamai bulan pertama di sebuah kalender waktu setahun. Ia berasal dari mitologi Yunani yakni Dewa Janus yang terkenal karena memiliki dua muka dengan masing-masing dua mata sehingga berjumlah empat.

Satu wajah menghadap ke belakang dan lainya menghadap ke depan. Karena dua wajah maka sepitas ada kesulitan mendeteksi mana yang depan dan mana yang belakang. Tetapi bagi orang Yunani, hal itu mudah. Disebut wajah belakang karena ia memiliki ciri yang pesimis, alias suram dan sedih. Yang lainnya memiliki wajah yang optmistik. Ia selalu tersenyum gembira, ekspresi harapan aka sesuatu yang lebih baik.

Karena dua sisi ini maka dewa Janus sering disebut juga pintu, gerbang, gapura atau lorong masuk. Itulah maka mengapa orang Yunani menamakan bulan pertama tiap tahun sebagai Januari. Ia adalah pintu masuk ke sesuatu yang baru.

Sebagai pintu ia mengandung sebuah kontradiksi dalam dirinya sendiri. Di satu pihak ia membawa kenangan pahit masa silam yang bisa saja sangat kuat. Aneka kegagalan dan kepahitan hidup membuat orang harap-harap cemas. Kenangan kegagalan bisa saja membelenggu orang untuk berani maju.

Tetapi pada sisi lain ia mengandung harapan akan suatu perubahan ke arah yang lebih baik. Karena itu di awal tahun, aneka resolusi pun dilansirkan pratanda bahwa kegagalan bisa dijadikan pembelajaran darinya bisa diperoleh sesuatu yang lebih baik.

Inilah nuansa yang bisa menandai tahun 2014. Pengalaman terkurung dalam rasa takut dan aneka penyimpangan akibat ketakutan yang nyata serta praksis hidup yang sangat membatasi kehidupan pada ‘kesempatan sekarang’ bisa saja membuat nuansa gamang. Itulah pengalaman nyata yang bisa saja terulang di tahun yang baru terutama ketika tidak adanya usaha struktural dan sistematis serta menyeluruh untuk mengadakan sebuah perubahan.

Di sinilah wajah canggung itu bisa saja sangat dominan. Di sana muka lainnya yang mestinya membersitkan kegembiraan dan optimisme menyurut. Bukan tak mungkin, wajah politik kita di tahun 2014 bukannya memiliki dua muka dengan ekspresi berbeda, tetapi malah bisa jadi yang kita miliki sekarang adalah dua muka dengan ekspresi yang sama: suram dan pesimistik.

Kenyataan ini bisa terwujud ketika pengalaman negatif sebelumnya tidak dijadika pembelajaran. Harapan akan reformasi menjadi kendur karena yang dikejar hanya perwujudan beberapa peraturan prosedural seperti demokrasi yang sekedar memenuhi tuntutan formalitas tetapi tidak menjiwai perilaku politik itu sendiri.

Hal itu sudah sangat nyata. Kita menjadi negara sangat ‘demokratis’ bukan karena menjiwai sebuah kehidupan demokratis dari dalam tetapi karena berusaha memenuhi prasyarat yang ditetapkan negara maju (sekedar dianggap hebat), tetapi secara ke dalam terus melansirkan perilaku lacur dan moralitas tak elok.

Empat Mata

Kesadaran akan kepincangan mesti membangun kesadaran tentang pentingnya sebuah perubahan yang lebih baik. Pertama, perlu terus menghidupkan realitas suram da senyum sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Ia adalah kenyataan yang mengingatkan bahwa yang positif dan negatif, optimisme dan pesimisme tidak ditentukan oleh realitas itu sendiri melainkan oleh kemampuan manusia untuk memaknainya.

Itu berarti pengalaman negatif diterima sebagai bagian dari kehidupan dan perjalanan. Kegagalan, ketimpangan, egoisme, diakui sebagai bagian dari kehidupan. Ia juga sekaligus mengungkapkan kemanusiawian kita.

Tetapi pengalaman negatif itu dijadikan pembelajaran. Banyak orang sukses misalnya bisa mencapai puncak karir bukan karena melewati perjalanan dengan mulus tetapi karena berhasil belajar dari kekeliruan untuk membangun sebuah kehidupan yang lebih kuat dan utuh.

Di sana wajah optimistik dan senyum bukan sekedar sebuah harapan kosong tetapi sebuah kegembiraan di atas keyakinan bahwa berbagai pengalaman negatif telah diterima dan dijadikan pembelajaran untuk kehidupan ke depan yang lebih baik.

Kedua, realitas dua wajah dari sisi mata uang yang sama tidak berarti menjadikan kita gamang tanpa identitas. Kenyataan itu bisa saja hadir dan tanpa disadari menjadi sebuah sumber petaka yang terus dimiliki bangsa ini. Tidak sedikit orang yang lebih memiliki bermuka dua dengan identitas yang kabur.

Mendekati Tahun Politik 2014 ini misalnya mereka hadir dengan wajah yang penuh optimistik, senyum, hal mana terlihat dari wajah di baliho, stiker caleg, dan lain-lain. Seyum itu bisa saja menipu indra. Ia tersenyum bukan karena berjanji akan membawa kesejahteraan bagi orag lain melainkan poltik telah menjadi arena menyejahterahkan dirinya.

Kenyataan inilah yang perlu menjadi pertimbangan. Di sini partisipasi politik perlu ditingkatkan. Masyakarat perlu yakin bahwa dinamika politk 2014 bukan ditentukan oleh politisi bermuka dua.  Justeru masyarakatlah yang menentukan siapa yang pantas maju dan mana yang harus ‘dieleminir’.

Dalam arti ini partisipasi menjadi kata kunci. Mengutip Plato: One of the penalties for refusing to participate in politics is that you end up being goberned by your inferiors. Artinya jelas. Apabila masyarakat tidak ikut ‘bermain’, maka mereka akan diperintahi oleh politisi yang lebih buruk dari yang sekarang.

Tetapi dengan berpartisipasi juga tidak berarti ia harus memilih yang paling baik dari yang baik. Yang pasti, ia bisa menilai, kalau pun yang hadir semuanya buruk, ia masih punya senjata ‘minus malum’. Ia diharapkan dapat memilih orang yang mestinya buruk (moral dan kinerjanya), tetapi masih lebih baik karena yang lain ternyata lebih jelek lagi.

Ketiga, politik hati. Bila kita sepakat untuk membangun tahun 2014 menjadi lebih baik apalagi dengan aneka perhelatan politik yang menjadikannya sangat penting maka tidak bisa tidak, semuanya akan kembali kepada diri kita sendiri.

Yang dimaksudkan, mulai dari elit politik hingga masyarakat perlu secara bersama-sama, dari hati ke hati yang bisa kita artikan ‘secara empat mata’, membangun tekad untuk menjauhkan perilaku tak pantas yang selama ini menjadi kendala dalam membangun negeri ini.

Kita sadari bahwa semua kita telah turut dalam membangun atau paling kurang membiarkan realitas negatif itu meraja. Karena itu, dengan tanpa tendensi mempersalahkan yang lain tetapi secara sadar mengambil tanggungjawab untuk dapat memperbaiki mulai dari diri kita hingga lingkungan terkecil di mana kita berada untuk dapat secara perlahan menjadikannya pijakan untuk membangun sebuah bangsa yang lebih baik.

Bila kita mulai dari sini maka impian yang lebih besar, wajah yang lebih optimistik pada tahun 2014 akan terwujud. Semuanya hanya bisa terjadi kalau yang kecil dijadikan pijakan dan secara bersama menyatukan tekad untuk membuat sesuatu yang lebih besar demi kejayaan negeri ini.

Robert Bala. Diploma Resolusi Konflik dan Penjagaan Perdamaian pada Universidad Complutense de Madrid Spayol.

FloresBangkit 2 Januari 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s