19. Menyebut Leburaya…

Menyebut Lebu Raya…

Disebutnya Lebu Raya sebagai salah satu pemimpin muda potensial sebagai pemimpin nasional, menarik untuk disimak. Bagamana tidak? Jauh-jauh di tenggara Indonesia, seorang pemimpinnya, ‘disebut’ oleh tokoh Golkar sekaliber Siswono Yodho Husodo.

Sebagai orang NTT, siapa pun patut bangga. Atau dalam kata-kata gubernur kelahiran Adonara, 18 Mei 1960, penyebutan itu sebuah kebanggan karena ada tokoh NTT yang mulai didukung di level pusat. “Karena itu”, demikian Lebu Raya, “sebagai warga NTT tentu kita semua juga harus bangga karean ada orang NTT yang mulai ‘disebut-sebut’.”

Tetapi apakah realistis kebanggan itu? Apakah kita merasa ‘pas’ dengan sanjungan seperti itu? Atau  ia sekedar ‘celotehan’ kosong yang mestinya tidak menyerap energi oleh karena hidung kita ‘kembang-kempis’?

Orang “Baik”

Mencermati sejarah hidup Lebu Raya, maka ‘orang baik’ bisa menjadi inti yang menggambarkan baik sebagai pribadi maupun dalam kapasitas sebagai pemimpin NTT.benang kusut

Ia baik dari sisi pergulatan hidup dan meniti hidup dari bawah. Perjuangan untuk jalan kaki sejauh 10 km hanya untuk menempuh pendidikan di SMP Palugodam. Tekadnya meniti pendidikan di SMOA (kini SGO), juga patut disanjung.

Kebaikan itu terlihat dengan kembalinya ke Witihama baik sebagai guru (SMP Gotong Royong) maupun kemudian Kepala Sekolah pada sekolah yang ia dirikan sendiri (SMP Katolik Lamaholot 1912).

Kebaikan juga telah mewarnai hidupnya ketika harus kembali ke Kupang untuk meniti ilmu di FKIP Undana. Karena ‘dia baik’, keterpilihannya menjadi Ketua Senat FKIP (1988-1990). Ia pun jadi Ketua GMNI, lalu masuk PDI (1996), menjadi anggota DPRD malah Wakil Ketua DPRD.

Pada masa ini kebaikannya masih terlihat ekspresif melalui tugasnya sebagai dosen maupun tekadnya mendirikan Yasmara (Yayasan Masyarakat Sejahtera).

Jabatan lebih tinggi kemudian hadir begitu mengalir. Ikut terangkat berkat ketokohan Piet Allo, yang kemudian digantikan karena yang bersangkutan sakit dan meninggal. Ia pun hadir menjadi Gubernur (2008-2013) dengan menglahakan tokoh sekaliber Gaspar Ehok atau mengungguli wakilnya Esthon atau orang seperti Rotok yang kualitas dan kompetensinya (harus diakui) lebih baik darinya.

Tak cukup, mantan gubernur NTT, Ben Mboi, yang jadi gubernur pada umur 43 tahun, secara jeals mendukung Esthon. Baginya, tidak ada hal yang begitu kuat (seperti dirinya) yang menjadikannya bisa memimpin NTT.

Tetapi sejarah hidup tidak seperti itu, apalagi di provinsi yang sangat ‘kristiani’ itu. Dengan sedikit ‘merohanikan’ kepemimpinan Lebu Raya maka ayat suci yang diucapkan Maria itu sangat tepat untuk dikenakan: “Ia menurunkan orang yang berkuasa dari takhtaNya dan meninggikan orang-orang yang rendah” (Lk 1,52).

Kesimpulan biblis ini amat sulit disangkal. Fakta menjadi gubernur tiga periode (pertama melanjutkan masa Piet Tallo), adalah buktinya. Ia adalah orang baik yang telah telah, sedang, dan akan melaksanakn tuags sebagai gubernur.

Pemimpin Menonjol?

Adakah sesuatu yang ‘luar biasa’ yang menjadikan Lebu Raya patut dibanggakan bahkan ke level nasional? Mustahil bertanya demkian. Hadir hingga berkiprahnya Lebu Raya, selain kualitas diri (yang baik itu), tetapi tidak bisa dipungkiri adanya ‘kemujuran’ yang barangkali dalam kacamata iman disebut ‘garis tangan’ Tuhan. Hal seperti itu tentu tidak mudah diperoleh di level nasional.

Dalam konteks ini maka faktor penentu adalah kinerja yang ‘luar biasa’. Di sana tentu saja program seperti Anggur Merah (Anggaran untuk Menyejahterakan Rakyat) atau Gemala (Gerakan Masuk Laut) bisa disebut. Meski demikian efektivitasnya yang belum maksimal untuk bisa diadikan program unggulan yang memiliki gema secara nasional.

Dari sisi kepemimpinan, pengaruh sebagai ‘orang baik’ lebih menonjol ketimbang hadir sebagai figur ‘extraordinary’, dengan model kepemimpinan transformatif. Bahkan dalam kasus terakhir, seperti pemilihan Bupati Sumba Barat Daya atau Belu, yang terkatung-katung, tidak bisa dilihat sekedar egoisme politisi daerah tetapi juga sebagai tanda ambivalensi peran Lebu Raya sebagai gubernur atau kader PDIP.

Dalam kasus ini, ambivalensi peran itu seakan membenarkan, Lebu Raya adalah orang baik yang tidak mungkin membiarkan kadernya ‘kalah’. Ia punya solidaritas yang sangat besar dan akan konsisten dengan pertemanan yang baginya itu abadi dan bukan sekedar karena kepentingan.

Contoh lain juga bisa dilihat dari mutasi 545 orang pada enam bulan setelah pemerintahannya. Sudah pasti, di NTT banyak orang pintar karena itu jabatan itu mesti ‘dirotasi’. Tetapi ‘diistirahatkan’ orang-orang yang selama kampanye ‘idak sealiran’, sudah membuktikan yang dibuat Lebu Raya adalah hal standar: menghargai yang berjasa dan menghukum yang salah.

Dalam kondisi ‘kritis’ seperti ini sebenarnya kalau Lebu Raya ingin jadi pemimpin nasional, ia mestinya mengambil jarak. Ia mesti tahu bahwa ia akan dihargai masyarakat luar ketika sanggup keluar dari pertimbangan ‘balas budi’ kepada sebuah profesionalisme.

Keberanian Obama mengangkat saingannya Hilary Cliton (lawannya) sebagai menteri Luar Negeri adalah contohnya. Atau Jokowi mempertahankan kursikepala dinas yang sukses (meski tidak mendukungnya), atau Wali Kota Suarabaya Tri Rismaharani mempertahankan kepala dinas yang dulu sangat ‘anti’ dirinya jadi wali kota, akan dijempoli.

Hal-hal ‘di luar kotak’ seperti ini yang belum terlihat. Lebu Raya pun menjadi gubernur dalam ‘tataran normal’, wajar, dan dikagumi sebagai orang baik yang rendah hati dan tidak mabuk akan kekuasaan.

Pada sisi lain, kalau Lebu Raya ingin ‘naik lebih tinggi lagi’, ia tidak sekedar menghargai sesuatu dalam kewajaran tetapi perlu melampauinya untuk melakukan hal-hal yang tidak lazim. Di sini kata-kata Kenneth Tynan bisa benar: A good drama critic is one who perceives what is happening in the theatre of his time. A great drama critic also perceives what is not happening (Kenneth Tynan).

Hal-hal seperti ini menjadi kritik yang mestinya dipikirkan dalam empat tahun ke depan sebelum berhenti jadi Gubernur. Dalam periode ini, ia perlu ‘keluar dari tataran yang wajar’. Ia juga tidak akan begitu ‘terpesona’ dengan sanjungan (hanya karena disebut), tetapi sanggup dan berani melakukan hal-hal yang bisa jadi tidak disangka-sangka.

Kalau itu maka pemilu 2019 (karena 2014 terlalu dekat), kebanggan itu bisa benar terjadi dalam Lebu Raya. Tetapi bila ‘datar’ saja, maka ‘sebutan’ itu (dari siapa pun, apalagi itu hanya disebut bukan hasil penelitian), maka hanyalah hiburan yang tidak perlu dirisaukan.

Robert Bala. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol.
Sumber: Flores Bangkit 22 Februaru 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s