20. Lembata, Komunikasi Tak “Nyambung”

Lembata, Komunikasi Tak ‘Nyambung’

Di bulan Februari ini, dua peristiwa menarik terjadi di Lembata. Meski terjadi secara sporpadis dan terpisah, tetapi bila dikaji, ada hal menarik yang bisa diperoleh.

Yang satu, berkaitan dengan penolakan warga Labala (Leworajan) atas kedatangan Bupati. Hal itu berkaitan dengan pemilihan kepala Desa yang bermasalah dan (atau) rasa muak karena janji bupati yang tidak terwujud untuk membantu pendirian Mesjid (Flores Bangkit 6/02).

Kisah lain terjadi di Muraona-Ile Ape (Flores Bangkit 20/02). Masyarakat adat Lewohala sangat rindu untuk berdialog dengan Bupati. Tujuannya bukan lagi mempertanyakan galian arena balap yang telah menelan korban bocah, Alfons Hita. Mereka sudah diterima hal itu sebagai musibah.

Yang ditanyakan hanya siapa yang bertanggungjawab untuk menutup lubang tersebut? Bisa dipahami. Penggaliannya telah melibatkan pejabat terkait (Kepala Dinas Pariwisata) yang notabene bawahan langsung dari bupati. Menutupnya adalah sebuah reaksi cepat agar tidak lagi menelan korban.tak nyambung g

Sayangnya kerinduan bertanya itu tidak kesampaian. Sang Bupati yang kepadanya pertanyaan diajukan tidak ‘bersedia’ berdialog.

Akar Masalah

 

Dalam dua kasus di atas, mestinya yang menjadi penyebab jurang komunikasi adalah masyarakat sederhana. Dengan pengetahuan minim dan pendidikan yang ‘pas-pasan’, bisa dipahami kalau kendala itu datang dari mereka. Jelasnya, mereka tidak sanggup memahami ‘big design’ atau rencana besar yang ada dalam benak bupati.

Namun bila kita kritis, justru akar masalah ada pada Bupati. Ia menghalangi adanya komunikasi. Dalam kasus pertama, kekecewaan itu terdapat pada inkonsistensi terhadap apa yang dikatakan dan perbuatan yang dilaksanakan.

Hal itu mengingatkan kita pada Ramsey Clark: The measure of your quality as a public person, as a citizen, is the gap between what you do and what you say. Artinya, yang jadi kendala adalan (ketidak)konsistensian Bupati dalam menepati janji.

Dalam kasus kedua, pun sama. Rakyat bisa saja tidak paham bahwa hal itu adalah ‘kecelakaan biasa’ yang disebabkan oleh kelalaian orang tua menjaga anaknya. Tidak ada pemerintah yang ingin menggali kubur untuk siapa pun. Itu sangat jelas.

Tetapi kalau kita kritis, arena balap itu tentu tidak sekedar sebuah tempat biasa. Ia adalah sebuah proyek yang tentu saja spektakuler. Bayangkan, di daratan Flores saja agak sulit menemukan Kabupaten yang punya arena balap. Pembuatannya pun tentu bukan sembarangan.

Sayangnya, logika sesederhana itu yang oleh masyarakat ‘tak paham’ pun bisa paham, tetapi tidak sama halnya dengan sang bupati. Ia bisa saja punya agenda ‘padat’ sehingga tidak bisa memenuhi harapan untuk berdialog.Halitu dipahami rakyat dan karenanya agar memudahkan prosesnya, mereka sudah berjejer di pinggirjalan, tempat (yang diharapkan) akan dilewati Bupati.  Tapi itu pun tidak terjadi. Banyak jalan ke Roma. Bupati juga bisa pulang melalui jalan lain demi menghindari dialog tersebut.

Dalam kondisi ini bisa dipahami, keluhan akhir pada lewotanah terpaksa mereka lakukan. Upacara adat menjadi sebuah seruan pada tanah tempat kita berada yang menjadi benteng akhir. Ia berisi seruan, tangisan, keluhan akan ketidaknyamanan yang diperoleh.

Perlu Berubah

Apa yang perlu dilakukan dalam kondisi seperti ini di mana komunikasi antara rakyat dan pemimpin sudah ‘tak nyambung?’

Pertama, dua kasus terpisah tidak bisa dijadikan ukuran untuk menarik kesimpulan tentang krisis kewibawaan pemerintah di Lembata. Rakyat seakan tidak percaya lagi pada janji.

Tetapi itu tidak bisa dijadikan alasan bagi siapa pun untuk ‘menggoyang’ kepemimpinan Yantji Sunur. Terlalu picik berpikir seperti itu. Aksi menggoyang-menggoyang tidak kontributif pada masyarakat Lembata dan barangkali hanya ingin memudahkan ‘pesaing’ untuk ambil ‘berkah’.

Yang menjadi kegalauan kita, adalah pertanyaan tentang apa yang dikerjakan pemrintah? Meminjam kata-kata Nitin Hohiria: Communication is the real work of leadership maka di manakah kepemimpinan itu sehingga terjadi ‘gap’ atau jurang seperti itu?

Pertanyaan ini pun akhirnya bisa bermuara pada pengakuan bahwa yang terjadi di Lembata adalah absensi kepemimpinan. Hal itu bisa saja karena bupati yang menggunakan waktu begitu banyak untuk bepergian  yang tidak saja dinas tetapi juga mengunjungi keluarganya yang tidak ada bersamanya di Lembata.

Jalan keluar tentu lagi tuntutan untuk ada bersama lagi. Dengan ada bersama, ia akan lebih mudah ingat akan janji yang diucapkan. Dengan hidup bersama, ia pun (diharapkan) lebih cekatan melaksanakan  tugas pengawasan sehingga tidak sampai muncul korban jiwa seperti yang terjadi di Muraone.

Kedua, aneka reaksi masyarakat berupa penolakan hingga sumpah (serapah) yang dibuat masyarakat sederhana tentu bukan sekedar ‘aksi’ belaka. Ia adalah sinyal tentang ketidakpuasan yang tidak bisa dilihat secara terpisah sebagian kejadian sporadis. Ia merupakan ekses atau efek dari akumulasi kekecewaan atau rancang keliru yang diterapkan pemimpinnya.

Terhadap tanda tersebut tentu butuh penanganan cepat agar tidak meluas. Itu berarti butuh keterbukaan untuk menjelaskan segala sesuatu tanpa ada tendensi menutup yang merugikan dan sekedar membuka yang menguntungkan. Komunikasi ikhlas berusaha menempatkan segala sesuatu pada konteksnya.

Pada gilirannya, aneka trik tak elok telah begitu rapi tersusun dan ditenun begitu menarik, perlu dipinggirkan. Yang ada hanyalah mengedepankan kerja keras untuk mengutamakan yang terpinggirkan mengalami indahnya hidup di pulau yang katanya kaya kekayaan alam tambang.

Ketiga, perlu adanya pembaharuan radikal. Meminjam Paul J Meyer bahwa komunikasi adalah kunci sukses pada karir seseorang, maka hal ini harus sadari, komunikasi adalah awal dari kesuksesan. Ruang komunikasi perlu dibuka demi mengurangi aneka kecurigaan yang nota bene cukup memuncak di Lembaga.

Di atas komunikasi itu aneka kreativitas perlu dioptimalkan agar yang disampaikan adalah ‘kabar baik’ hasil kinerja pemerintah dan bukan isu tak sedap yang tentu tidak menguntungkan siapa pun. Kalau hal ini dimulai dari sekarang, mustahil Lembata jadi tempat yang nyaman untuk hidup dan ruang sukses bagi semua, termasuk pemimpinnya.

Robert Bala. Penulis Opini pada Harian Kompas.

Flores Bangkit 24 Februari 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s