25. Andaikan Aku “Caleg”

Andaikan Aku “Caleg”

Genderang kampanye sudah ditabuh. Selama 20 puluh hari ke depan (16 Maret – 5 April 2014), masing-masing caleg akan mengadu strategi untuk merebut simpati.

Tetapi sebagai sebuah perjuangan apalagi memerhatikan tidak sedikitnya caleg yang ingin merebut kursi yang terbatas, maka pertanyaan tentang peluang menjadi sangat penting.

Apa yang mesti dilakukan oleh seorang caleg dalam menyikapi peluang yang terjadi? Mustahil bertanya demikian. Kesuksesan terbayang sebagai harapan setiap caleg. Tetapi kegagalan yang sangat pahit mesti dipertimbangkan.

Dana tidak Sedikit

Biaya untuk bisa ‘lolos’ tentu tidak bisa dihitung dari sekarang. Meski kini dan terutama pada hari ‘h’, dana yang dikeluarkan makin banyak, tetapi pengeluaran sudah dihitung sejak proses awal untuk bisa masuk dalam daftar.

Tawar menawar hingga permintaan untuk menempati nomor-nomor awal dengan kemungkinan bisa dapatkan rezeki tentu saja telah dilaksanakan. Tentu bagi caleg yang sekedar ‘numpang’, tidak memperhitungkan hal itu.

Tetapi bagi yang ingin menjadkan arena legislatif sebagai peluang kerja, maka pengorbanan itu tentu tidak sedikit. Baginya tidak ada yang ‘main-main’. Atau maju atau mati.

Biaya yang dikeluarkan tentu tidak sedikit. Diperkirakan, biaya keseluruhan yang harus dikeluarkan caleg, adalah 1,5 miliar untuk DPR, Rp 750 juta untuk DPRD, dan Rp 350 juta untuk DPRD II.

Angka itu dianggap wajar. Bagi yang mau ‘sukses’, ongkos untuk pembuatan stiker, spanduk (kalau boleh baliho), kartu nama, dan lain-lain merupakan biaya minimal yang harus dikeluarkan.

Pada saat kampanye seperti ini biaya tetap untuk tim sukses tentu semakin besar. Belum terhitung lagi pada hari ‘h’ atau serangan fajar. Di sana para caleg semakin tak terkontrol lagi. Mau maju atau mundur sekalian.

Tentu saja perhitungan dana di atas lebih diperkirakan dalam konteks kota-kota besar. Di daerah seperti tidak sedikit kabupaten di Flores dana yang dikeluarkan tentu tidak sebesar itu.

Tetapi tidak bisa dibayangkan bahwa dana yang dikeluarkan tidak ada sama sekali. Puluhan juta itu minimal dana yang dikeluarkan. Itu biasanya dikeluarkan oleh caleg yang sekedar ‘adu nasib’. Tetapi untuk caleg ‘incumbent’ dan yang memiliki modal cukup, angka ratusan itu dianggap ‘wajar’.

Apabila dana yang disebutkan itu ‘logis’ adanya, maka pertanyaannya menarik adalah apakah ‘investasi’ seperti itu beralasan? Mustahil bertanya demikian. Dalam pikiran ‘waras’, dana ratusan juga apabial digunakan sebagai modal kerja maka jaminan kepastian usaha sudah ada.

Yang terjadi, dana itu belum pasti. Ia dialokasikan dengan catatan, bila terpilih maka dana itu akan perlahan dikembalikan (kalau itu berupa pinjaman). Terbayang, bila seorang anggota legislatif bila memiliki gaji sekitar Rp 6 juta per bulan, maka dalam waktu 5 tahun atau 60 bulan dana yang bisa masuk adalah Rp 360 juta rupiah. Itu berarti dana yang akan diperoleh selama 60 bulan sebanding dengan apa yang dikeluarkan kini.

Dari sisi ekonomis, meski kelihatan sama, tetapi mestinya dilihat berbeda. Dana Rp 350 juta kini tentu beda dengan Rp 360 juta setelah 5 tahun kemudian. Itu berarti yang dilakukan seorang anggota legislatif adalah kerja bakti belaka. Ia malah rugi pada akhirnya.

Pilih Mundur

Dari sisi hitung ‘untung-rugi’, maka yang paling logis dan waras dari caleg adalah mundur kini. Mengapa? Apa yang dikorbankan kini akan sejalan dengan kerja bakti selama lima tahun. Dengan demikian, jalan terbaik adalah ‘mundur’. Darinya bisa saja ada keuntungan yang diperoleh.

Mundur juga menjadi pilihan logis karena dengannya ia tidak dimasukkan ‘ke dalam pencobaan’ untuk melakukan tindakan-tindakan tak elok. Seorang legislatif misalnya, agar ia bisa punya ‘dana tambahan’, ia harus terlibat dalam mengurus proyek. Ia pun jadi calo yang menghubungkan eksektutif dengan pengusaha. Dana yang diperoleh pun tentu tidak sedikit.

Ada yang terdorong oleh idealisme, bisa saja kelihatan sangat ‘vokal’. Kalau hal itu ditempatkan dalam memperjuangkan kepentingan rakyat, hal itu patut dibanggakan. Tetapi dalam banyak hal, tingkat kevokalan itu lebih ditentukan oleh minimnya akses mereka terhadap dana. ‘Melibatkan’ mereka dalam proyek akan sekaligus ‘meredahkan’ protes yang selama itu dilansirkan.

Kenyataan ini telah mendorong P.J.O’Rourke’ untuk menulis: When buying and selling are controlled by legislation, the first things to be bought and sold are legislators. Ia melihat begitu mudahnya ‘membeli dan menjual’ legislator karena memang mereka terdesak oleh tuntutan keuangan untuk dapat hidup.

Pemahaman ini bisa dilihat sangat pesimistis dengan ‘negative thinking’ berlebihan. Kaum ‘optimistis’ melihat, ada banyak hal positif-konstruktif bisa terjadi karena setiap manusia itu berubah.

Pemahaman itu bisa saja benar. Tetapi mengutip Abraham Lincoln, kita tersadarkan bahwa orang yang ‘kemarin’ hadir menjdi anggota legislatif dengan motivasi tak murni, niscaya berubah. Ia tidak akan menjadi bijak kalau di masa lalu apalagi yang melatarbelakanginya menjadi legislatif adalah jalan tak bijak.

Berpijak pada pemahaman ini maka pilihan mundur adalah pilihan logis. Andaikan saya seorang caleg maka pilihan mundur adalah hal hal yang paling logis. Tetapi itu terjadi pada saya dan tidak sedikit yang masih menganggap kelogisan dan kewarasan sebagai tuntutan minimal.

Tetapi pada saat bersamaan, harapan itu tentu tidak harus hilang. Tidak sedikit yang masih ingin maju dan kini berjuang, tidak bisa digeneralisir. Ada juga meskipun sedikit caleg yang masih memberi harapan. Mereka bisa saja merupakan sekelompok kecil yang harus diberi peluang kali ini. Tetapi untuk mendapatkan mereka, hanya butuh Tuhan yang menerangkan pemilih dengan Rohnya agar di bilik suara, dapat membisikkan ke mara arah pilihan harus dijatuhkan.

Robert Bala. Pemerhati Sosial.
Sumber: Flores Bangkit 17 Maret 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s