26. Caleg Perempuan, Separuh Jiwa?

Caleg Perempuan, Separuh Jiwa?

Jauh di Selatan Maluku, Saumlaki, seorang ibu yang menjadi caleg sebuah parpol menelpon saya. Tujuannya untuk menanyakan pertimbangan saya untuk iklan yang akan ditayangkan di sebuah radio lokal.
Robert Bala. Pengamat Sosial, Penulis dan Kolumnis pada Harian Kompas. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca dan Universidad Complutense de Madrid Spanyol.

Robert Bala. Pengamat Sosial, Penulis dan Kolumnis pada Harian Kompas. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca dan Universidad Complutense de Madrid Spanyol.

Terbayang semboyan sebuah lembaga pemberdayaan perempuan yang berbunyi: “Dengan memberdayakan seorang ibu, maka sebuah keluarga diberdayakan.” Sebuah slogan yang tidak berlebihan. Membina seorang ibu berarti mengembangkan sebuah keluarga.

Anjuran iklan pun mengerucut pada kata-kata berikut: “Memercayakan seorang ibu ke Senayan, diharapkan dapat mewakili lebih banyak. Ia menyuarakan lebih banyak orang. Itulah hakekat seorang wanita”francisca E

Tetapi apakah hal itu dapat terwujud, demikian saya sendiri meragukan anjuran saya sendiri. Bagaimana memberdayakan perempuan agar mereka bisa memiliki kiprah lebih jauh dan memberi pengaruh lebih positif untuk negeri ini?

Dialog Memberdayakan

Sesungguhnya peluang berkiprahnya perempuan di legislatif tidak sulit, seandainya kaum lelaki menyadari hal itu. Sebagai kelompok yang memdominasi parlemen, bila mereka mengiyakan, maka hal itu akan terjadi.

Dengan kata lain, dengan kekuasaan yang ada padanya, bila tidak diwajibkan, maka lembaga legislatif itu akan sangat didominir oleh kaum lelaki. Di sana persaingan sangat menonjol. Suasana ‘panas’ dibakar emosi akan sangat menonjol karena sesama lelaki (meskipun tidak sedikit caleg yang membela diri dengan lagu: “tidak semua laki-laki”) ingin mengungkapkan keunggulan dirinya.

Yang terjadi akhirnya perggunjingan ide. Setiap orang akan lebih berusaha untuk memperkenalkan kehebatannya masing-masing. Suasana panas pun akan sangat terasa. Mereka baru bisa saling ‘diam’ ketika apa yang diinginkan masing-masing terpenuhi

Hal itu tentu berbeda dalam dialog dengan ‘lawan jenis’. Sebuah dialog yang lebih ‘tenang’ dan damai. Ada nuansa beda yang ditampilkan. Kalau pun dalam suasana ‘panas’, suara wanita bisa melerai emosi.

Tidak hanya itu. Dialog antara seorang pria dan wanita juga secara natural mendorong sang lelaki untuk membantu sang wanita. Terlepas apakah bantuan itu bertujuan luhur atau tidak tetapi minimal upaya saling membantu itu dapat mengarahkan kepada sesuatu yang bermakna.

Proses seperti itu mengingatkan kita pada dialog yang pernah terjadi antara seorang wanita dan seorang nabi. Kisah itu terjadi di pinggir sebuah sumur. Katanya, sang nabi itu kehausan. Ia pun meminta air kepada seorang wanita yang kebetulan punya gayung dan tengah menimba air.

Permintaan tulus itu ternyata tidak langsung dijawab. Sang wanita yang sangat paham akan adat istiadat tidak rela memberikan air. Pasalnya, orang dari suku lain tidak bisa diberikan begitu saja pertolongan.

Penolakan itu yang mestinya ditanggapi dengan kemarahan, ternyata dijadikan titik berangkat untuk terjadinya sebuah dialog. Dengan perlahan sang nabi mengantar sang wanita untuk memahami apa artinya air hidup yang dimiliki sang sabi itu.

Ada hal yang lebih menarik. Dalam dialog itu, sang nabi, tidak seperti kaum lelaki lainnya yang lebih menampilkan keunggulan diri. Ia justru mendampingi sang wanita untuk dapat menyibak dirinya termasuk kelemahan dirinya.

Sang wanita itu pun akhirnya memahami bahwa orang itu tidak sekedar orang biasa. Ia adalah seorang nabi dalam arti sesungguhnya. Sebuah dialog intens. Meski sempat murid sang nabi mulai ‘gosipin’ sang guru, tetapi baginya, sebuah dialog tulus lebih penting dari sekedar menghindari gosip.

Separuh Jiwa….

Masa kampanye seperti ini, sebuah proses dialog mesti dibuka. Dialog yang jujur yang berusaha menemukan dan membantu orang lain dan menjauhkan tendensi memanipulir orang lain demi kepentingan diri sendiri.

Sebuah dialog jujur akan ditandai oleh beberapa hal. Pertama, sumber dialog bersumber pada apa yang sudah dimiliki oleh lawan bicara. Dalam kasus wanita di pinggir sumur, ia memiliki panggayung dan air. Tetapi pengertiannya berhenti di situ. Sang nabi justru mengantarnya untuk memahami makna yang lebih jauh.

Dialog atau lebih tepat kampanye kadang berbeda pijakan. Sang caleg lebih suka menyampaikan apa yang ‘dia akan kerjakan’ dan lupa menyerapi aspirasi. Padahal kalau saja ia memiliki empati memerhatikan apa yang dikehendaki rakyat, dengan mudah ia diterima dan mengapa tidak, suara akan didepositkan untuknya.francisca nasdem

Kedua, dialog yang memberikan optimisme dan tanggungjawab. Sebuah dialog antara dua pribadi dewasa tidak berpretensi menggurui. Keduanya (Pembicara dan lawan) sudah memiliki realita hidup. Karena itu dalam dialog, perlu ditimbulkan optimisme untuk melanjutkan kehidupan dan memahami tanggungjawab yagn ada.

Kenyataan itu nyata dalam dialog antarapenulis dengan sang caleg. Ungkapan bahwa seorang ibu punya peran penting dalam keluarga adalah sebuah kenyataan. Yang diketekankan, bagaimana peran positif itu bisa dimaknai ketika sang ibu duduk sebagai parlemen di Senayan nanti. Diharapkan ia bisa menyuarakan lebih banyak sebagaimaan koderat kewanitaannya.

Ketiga, dialog perlu berjiwa. Sebuah dialog akan dirasakan manfaatnya ketika yang ‘bermain’ adalah jiwa. Di sana ada usaha untuk saling memahami jiwa partner. Hal itu didengungkan secara sangat jelas oleh Noah dalam lagu “Separuh Jiwaku.” Ia mengharapkan agar suaranya didengarkan, bukan karena ia ingin berbicara tetapi karena ingin menyurakan nuraninya.

Kenyataan ini tidak berarti menggeneralisir semua perempuan yang masuk dalam daftar caleg berhati mulia. Kenyataan terjebaknya beberapa politisi wanita seperti Angelina Sondakh, Chairunissa, sekedar menyebut dua perempuan anggota legislatif yang terjebak dalam kisaran korupsi, menunjukkan bahwa hal itu tidak menjamin, mereka bakal lebih baik dari lelaki.

Tetapi yang pasti, kehadiran mereka yang seimbang, melalui dialog yang lebih luwes dan terbuka, akan memungkinkan sebuah kontrol yang lebih kuat. Di sini kehadiran perempuan di Senayan sangat dibutuhkan. Hal itu tidak sekedar tuntutan kesetaraan jender, tetapi lebih pada keyakinan, kalau wanita itu lebih berkiprah, bakal separuh kemajuan akan diraih karena secara alamiah, perempuan tidak akan berjuang untuk dirinya sendiri melainkan untuk orang lain. Itulah esensi dan pembawaan seorang wanita yang mestinya dimaksimalkan di Senayan. Semoga
Sumber: Flores Bangkit 27 Maret 2014

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s