29. Turut Melahirkan JOKOWI

TURUT MELAHIRKANJOKOWI

Saya merasa berhutang menulis tentang proses ‘lahirnya’ Jokowi. Hal ini bukan karena ada keterikatan dengan partai tertentu (sampai saat ini saya bukan anggota partai mana pun) atau pun ada interest tertentu.

Bagaimana Jokowi yang awalnya hanya walikota bisa tembus menjadi gubernur DKI dan kini jadi capres? Mengapa figurnya yang sederhana itu ditakuti oleh petinggi parpol yang hampir punya segalanya (uang dan media)?

Percikan Api

Tonggak kepemimpinan PDIP, dengan Megawati sebagai Ketua Umumnya kini, tidak terlepas dari Kongres III pada April 2010 di Sanur Bali. Saat yang paling penting ini penulis diminta mengambil bagian sebagai pemateri. Topik yang disodorkan dalam Term of Reference (TOR) pun cukup menantang: Pembangunan yang Mengutamakan “Wong Cilik”, di Amerika Latin.SEPERTI JOKOWI

Upaya menyiapkan makalah tentu tidak mudah. Apalagi di seminar itu akan disaksikan oleh orang-orang hebat PDIP yang menjadi pembicara terkenal di media. Sebuah pemandangan menarik terlihat. Di hadapan penulis sempat diingat beberapa nama beken seperti Budiman Sujatmiko, Ganjar Pranowo, Tjahjo Kumolo, dan lain-lain.

Ketika tiba saatnya, sebuah pemandangan tak enak dihadapi. Di tanggal 8 April 2010 itu, penulis menjadi pembicara terakhir dari tiga pembicara. Apalagi dua pemakalah sebelumnya hadir dengan penampilan yang sangat memukau telah hadir.

Lalu apa yang bisa dihadirkan dalam waktu yang dibatasi hanya 15 menit itu? Sebuah akal licik pun muncul. Makalah yang panjang itu harus dipersingkat. Saya hanya mengambil satu poin rekomendasi yang kebetulan belum disentil pemateri sebelumnya tentang pengalaman Amerika Latin (terutama di Brazil, Uruguay, dan Chile) melahirkan pemimpinnya.

Luiza Erundina, wali kota Sao Paulo yang sangat menentukan. Dari tangan dinginnya mengatasi Sao Paolu yang akrab dengan kemiskinan, perlahan melahirkan Lula da Silva yang kemudian menjadi Presiden Brazil selama dua periode.

Di Uruguay, ada Tabare Vasquez. Awalnya ia hanya seorang wali kota Montevideo. Dari dedikasinya, Montevideo yang disebut kota mati, gelap, berubah menjadi kota hidup dan penuh terang. Saat memilih presiden, tidak ada keraguan untuk mengangkat orang yang sudah terbukti.

Michelle Bachellet dan Sebastian Piñera di Chile juga melewati proses yang hampir sama. Kerja sosialisme yang sangat cekatan dari bawah kemudian melahirkan kepercayaan masyarakat Chile.

Semua contoh ini menunjukkan bahwa pemimpin hebat dari Amerika Latin itu pada awalnya hanyalah pecikan api kecil. Tetapi denagn cekatan dilihat sebagai awal dari sebuah semangat dan cepat ditanggapi sehingga api itu membesar. Tak heran, perlahan ia telah meluas ke Amerika Latin dan menjadikannya benua yang menyalah alias ‘continente en llamas’.

Turut Lahir

Sebagai rekomendasi dari kesempatan yang sangat singkat itu, penulis menampilkan bahwa PDIP yang sudah dua periode sebagai ‘oposisi’, kalau ingin jadi pemenang dalam Pilpres pada 2014, maka perlu mencari di antara pemimpin (walikota) di daerah yang memiliki kinerja cemerlang.

Dengan cekatan, seorang hadirin menyambut dengan menginformasikan bahwa PDIP punya banyak tokoh, salah satunya di Solo – Surakarta. Disebutkan sebuah nama tetapi tidak sempat saya tulis karena nama itu sedikit asing.

Nama itu baru teringat kembali saat pilkada DKI, dengan menghadirkan walikota Solo, Joko Widodo. Teringat bahwa dua tahun sebelumnya sudah disebutkan dalam muktamar PDIP di Bali itu. Prosesnya pun menjadi sangat tak terbantahkan. Meski ‘dihajar’ hampir oleh semua partai politik, ‘disikat’ oleh koalisasi yang ‘sangat gemuk’, tetapi hal itu tidak memakan ‘si kurus’ Jokowi. Ia hadir sebagai pemenang, bahkan pada putaran pertama.

Dua tahun setelah Pilkada, ‘si kurus’ itu pun dihadirkan kembali. Memang di satu pihak, rasanya belum cukup karena Jakarta belum dibenani. Tetapi momen yang dihadirkan mengharusnya PDIP membuat pilihan. Ia pun dihadirkan sebagai capres dengan popularitas yang sangat tinggi dan kapabilitas yang sudah terbukti pada level sebelumnya. Ia pun hadir sebagai salah satu dari dua kandidat kuat menjadi presiden.

Narasi tentang Jokowi, tentu tidak punya pretensi memengaruhi siapa pun apalagi rakyat Indonesia yang sudah sangat cerdas menentukan pemimpin. Ia hanya mengingatkan bahwa nasionalisme yang berasal dari kata ‘nascere’ artinya melahirkan, perlu dibangun dengan titik sentralnya pada pemimpin yang sungguh lahir dari bawah dan dibuktikan di rahim daerah hingga akhirnya menjadi pemimpin nasional demi mengamankan nasionalisme bersama.

Hal ini membuktikan dan perlu menjadi kesadaran bahwa seorang pemimpin nasional bukan diukur dari hal-hal besar yang dibuat dari atas kemudian diiklankan, tetapi sejauh mana ia telah membuktikan dari hal yang paling kecil. Dari hal terkecil itu ia menunjukkan bahwa dalam dirinya tidak ada kepalsuan apalagi polesan yang mengelabui melainkan sebuah sodoran keaslian dirinya yang perlu dipertimbangkan.

Hal itu terlihat bagaimana ia membangun keluarganya, apa adanya. Di lingkup terkecil masyarakat yakni keluarga, seseorang telah mampu menjadi pemimpin rumah tangga, bapak keluarga yang mampu menjaga keutuhan rumah tangga. Di sana ia akan dipercayakan tugas yang lebih luas mulai walikota, gubernur, dan siapa tahu presiden.

Kedua, ketulusan, apa adanya, keikhlasan, merupakan figur yang pas untuk merawat keberagamaan. Bhinneka Tunggal Ika butuh figur yang tulus yang bisa menjadi tempat berlabuh dari pluralitas. Di sana semau menemukan kesatuan dalam keberagamanan.

Memang pada masa lampau, kesatuan itu identik dengan tangah besi, keras, kuat, untuk menyatukan (memaksakan persatuan). Untuk masa itu penting karena cobaan untuk desintegrasi itu begitu marak. Kini yang dibutuhkan adalah kesederhanaan dan ketulusan, hal mana lahir dalam figure sederhana, jangkung, kurus, tetapi ikhlas dan murah senyum, Jokowi.

Ketiga, Bangsa ini harus lebih besar. Nasionalisme perlu dibangun dan terus dikembangkan. Kelahiran pemimpin seperti ini dibutuhkan saat bangsa ini tercabik oleh aneka interes dan politik transaksional murahan yang lebih mengutamakan bagi-bagi jabatan ketimbang nasib bangsa. Sebaliknya, hajat hidup orang banyak, kesejahteraan menyeluruh dalam arti sesungguhnya (bukan sekedar iklan) perlu lahir dari pemimpin kini.

Dalam konteks ini penulis sudah merasa puas, siapa pun terpilih, yang terpenting telah turut melahirkan salah satu dari dua kandidat yang kini menjadi capres, Jokowi. Siapa pun yang terpilih (tergantung pada suara hati), yang terpenting penulis telah turut melahirkan salah satu untuk dihadirkan sebagai alternatif untuk dipilih.

Tetapi akhir dari proses ini tentu tidak sekedar memilih pemimpin melainkan sebuah revolusi menyeluruh. Dalamnya mental seluruh bangsa harus turut lahir karena di sana ide cemerlang akan ditanggapi dan diperluas menjadikan Indonesia kian kuat.

Flores Bangkit 22 Mei2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s