30. Prabowo atau Jokowi?

PRABOWO ATAU JOKOWI

Duel pilpres, Prabowo dan Jokowi sebentar lagi dilaksanakan. Dua putera terbaik Indonesia, Prabowo Subianto dan Joko Widodo menjadi pribadi paling banyak dibicarakan. Sudah jelas, keduanya adalah putera terbaik yang dimiliki dan salah seorangnya harus terpilih menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono.

Lalu siapakah yang akan terpilih? Apakah pribadi tegas, beride cemerlang, tampil gagah berani dalam diri Prabowo ataukah figure merakyat, sederhana, dengn senyum tulus seperti Joko Widodo? Inilah pertanyaan berat yang dihadapi tidak anak bangsa karena harus menjatuhkan pilihannya.

Cerdas dan sosialis

Sebagai putera begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo, cucu Raden Mas Margono Djojohadikusumo, anggota BPUPKI dan Bank Negara Indonesia serta ketua DPA, maka Prabowo tentu saja mewarisi pemikiran kritis dan kreatif yang di satu pihak terus menjaga benang sejarah tetapi juga punya pemikiran cemerlang ke depan.

Kecemerlangan berpikir itu bukan saja terwaris tetapi sungguh dikembangkan dalam diri lulusan Akademi Militer Magelang tahun 1974 itu. Dengan umur sangat belia, ia sudah memimpin operasi Tim Nanggala di Timor Timur. Saat berpangkat Letnan Kolonel, 1992, yang menangkap Xanana Gusmao.

Kepiawaian dalam karir militer hingga menjadi Komandan Jenderal Pasukan Khusus (Kopassus), malah Panglima Komando Cadangan Strategi Angkatan Darat (Kostrad) menunjukkan kualitas dirinya. Memang ia diuntungkan oleh statusnya sebagai menantu Prsiden Soeharto, tetapi kualitas diri seperti ini tidak bisa disangkal. Apalagi Soeharto terkenal sangat menjunjung tinggi profesionalisme, terlepas dari kedekatan kekeluargaan atau kesamaan budaya dan agama.

Jiwa dan inisiatif itu tentu belum lengkap kalau tidak disebutkan peran ibunda, Dora Marie Sigar, yang keturunan Manado. Sebagai ibu yang mendalami ilmu keperawatan di Utrecht, Belanda, tentu saja sikap sosial dan merawat hidup itulah yang juga mengalir dalam diri Prabowo.

Tak heran, kegiatan sosial, seperti posisinya sebagai Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) sejak 2004 atau Ketua Asosiasi Pedagan Pasar Seluruh Indonesia (APSI), sejak 2008 adalah contoh keterlibatan dalam bidang sosial.

Tidak salah, kalau Prabowo dikategorikan memiliki dua hal sangat penting yakni secara ke dalam, sangat cerdas dan sosialis. Cerdas mengandaikan pribadi yang selalu tidak puas. Ia selalu mencari dan terus menelusuri. Di sana ia membangun keyakinan yang kuat. Pada saat bersamaan, ia sadar, kebenaran yang diperoleh diperuntukkan bagi kebaikan orang. Keterlibatan sosial merupakan ekspresi paling nyata.

Sederhana dan Tulus

Dari sisi latar belakang keluarga, Jokowi tidak ‘seberutung’ Prabowo. Mulyono, nama kecil Jokowi, berasal dari keluarga sederhana dari Karangayar, pasangan Noto Mihardjo (seorang tukang kayu) danSujiatmi.

Seluruh proses pendidikan dari SD hingga SMA dilalui dengan susah payah. Ia berjalan kaki (saat teman-temannya bersepeda), mengalami penggusuran hingga tiga kali, ingin sekolah di SMAN 1 Surakarta tetapi tidak terwujud dan akhirnya belajar di SMAN 6 Surakarta adalah contoh kemiskinan yang selalu ada bersama Jokowi.

Pendidikan tinggi yang dilaluinya di UGM tidak lepas dari bidang yang berhubungan dengan kayu yakni hutan. Hal itu pula yang digelutinya setelah berhenti dari BUMN PT Kertas Kraft Aceh yakni dengan mendirikan CV Rakabu.

Kepiawaian dan keseriusan menata bisnis furnitur inilah yang diaplikasikan saat terpilih jadi Wali Kota Solo, 2005. Ia tidak melakukan selain menata, ‘merebanding’ Solo sehingga akhirnya menjadi kota budaya, kota batik, hingga tuan rumah Festival Musik Dunia.

Hunjuk kinerja kerja inilah yang tidak membimbangkan siapa pun di Solo dengan memberi suara 90,09% kepercayaan kepada Jokowi untuk menjadi wali kota periode kedua. Kesuksesan ini pula yang mengantarnya jadi Gubernur DKI, kota tempat kaum cerdik pandai. Di atas kertas, Jokowi tidak punya apa-apa untuk menandingi Fauzi Bowo yang punya lulusan doktor dari Jerman dan punya dukunan ‘full’ semua parpol.

Di ibu kota negeri ini, Jokowi menunjukkan bahwa ia bukan sekedar produk popularitas dan dukungan media. Aneka program seperti pembenahan transportasi umum, rotasi jabatan, normalisasi waduk dankali, pemenahan pemukiman, pembenahan pendidikan dan ksehatan, hingga Jakarta sebagai kota Festival, adalah bukti yang sangat jelas.

Aneka gebrakan sebenarnya hadir menunjukkan bahwa kepribadian sederhana telah melahirkan hal-hal sederhana tetapi digeluti dengan kesungguhan. Tidak hanya itu. Perlahan aneka dukungan mengalir karena tahu bahwa yang ada pada pria kurus kerempeng itu hanyalah ketulusan dan itu sudah terbukti dan karenanya ia pantas menerima kepercayana lebih tinggi.

Tegas atau Inspiratif?

Dua putera terbaik dengan kualifikasi luar biasa harus diakui bisa saja membingungkan pemilih. Apalagi muncul pengandaian kalau kualitas diri itu bisa diintegrasikan dalam diri seorang saja. Indonesia akan kuat ke dalam oleh inspirasi sang pemimpin yang menata dengan keikhlasan dan ketulusan dan secara perlahan menunjukkan identitas diri ke luar. Ia berdaulat dan tidak akan didikte oleh negara mana pun.prabowo jokowi

Tetapi dalam politik, pilihan harus dijatuhkan. Di sana dua kemungkinan harus diambil. Memilih ketegasan mengandaikan bahwa bangsa Indonesia sudah terfriksi dalam aneka gerakan yang saling menjatuhkan. Sebuah persepsi yang tidak salah. Ada banyak pribadi pengacau yang merusak negeri ini tidak saja dengan perbuatan tetapi juga dengan kata rasis yang ingin memecahbelah negara dengan ide sesat. Terhadap mereka, kehadiran Prabowo akan sangat menakutkan. Suasana ‘tenang dan damai’ era Soeharto sangat mudah tercipta bila Prabowo terpilih.

Tetapi kalau kita kritis, lebih banyak negeri ini yang baik dan hanya sedikit saja yang belum memahami kebangsaan secara baik. Karena itu tidak bisa hanya kepada yang sedikit itu, kita bertindak ‘tegas’, hanya agar mereka menerima kebhinekaan, seperti yang lainnya. Itu berarti yang lebih dinanti negeri ini adalah pribadi inspiratif yang memulai sesuai dengan kesederhanaan, mengawali dari hal-hal kecil dan meluaskannya secara sistematis dan struktural dan perlahan meluas menjadikan negara ini bertumuh dan berkembang secara cepat dan tepat.

Dalam konteks ini harus kita akui bahwa Jokowi sudah membuktikan dirinya dari level keluarga, kota, ibu kota, dan kini sebuah negera. Pertimbangan untuk dirinya pun dirasa bukan sekedar pilihan tetapi sebuah keharusan, kalau boleh dibilang demikian.

Flores Bangkit 31 Mei 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s