31. Suara Rakyat

Suara Rakyat

Vox Populi, suara rakyat. Demikian slogan yang sangat terkenal. Ia ditambahkan dengan penegasan bahwa ia adalah suara Tuhan (Vox Dei). Hal itu telah menjadikan semboyan ini ‘laris-manis’.

 

Tetapi semboyan ini sesunggunya tengah diuji di negeri ini. Kiblat para wakil rakyat yang ternyata berbanding terbalik dengan harapan rakyat mendorong untuk direfleksikan kembali peran mereka.

Sebuah Kerinduan 

Rakyat, sebuah sebutan yang tidak mengarah kepada sekelompok orang. Ia menunjuk kepada begitu banyak orang. Ia mewakili kelompok tak terhitung.  Mereka punya wajah tetapi karena begitu banyak orang maka nyaris bisa diidentifikasi. Menyebut rakyat merujuk kepada satu kesatuan yang mewakili sebuah harapan.

Istilah rakyat juga sekaligus mengungkapkan sebuah kelompok yang loyal. Ia merelakan dirinya dipimpin untuk satu jangka waktu tertentu.

Pada saat bersamaan, mereka juga mengharapkan agar pemimpin bisa mengayomi, memimpin, dan membimbing. Bisa dipahami dengan begitu banyak orang, butuh kehadiran yang bisa mendatangkan ketertiban dan membawa kedamaian serta ketentraman.

Sebagai kelompok yang kadang disebut juga ‘anonim’ alias tanpa nama, maka rakyat bersifat sangat variatif. Meski demikian mereka disatukan oleh hal yang sama yakni kerinduan. Semua mereka punya harapan dan kerinduan agar terwujudnya nilai-nilai yang mampu memungkinkan semua orang hidup dan berkembang secara baik.

Rakyat karena itu mempunyai kerinduan yang universal. Kerinduan agar tercapai sebuah kemajuan tanpa meminggirkan apalagi mengorbankan orang lain. Ia punya kerinduan agar mereka yang paling tersisih dan terpinggirkan justeru mendapatkan tempat.

sura rakyatKerinduan yang selalu memosisikan diri pada ‘korban’ inilah yang menjadikan kerinduan rakyat tidak pernah kosong. Ia mewakili sebuah harapan mendasar yang sangat dirasakan. Karena itu kerinduan itu sungguh bermakna.

Orang Lain mengartikannya secara sangat mendalam: desiderium humanum: kerinduan manusiawi. Sebuah kerinduan yang mewakili hasrat terdalam. Ia tidak egois melainkan altruis yang mewakili sesama dalam merinduakn sesuatu secara hakiki.

Hal itu berbeda dengan pemimpin atau bahkan orang yang mengklaim diri mewakili rakyat. Gambaran selalu diartikan sebagai orang yang lebih. Mereka punya kualitas diri yang lebih tinggi dan karena itu bisa memimpin orang lain.

Karena jumlah yang lebih kurang, kehadiran pemimpin itu bisa diidentifikasi. Wajah mereka pun bisa dibayangkan. Selebihnya, tidak berlebihan kalau jumlah yang terbatas lebih muda ‘diatur’ atau ‘mengatur dirinya’, hal mana kerap ditakuti ketika mereka sudah sepakat untuk hal yang menguntungkan dirinya dan merugikan orang lain.

Tidak hanya itu. Mereka punya keinginaan tetapi belum tentu mewakili orang yang diwakilkan. Tak heran, apa yang diinginkan bisa saja berbeda dengan yang diharapkan rakyat. Selain itu, tidak sedikit ‘pertimbangan’ yang pada dasarnya tidak mewakili aspirasi rakyat.

Pertanyaan menggelitik, apakah rakyat yang karena terlalu banyak kemudian diwakilkan oleh sejumlah orang yang disebut ‘wakil rakyat’, bisa menyatukan dua elemen antara rakyat dan pemimpin?

Kenyataan menunjukkan bahwa ternyata suara mereka berada dalam ambang bahaya. Selama kampanye mereka begitu dekat dengan rakyat, tetapi sesudahnya mereka lebih ‘dekat’ dengan kekuasaan. Nama mereka sebagai wakil rakyat akhirnya berbanding terbalik dengan praksis keberpihakan mereka.

Kembalikan

Praksis politik yang sangat kontradiktif akhir-akhir ini menunjukkan bahwa diperlukan upaya mereposisikan kembali peran wakil rakyat maupun membangkitkan kesadaran tentang ketimpangan yang terjadi.

Pertama, kebijakan populis mestinya melibatkan rakyat. Artinya, kemenangan dalam pemilu hendaknya lebih kuat daripada ‘deal-deal’ yang dibuat di parlamen. Mengapa? Kemenangan rakyat para pemilu lebih menunjukkan sebuah harapan.

Kenyataan akhir-akhir ini justeru bebanding terbalik. Keputusan besar termasuk juga suara rakyat dalam pilkada diputuskan berdasarkan ‘deal-deal’ wakil rakyat. Sebuah kontradiksi mengingat wakil rayat belum (tidak) mencerminkan kerinduan rakyat.

Kedua, kontradiksi dalam penerapan hal penting tentang rakyat mestinya memunculkan kesadaran tentang penentuan pendapat rakyat secara langsung. Artinya, sebuah kepentingan yang bersifat hakiki seperti kebebasan berpolitik tidak bisa ditentukan oleh ‘deal’ orang terbatas yang dalam kenyataannya penuh trik.

Kenyataan ini mestinya sangat disadarkan untuk selanjutnya diharapkan memunculkan kesadaran umum. Rakyat tidak bisa tinggal diam. Gerakan ‘people power’ harus menjadi sebuah gaung yang tidak bisa dibiarkan begitu saja.

Ketiga, harapan akan berkuasanya suara rakyat bagaimana pun merupakan sebuah ideal yang butuh waktu untuk diwujudkan. Dalam kondisi seperti itu, butuh kecakapan untuk tidak saja mendapatkan hal terbaik tetapi terutama untuk menghindarkan hal yang lebih buruk.

Kekuatan diplomasi diharapkan dapat menjadi sebuah elemen yang dapat memperoleh atau menghindarkan hal yang lebih buruk. Kenyataan itu harus diakui tidak dilakukan secara maksimal oleh Koalisi Indonesia Hebat. Idealisme itu tidak membumi hingga dalam perhelatan terakhir ia justeru tidak memperoleh apa-apa, selain kemenangan yang nota bene adalah pilihan rakyat.

Realitas politik itu mestinya membangunkan kesadaran dalam partai politik untuk tidak saja berkutat pada ‘koalisis tanpa syarat’ karena mereka harus tahu bahwa itu pun merupakan sebuah syarat. Tidak ada pilihan yang netral karena semuanya memiliki keterkaitan.

Kenyataan itu mestinya menyadarkan bahwa memperjuangkan suara rakyat mestinya disadarkan dalam dua posisi. Pertama, memperjuangkan kepentingan rakyat sebagaimana mereka kehendaki. Dalam konteks ini upaya memperoleh yang terbaik harus jadi pilihan.

Tetapi memperjuangkan rakyat juga harus dipahami dalam usaha untuk menghindarkan bahaya yang bisa terjadi pada rakyat. Bila dihadapkan pada dua kondisi yang tidak menguntungkan maka semestinya yang lebih buruk yang harus dihindarkan.

Dua hal inilah yang jadi pembelajaran penting.

Sumber: Flores Bangkit 08 Oktober 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s