32. Kontradiksi Jembatan “Palmerah”

Kontradiksi Jembatan “Pelmerah”

Sebuah karya monumental bakal terukir. Sebentar lagi, pantai palo, Sarotari (Flores Timur) dan Tanah Merah  (Adonara) akan disatukan. Jembatan yang diberi nama Palmerah akan menjadi penyatunya.

Sebuah rasa terimakasih bakal tertuju pada Frans Lebu Raya. Putera Adonara ini tidak sia-sia ‘duduk’ di pemerintahan Provinsi NTT selama 15 tahun. Ia dikenang karena berkat jembatan ini, tidak saja angka kecelakaan lalulintas dapat berkurang secara signifikan (mengingat selat ini sangat berbahaya), tetapi juga Adonara akan lebih terintegrasi dengan Flores. Aneka konsekuensi positif bisa dideretkan.JILBAB 2 jembatan-suramadu-5

Tetapi, apakah jembatan itu begitu urgen dan penting? Apakah integrasi dengan Flores adalah kondisi utama demi pengembangan Adonara? Apakah hasil positif yang (rencananya) akan dicapai itu tidak menyalahi realitas sebagai negeri maritim?

Tak ‘Nyambung’

Dibanding dengan biaya yang pernah dikeluarkan untuk pembangunan Jembatan Suramadu yang sepanjang 5.438 yang menelan biaya 4,5 trilun, maka jembatan  PALMERAH terhitung relatif kecil.

Lebih lagi kalau dibandingkan dengan rencana anggaran yang telah dikeluarkan untuk pembangunan jembatan Selat Sunda demi menghubungkan Jawa dan Sumatera. Di sana dialokasikan sekitar Rp 100 triliun. Karena itu rasanya tidak pantas membandingkan ‘jembatan kecil’ itu dengan maha karya lain di Indonesia.

Tetapi ketika dilihat dalam konteks lokal, rasanya karya itu kontradiktoris. Maksudnya, alokasi anggaran itu akan terlihat mencolok ketika dibandingkan dengan infrastruktur yang ada di dalam pulau itu sendiri.

Di pulau seluas 509 km2 dengan penduduk sekitar 169.000 jiwa itu, ditemukan sebagian besar jalan dalam keadaan rusak. Jalan-jalan itu tidak terbangun dengan baik yang menyulitkan transportasi dalam pulau sendiri.

Kenyataan itu mestinya menjadi perhatian pemerintah NTT. Ia tentu paham bahwa sesuai data Dinas PU (Balnustra Oktober 2013), dari 1407 km, 20%nya  atau 281,4 km dalam keadaan rusak parah.

Hal itu tidak beda dengan jalan provinsi yang totalnya 1743 km, 70% atau 1220,1 km dalam keadaan rusak, di antaranya 88 km rusak ringan, 678 km rusak sedang, dan 454 rusak berat.

Gambaran makro itu tentu tidak berbeda malah lebih parah terlihat di pulau seperti Adonara. Terlepas apakah namanya, entah jalan negara, provinsi, atau kabupaten, kondisinya tentu sangat memprihatinkan. Itu berarti, permasalahan yang sangat ugen yagn dihadapi masyarakat NTT khususnya Adonara adalah jalan di dalam pulau.

Berpijak pada pemahaman ini, rasanya tidak ‘nyambung’ ketika Pemerintah Provinsi, dalam hal ini Lebu Raya begitu ‘getol’ ingin mendirikan jembatan Palmerah. Terlihat bahwa realitas di lapangan berbeda dengan tawaran solutif. Di situ logika sederhana akan langsung terlihat bahwa yang dicari bukan jawaban atas masalah tetapi lebih mencari sebuah karya monumental yang akan menjadikan seorang pemimpin dikenang.

Integrasi Fisik?

Hal yang kerap dijadikan alasan pembangunan jembatan Palmerah tentang integrasi kawasan antara Flores dan Adonara (dan nantinya Lembata), belum lagi terhitung alasan menghindari kecelakaan yang sering terjadi di selat berbahaya itu, bisa saja diperhitungkan.

Dengan tersambungnya Adonara dengan daratan Flores maka arus pergerakan barang dari Adonara ke Flores akan lebih lancar. Kendala laut bisa diatasi dengan mudah. Dengan itu hasil dari Adonaa yang selama ini dianggap sebagai ‘gudang’nya Flotim bisa terangkut dengan lebih mudah.

Dalam konteks ini, alasan itu bisa diterima sebagai sebuah kewajaran. Perubahan secara fisik secara makro akan segera terlihat. Namun, apakah hal itu berimbas langsung kepada masyarakat?

Sebuah kegalauan akan muncul karena hadirnya jembatan Palmerah tidak memberikan jaminan peningkatan kesejahteraan rakyat. Pada sisi lain, bila dibnadingkan Adonara dan Flores sebagai pulau, pertanyaan tentang keuntungan dari integrasi kawasan sulit dipertanggungjawabkan.

Jelasnya, apa yang bisa Adonara terima dari Flores untuk menunjang kemajuan Adonara? Apakah Flores secara fisik lebih baik dari Adonara? Dalam banyak hal, justeru keutamaan yang dimiliki masyarakat Adonara terutama keutuhan dan kekompakan dalam membangun kampungnya sulit ditemukan di daratan Flores.

Berpijak pada alasan di atas maka pembangunan jembatan Palmerah itu mesti dikaji ulang. Jelasnya, minimnya janji keuntungan dan kemakmuran bagi masyarakat akan sulit dipertanggungjawabkan. Dengan demikian ketika dipaksakan maka akan terlihat bahwa ia tidak dibangun atas dasar kebutuhan masyarakat melainkan lebih menjadi sebuah proyek raksasa dari atas yang bisa saja dipaksakan demi mengejar nama.

Kalau itu  yang terjadi maka sebuah kesadaran baru harus dibangun. Artinya, pemerintah kabupaten mapun provinsi dan terutama Lebu Raya sebagai putera daerah perlu mengkaji ulang. Bila yang dicari adalah ‘nama’ maka nasihat Chuck Palahniuk, bisa jadi peringatan. “We will’be remembered more for what we destroy tan what we create” (Kita akan dikenang oleh apa yang kita rusakkan daripada apa yang kita ciptakan).

Itu berarti pembangunan jembatan Palmerah sama sekali tidak menjanjikan sebuah nama besar. Yang pasti, ia lebih menghadirkan sebuah kegalauan untuk tidak mengatakkan pengrusakkan. Tatatan masyarakat Adonara yang ada lebih membutuhkan adanya jamahan sehingga secara internal lebih kompak.

Dengan demikian pembangunan infrastruktur jalan di Adonara akan lebih penting dan mendesak ketimbang membangun jembatan baru yang bisa saja lebih menguntungkan orang lain daripada orang Adonara sendiri. Bersambung Sumber Flores Bangkit 10 Januari 2015

7 Responses to 32. Kontradiksi Jembatan “Palmerah”

  1. Martinus says:

    Terlepas dari hanya untuk mencari nama ataupun apa alasannya bahwa, saat ini kami anak adonara sangat berterimah kasih atas perjuangan keras Bapak Lebu Raya yang berhasil membangun jembatan penghubung yang sangat kami butuhkan demi kelancaran transportasi dan meminimalisir kecelakaan laut yang sering terjadi. Masalah jaminan peningkatan pendapatan penduduk adonara kami nyakin bahwa ketika pembangunan jembatan ini terealisasi maka otomatis diikuti degan peningkatan pembangunan sarana lainnya dan itu tak mungkin lepas dari peningkatan pendapatan penduduk. Untuk itu bagi pihak – pihak yang merasa tidak sepaham dengan rencana pembangunan ini sebenarnya adalah ungkapan perasaan kekecewaan atas kebijakan pemerintah yang mungkin tidak menguntungkan bagi diri pribadi maupun kelompoknya.

    • robert25868 says:

      Terimakasih Pak Martin atas pendapatnya. Setiap kita bisa berbeda pendapat, sebagai upaya mencari yang terbaik. Konsep pembangunan jembatan antarpulau adalah menjadikan pulau bak sebuah benua. Sebuah konsep ‘daratan’. Yang jadi pertanyaan, apa kaitannya dengan negara bahari? Kita adalah negara kepulauan. Selat dan laut harus dilihat sebagai penghubung dan bukan pemisah. Kalau lihat sebagai pemisah, maka dibangun jembatan. Tetapi bila sebagai pemerstau maka yagn dikembangkan adlaah mengoptimalkan laut. T

    • robert25868 says:

      Terimakasih Pak Martin atas pendapatnya. Setiap kita bisa
      berbeda pendapat, sebagai upaya mencari yang terbaik. Konsep pembangunan jembatan antarpulau adalah menjadikan pulau bak sebuah benua. Sebuah konsep ‘daratan’. Yang jadi pertanyaan, apa kaitannya dengan negara bahari? Kita adalah negara kepulauan. Selat dan laut harus dilihat sebagai penghubung dan bukan pemisah. Kalau lihat sebagai pemisah, maka dibangun jembatan. Tetapi bila sebagai pemerstau maka yagn dikembangkan adlaah mengoptimalkan laut. T

  2. simon says:

    begini bos.. contoh simpel. akan dibangun jalan atau infrastruktur lainnya di adonara. dalam perencanaan menggunakan alat berat yang harus didatangkan dari flores. maka anggaran jalan yang harusnya bisa untuk satu kilometer bakal terpotong jadi limaratus meter karena ongkos kirim alat beratnya sangat mahal kalo harus pake angkutan laut. trus untuk yang masyarakat kecil. misalnya mau ada urusan genting ke rumah sakit di flores maka disamping harus sewa pake mobil juga harus sewa pake lagi perahu motor untuk nyebrang yang kalo jam malam pasti harganya juga lumayan. belum lagi bapak ibu pegawai/ guru yang mau ke kantor dinasnya. urusan yang sebenarnya sepele tapi karena sampai pelabuhan mesti antri lagi sesuai jadwal perahu motor ya jadinya seharian itu hanya di jalan saja waktunya terbuang. dll. begitu menurut saya bos..

    • robert25868 says:

      Terimakasih Pak Simon. Kalau dalam keadaan darurat memang kita membutuhkan yang tercepat. Tetapi seluruh hidup tidak semuanya genting. Pemerintah perlu merancangnya. Lebih lagi untuk kita negara Kepualaun, laut adalah jembatan, bukan jembatan di atas laut. Kita bukan negara benua. Cara pandang seperti ini yang tidak banyak dilihat. Tetapi terimakasih atas cara pandang Simon. Kita berbeda cara pandang, tetapi tetap punya perhatian yang sama.

  3. wis kabelen says:

    Terima kasih pa simon, martinus dan pa robert atas pendapatnya…jika dianasila dri kedua pendapat maka disitu jelas keduanya ada plus minus. terkait dgn kondisi jalan baik di flores maupun adonara rasanya tidk ada beda, flores mungkin jalan negaranya yang sdh baik tetapi dipelosok sama saja. terlepas dari semua itu maka merujuk pada jembatan PALMERA mari kita dukung dulu untuk menjawab apa yg saudara simon dan martinus jelaskan tadi selama flores timur daratan dan adonara masih satu kabupaten. jika itu dibangun maka semua akses akan terjangkau dari aspek ekonomi, dan sosial budaya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s