33. Jembatan “Palmerah” dan Momen Maritim

Jembatan Palmerah dan Momen Maritim

Oleh : Robert Bala

Salah satu hal yang paling mencolok dalam pemerintahan Jokowi-JK, adalah visi maritim. Dalam konteks kemaritiman, laut dilihat sebagai penyatu. Dengan demikian pembangunan pelabuhan akan  menjadi sasaran. Hanya dengan demikian laut dapat menyatukan berbagai daerah.

Dalam konteks berpikir ini, percepatan pembanguann yang dimaksud dan ingin dicapai tentu tidak dipahami bagaimana menyatukan pulau-pulau dengan jembatan penghubung hal mana terdapat dalam Rencana Induk Percepatan pembanguann Ekonomi Indonesia (MP3EI), tetapi justeru memperkuat keutuhan pulau di satu pihak dan menyatukannya lewat laut.

Visi seperti ini mestinya sangat dipahami oleh pemerintah provinsi NTT dengan Lebu Raya sebagai ‘nahkodanya’. Sebagai kader PDIP, ia mestinya mengetahui visi ini melebihi orang lain.

Lebih lagi, atas dasar perwujudan visi ini, Jembatan Selat Sunda (JSS) yang pada pemerintahan SBY telah dianggarkan 100an triliun dibatalkan. Ia ditinjau karena konsep kemaritiman justeru dikorbankan. Yang dihadirkan dalam menyambung pulau Jawa dan Sumatera adalah konsep benua dan bukan maritim.

Bila kenyataan ini dilihat kembali maka apa paun alasannya, pembangunan Jembatan Palmerah mestinya terpental dengan sendirinya. Meskipun gubernur telah meloby Japan International Coorporation Agency (JICA)(Flores Bangkit 25/10/2014) yang bisa saja proposalnya akan diterima dengan ‘lapang dada’ tetapi hal itu kontradiktoris dengan visi kemaritiman. Dengan demikian meninjau atau membatalkan mestinya menjadi sebuah pilihan terbaik.

Laut, Momen yang Diingat

Peninjauan kembali (kalau memang bisa terjadi) yang berujung pada pembatalan mestinya tidak dilihat secara sepihak. Lebih lagi merupakan sebuah kekalahan telak karena rencana mematerikan sebuah mega proyek antara Palao dan Tanah Merah itu dibatalkan.

Sebaliknya hal itu mestinya dijadikan titik awal untuk memikirkan kembali tentang implemetnasi visi kemaritiman di NTT pada umumnya dan Flores Timur (malah Adonara yang akan menjadi Daerah Otonomi Baru).

Pertama, perlu pengembangan pembangunan ke laut. Meminjam kata-kata Soekarno pada Forum National Maritime Convention I (NMC, 1963), untuk membangun Indonesia menjadi negara besar, negara kuat, negara makmur, negara damai yang merupakan National Building bagi negara Indonesia, maka negara dapat menjadi kuat jika menguasai lautan.

Itu berarti Flores Timur (kini) dan nantinya Flores dan Adonara akan berkembang bukan oleh penyatuhan pulau tetapi pada pengembangan lautan. Pelbagai upaya menguasai laut yang sangat luas dengan aneka sumber daya alam yang ada akan menjadi sumber mata pencaharian yang tidak ada habisnya.

Alokasi dana untuk pengembangan kelautan inilah yang mesti dilihat oleh pemerintah kabupaten dan provinsi. Aneka terobosan perlu dilakukan hanya dengan demikian masyarakat juga terarahkan untuk dapat menetap di daerahnya dan bisa lebih fokus mengembangkan potensi laut yang berlimpah di sekelilingnya.

Sesungguhnya hal ini tidak cukup dikembangkan selama ini. Melihat Adonara misalnya, pengembangan masyarakat lebih diarahkan selama ini kepada darat lewat aneka hasil kebun yang dimiliki. Jagung, ubi, singkong, tanaman perkebunan seperti kelapa, tembakau, vanili, coklat, cengkeh, sekedar menyebut beberapa contoh menunjukkan bahwa selama ini yang menjadi bidikan adalah daratan (dan bukan laut).

Tidak hanya itu. Konflik tanah yang masih saja terjadi menjadi sebuah pembenaran bahwa bagi masyarakat (tidak saja Adonara), menyengketan tanah lebih penting dari pada mempersoalkan laut. Dalam arti ini, pembangunan jembatan Palmerah yang kalau diwujdukan akan justeru menambah konflik tanah itu sendiri.

Pada sisi lain, pengembangan pelabuhan laut juga mesti menjadi acuan. Hingar-bingar pelabuhan Larantuka, belum terhitung dengan petugas Portir Larantuka yang terkenal sangat rendah etika, mestinya menjadi sebuah peluang bahwa masyarakat Flores Daratan bahkan akan memilih Waiwerang sebagai pelabuhan singgah yang lebih nyaman.

Tidak hanya itu. Pengembangan pelabuhan sebagai pusat dan kunci maritim akan lebih menjanjikan karena dengan itu Adonara akan membuka sebuah relasi yang jauh lebih luas dan lebih kaya dengan berbagai daerah lain di Indonesia ketimbang hanya menyambungkan daratan yang sekedar memberi satu akses ke Flores daratan.

Dalam perspektif ini, penataan pelabuhan laut di Adonara akan menjadi sebuah peluang yang sangat besar. Ketika ia ditata dengan baik maka ia akan mudah menjadi sebuah pelabuhan singgah (dalam bahasa Jokowi Tol Laut). Dengan itu maka ongkos pengiriman dengan kapal (shipping cost) yang selama ini dikeluhkan mahal akan menjadi murah dan memberi keuntungan kepada masyarakat.

Betolak dari pemahaman ini maka kesimpulannya menjadi jelas. Pertama, dana 750 milia akan menjadi lebih bermakna ketika dialokasikan untuk program dengan visi maritim seperti penataan pelabuhan dan juga untuk pengembangan kemampuan masyaakat dalam mengelola laut sebagai sumber hidup.

Dua hal ini terutama dalam pengembangan potensi masyarakat mengelola laut tentu butuh pengorbanan yang sangat besar selain visi dan misi yang harus lebih tajam. Dalam perspektif ini, hal yang akan dicapai bisa saja tidak bisa dilihat secara kasat mata kini, hal mana bisa saja tidak menjadi perhitungan seorang pemimpin yang lebih mengejar sanjungan kini dari pada sebuah masa depan yang terbagun kini.

Tetapi justeru di situlah kenegarawanan seseorang terlihat. Ia lebih melihat dirinya untuk membangun landasan pijak yang bisa dikembangkan oleh generasi sesudahnya. Ia memberikan wadah yang bisa dilanjutkan karena ia tahu, pembangunan itu harus berkelanjutan. Di situ justeru ia akan dikenang karena sanggup menciptakan wadah yang utuh untuk masa depan.

Mungkin hal inilah yang dimaksud oleh Cesare Pavese ketika menulis: We do not remember days, we remember moments. Kita tidak ingat hari tetapi peristiwa. Upaya membangun visi kemaritiman itulah momen yang harus jadi acuan oleh Pemerintah provinsi NTT dan Flotim kini. Momen maritime inilah yang harus menjadi target Pemerintah dan masyarakat. Semoga.

Sumber: Flores Bangkit 14 Januari 2015

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s