34. Dilema HAM, Kasus Roti “Kaigi” Maumere

Dilema HAM, Kasus Roti “Kaigi” Maumere

Dalam waktu yang hampir bersamaan, muncul dua kasus Hak Asasi Manusia (HAM). Sebanyak 7 dari 10 tenaga kerja anak melarikan diri dari rumah majikan dan mengadukan permasalahannya yang menimpa ke Divisi Perlindungan Perempuan dan Anak, Team Relawan untuk Kemanusiaan Flores (Truk-F), Flores Bangkit 15/1.

Dilema HAM juga diangkat sebagai sebuah permasalahan nasional saat para pengedar narkoba dieksekusi mati. 6 orang yang sudah dihukum mati dan 50-an orang lagi yang ‘tunggu giliran’, mendorong para pegiat HAM untuk memprotes pelaksanaan hukum mati.ROTI KAIGI

Bagi mereka, hukum mati itu terasa aneh karena selain sudah tidak dilaksanakan di banyak negara tetapi juga ketika hukuman mati tidak menjadi jaminan akan efektifnya efek jerah demi mengurangi kejahatan. Selain itu pengalaman tentang orang ditemukannya fakta bahwa ternyata ada tidak sedikit orang yang sebenarnya tidak bersalah tetapi dihukum mati merupakan alasan lainnya.

Dua kasus ini memunculkan dilema. Apa sebenarnya yang lebih penting: hak hidup yang dimiliki baik oleh pelaku maupun korban ataukah penolakan atas kematian itu sendiri atau hukuman mati yang diharapkan menghadirkan efek jerah baik bagi para pelaku maupun sebagai pembelajaran bagi yang lainnya?

Hak dan Kewajiban

UU No 39 Tahun 1999 menyebutkan bahwa Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anuegerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.

Dua hal penting dalam definisi ini. Ia merupakan sebuah keterberian dari “Yang Ilahi”. Ia hanya bisa diterima. Hak hidup misalnya tidak bisa diambil oleh siapapun mengingat hanya Dia yang memberi dapat mengambil. Manusia tidak pernah memberi hidup dan karenanya tidak punya hak sama sekali untuk mengambilnya.

Tetapi keterberian itu bukan tanpa tugas. Penekanan kewajiban itu sangat erat berkaitan dengan jawaban manusia. Hak seseorang perlu diimbangi dengan kewajiban. Minimal hukum emas sebagai dasar prinsip moral untuk berbuat apa yang diinginkan agar orang lain berbuat kepada kita (forma positif) atau awasan untuk tidak berbuat apa yang tidak diinginkan orang lain perbuat pada kita (forma negatif) mestinya menjadi kesadaran utama.

Kenyataan itu akan mengemuka dengan sendirinya saat menggugat hak hidup para terpidana mati. Hak hidup mereka dipertahankan karena mengadakan eksekusi adalah sebuah pelanggaran atas hak Tuhan yang hanya Dia bisa mengambil hidup. Tetapi hak mempertahankan hidup yang nota bene sangat asasi dipertanyakan dengan perbuatan yang mengambil hak asasi orang lain.

Memang dalam dilema ini, keputusan hukuman mati masih bersifat kontroversial. Terutama tentang hukum yang telah diproses secara benar. Pengalaman tentang tidak sedikit terpidana mati yang terbukti tidak bersalah setelah ia dihukum mati menunjukkan bahwa proses itu masih rentan kekeliruan. Pertanggungjawaban moral inilah yang menjadi tanda tanya hal mana butuh proses yang lebih ‘fair’ dan dapat dipertanggungjawabkan tidak saja kini tetapi juga kelak sebagai sebuah keputusan yang sangat adil.

Esensi kewajiban juga menjadi sebuah pertanyaan terhadap anak yang dipekerjakan di toko roti yang nota bene berasal dari luar kabupaten. Jumlah 10 (malah lebih) menunjukkan bahwa hal itu tidak bisa dianggap biasa. Hal itu melibatkan orang-orang terdekat (orang tua) yang rela melepaskan anak untuk dipekerjakan atau minimal untuk keluar dari rumah.

Hal itu secara lebih jauh mempertanyakan tentang kewajiban pemerintah dalam melindungi anak. Tindakan preventif melalui pendidikan dan keterampilan selain penyadaran tentang hak anak menunjukkan bahwa ada sebuah kelalaian yang tidak bisa dianggap enteng. Di sana kewajiban asasi yang harusnya melekat pada manusia atau lembaga khususnya pemerintah dipertanyakan. Dalam arti ini, sebuah penilaian atas hak asasi mestinya tidak sekedar menilai ‘momen’ tetapi konteks yang melingkupinya.

Kajian dan Mediasi

Penyibakan tentang pelanggaran HAM yang terjadi menunjukkan bahwa pemahaman tentang hak asasi dan kewajiban asasi manusia belum mendalam. Hal itu diperparah oleh minimnya perhatian pemerintah dalam mengadakan sosialisasi. Dengan demikian akibat yang terjadi dapat diantisipasi.

Yang terjadi, perhatian HAM masih bersifat kasuistik. Sebuah kisah akan mendapat perhatian setelah menyeruak sebagai masalah. Di sana tidak sedikit orang yang ingin ambil bagian memberikan pernyataan. Pernyataan bupati Sikka tentang UMR misalnya terasa tidak rancu karena menuntut adanya UMR seakan hal itu diterapkan untuk orang dewasa. Padahal permasalahan bukan pada gaji tetapi lebih pada hak anak yang mestinya mendapatkan perhatian.

Adanya kevakuman seperti ini pada akhirnya memunculkan pertanyaan tentang efektivitas Komisi Nasional Hak Asasi Manusia atau Komnas HAM dan Komisi Perlindungan Anak. Tugas yang diemban tentu tidak sekedar menyelesaikan kasus lebih jauh perlu mengadakan kajian, perlindungan, penelitian, penyuluhan, pemanatauan, investigasi dan mediasai terhadap persoalan.

Tugas seperti ini tentu tidak ringan mengingat permasalahan yang sangat kompleks. Tetapi hal itu akan lebih mudah ketika adanya keterlibatan dari masyarakat. Sebuah kenyataan bahwa KOMNAS HAM tidak akan berbuat apabila tidak ada masukan dan informasi dari masyarakat.

Larinya 7 anak dari toko roti yang baru terjadi sekarang setelah hal itu terjadi lebih dari 7 bulan menunjukkan adanya apatisme masyarakat. Hal itu tidak dianggap sebagai permasalahan serius yang perlu ditangani. Bisa saja karena hal itu tidak dianggap sebagai masalah karena kenyataan tidak sedikit anak yang melakukan hal yang sama.

Pada sisi lain, pengaduan yang justeru ke TRUK-F dan bukannya kepada Pemerintah menunjukkan bahwa kasus ini harus membuka mata tentang sebuah pembenahan yang harus dilaksanakan secara serius dengan melibatkan Pemerintah dan masyarakat. Dalam arti ini, Pemerintah tidak sekedar ‘mengusut kasus sampai tuntas’, tetapi membenahi masalah yang dalamnya ia justeru berperan sangat menentukan
Sumber: Flores Bangkit 03 Februari 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s