35. Lembata dan Egoisme Kekuasaan

Lembata dan Egoisme Kekuasaan

Running Text salah satu TV swasta dengan cepat menarik perhatian saya. “Empat kabupaten di NTT terancam diberikan sanksi karena Rencana Peraturan Daerah (Raperda) Anggara Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2015 belum rampung dibahas.”
Robert Bala. Pemerhati Masalah Sosial. Tinggal di Jakarta.

Robert Bala. Pemerhati Masalah Sosial. Tinggal di Jakarta.
Tersentuh sebagai warga NTT, maka informasi itu dikonfirmasi. Keempat kabupaten yang diamaksud adalah Sumba Barat Daya, Belu, Malaka, dan Lembata. Namun Sumba Barat Daya, Belu, dan Malaka, melulu karena belum rampung dibahas. Hal itu berbeda dengan Lembata. Pembahasan sudah dilaksanakan tetapi terkendala oleh ‘tawar-menawar’ yang tidak dipenuhi.

Apa yang bisa dinilai di balik tawar-menawar tersebut?

Tak Terpuaskan

Tarik menarik dalam pembaahsan RAPBD Lembata mestinya tidak terjadi. Surat Edaran Mendagri tertanggal 24 November 2014 telah mewanti-wanti tentang batas akhir pembahasan RAPBD yakni 31 Desember 2014.

Pemerintahan manapun (dalamnya legislatif dan eksekutif memegang kendali) tahu bahwa sia-sia sebuah kegiatan setahun ketika tidak didukung anggaran. Apalagi mentalitas lama yang begitu bergantung pada dana (ada uang ada proyek), maka hal itu bukan saja ultimatum tetapi menjadi hal yang tidak bisa ditawar-tawar.

Yang terjadi di Lembata justeru lain, sekaligus membedakan dari tiga kabupaten lain (Belu, Malaka, dan Sumba Barat Daya), yang juga mengalami ancaman yang sama. Bila di tiga kabupaten itu akar permasalahan pada belum rampungnya pembahasan, maka di Lembata justeru hal itu mestinya sudah diselesaiakn ‘jauh sebelumnya’.

Sayangnya ia tersendat. Anehnya yang jadi alasan bukan pada masalah yang menyangkut program strategis dalamnya hajat hidup orang banyak dipertaruhkan. Logikanya persoalan alot untuk politisi bijak adalah hal substansial. Di Lembata, justeru yang masuk dalam ‘tawar-menawar’ adalah aneka tunjangan baik untuk anggota legislatif maupun eksekutif. egoisme kekuasaan

Legislatif menjadi begitu ‘kritis’ terhadap tunjangan untuk pejabat (mulai dari bupati sampai pejabat eselon) terancam tidak menerima gaji selama enam bulan pertama atau satu semester. Para legislator menuntut agar biaya perumahan mereka setingkat DPRD propinsi, hal mana tidak disetujui eksektutif. Pada gilirannya, tunjangan untuk eksekutif pun tidak kalah ‘digunting’.

Jelas, yang terlihat adalah begitu dominannya egoisme. Setiap pihak berusaha mengedepankan egonya. Tawar-menawar pun dilakukan, tetapi disertai kebajikan yang sangat minimal. Artinya, mestinya ‘tawar-menawar’ itu tidak sampai menggelikan, bahkan sampai melewati batas waktu yang ditetapkan.

Sayangnya, hal itu tidak ada dalam perhitungan. Yang ada hanyalah kepentingan sesaat yang nota bene juga sesat. Kepuasan mencapai yang dituntut menjadi begitu kuat. Dalam bahasa Taite Adams (E-go, Ego Distancing Through Mindfulness, Emotional Intelligence, and the Language of love): “The ego is never satisfied. So, if you’re not satisfied with what you have right now, consider what is driving”.

Ketidakpuasan ini pula yang berimbas beringas ketika saling mengalah jauh dari agenda. Egoisme yang termpau kuat bahkan akan sampai pada rasa puas melihat tidak saja keduanya gagal (menang jadi arang, kalah jadi abu) tetapi tidak tega melihat derita rakyat akibat egoisme personal.

Idealisme

Problematika yang terjadi di Lembata, kembali membenarkan bahwa akar terdalam adalah absennya idealisme dalam berpolitik.

Sangat jelas terlihat bahwa yang dicari dalam politik adalah terpenuhinya kebutuhan pribadi. Dengan demikian apa yang disampaikan saat kampanye sekedar obralan kata tanpa makna. Egoisme dibalut dengan janji melayani.

Seorang sahabat dengan agak menggelikan menganalogkan anggota legislatif dengan pil KB. “Pil KB,” katanya, “kalau lupa maka jadi.” Sementara itu anggota legislatif justeru terjadi sebaliknya: “kalau jadi, lupa”. Yang diingat bukan lagi rakyat tetapi sejauh mana keinginannya dapat terpenuhi.

Dalam konteks ini, ancaman sanksi terhadap Lembata (juga Belu, Malaka, dan Sumba Barat Daya) mestinya menjadi momen mengingatkan bahwa idealisme dalam berpolitik perlu dihidupkan karena ia jadi roh yang memberi bobot pada seorang pemimpin baik sebagai eksekutif maupun legislatif.

Idealisme diartikan sebagai semangat dan cita-cita untuk mencapai sebuah tatanan yang lebih baik, dalamnya semua orang terutama mereka yang miskin dan terpinggirkan, mendapat tempat sebagai pribadi. Idealisme juga terlihat dari harapan agar kemajuan itu terlihat secara gradual berkat program strategis dan sistematis yang disusun dan diikuti semua pihak secara perlahan.

Dalam perspektif ini, John Buchanan Robinson benar ketika menulis: in brief, egoism in its modern interpretation, is the antithesis, not of altruism, but of idealism. Egoisme baginya dalam tafsiran modern, bukan antithesis dari altruism melainkan idealisme.

Artinya yang menjadi ‘obat’ bagi egoisme, kerap dipikir bahwa altruisme. Rasa egois harus dilawan (dalam pikiran banyak orang) oleh pikiran yang mengarah kepada mengutamakan orang lain (altruisme).

Sepintas memang benar. Egoisme baik pejabat eksekutif (bupati) maupun legislatif (anggota DPRD) Lembata harus diubah dengan sikap altruis dengan mengutamakan rakyat. Kepentingan rakyat harus diberi tempat.

Sayangnya hal itu tidak cukup. Altruisme yang tidak didasarkan pada ketulusan, pada gilirannya hanya sekedar ‘lip service’ alias pemanis bibir belaka. Ia mudah diucapkan tetapi tidak lahir dari kesadaran jiwa dan ketulusan hati.

Idealisme pada gilirannya lebih mendalam karena ia begerak dari akar. Artinya, idealisme menjadi cita-cita dan angan yang hendak dicapai. Ia menjadi acuan sekaligus mengontrol tata tindak. Ia juga menggerakan dari dalam agar hadir dan berpengaruh dalam segala tata tindak.

Dalam arti ini, kita berharap, semoga egoisme kekuasaan yang kini terjadi, harus dilawan dengan ditumbuhkembangkannya idealisme kekuasaan yang nota bene absen dan sekaligus sangat kita harapkan kini.

Sumber: Flores Bangkit 16 Februari 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s