36. Lembata, TigaKisah Tiga

Lembata, Tiga Kisah Tiga

Amores Perros, sebuah film Meksiko inspiratif. Ada tiga kisah berbeda dari orang-orang yang kehilangan cinta, dapat bersinggungan satu sama lain akibat sebuah kecelakaan. Setiapnya mengadung angan yang akhirnya tidak kesampaian hal mana menjadi kesadaran akhir dari film.

Yang menarik, tiga kisah yang kelihatan berdiri sendiri itu disatukan oleh hadirnya anjing (perro) dengan fungsi berbeda. Ada yang sekedar diperalat (lomba anjing), tetapi juga ada yang menjadi anjing kesayangan (dari sang model cantik) yang terjebak, juga anjing-anjing jalanan. Gambaran tiga model kehidupan dan perlakuan berbeda.

Film berdurasi 2 jam lebih ini secara sangat inspiratif seakan membahasaka keadaan yang terjadi di Lembata. Ada tiga kisah tiga berbeda. Tetapi apakah hal itu bisa disatukan dalam sebuah kesadaran? Siapa yang bisa menjadi ‘sutradara’nya?

Tidak terarah

Dalam amores perros (cinta anjing-anjing),sebuah kesia-siaan bisa saja diambil sebagai kesimpulannya. Dengan judul anjing, selain menunjukkan kisah anjing di balik sang pemiliknya tetapi menunjukkan sebuah kesia-siaan. Ia juga menunjuk pada insting kebinatangan yang kadang bila tidak terkontrol, dapat menjadi liar.lembatat

Tetapi menarik, kisah itu bisa ditampilkan secara menarik oleh kepiawaian sang sutradara Alejandro González Iñárritu menghadirkannya menjadi tontonan menarik. Idealisme itu dihadapkan pada realitas yang kadang tidak sesuai dengan harapan. Malah yang terjadi, nafsu kebinatangan kadang lebih dominan, kalah di depan rasionalitas yang semestinya dimiliki manusia.

Kisah ini dihadapkan pada hal analogis yang bisa dihubungkan dengan Lembata. Ada tiga kisah tiga, sekedar cukup menyebut tiga. Ada tiga kantor bupati, tiga pasar, dan kini tiga bupati (sejak otonomi). Apakah tiga kisah itu bergerak liar sendirian ataukah butuh pemersatu?

Tiga kantor bupati, terlepas dari konsep di baliknya, tetapi dengan mudah terbaca bahwa otonomi itu identik dengan kekuasaan. Pemisahan Lembata dari Flotim tidak pertama-tama demi kesejahteraan rakyat, hal mana menjadi tujuan dari otonomi daerah. Juga buakn demi memudahkan pelayanan pada masyarakat, tetapi sebaliknya otonomi diadakan guna memudahkan insting kekuasaan itu memiliki wujud nyata.

Dalam masa awal saja pemerintahan, yang nota bene sebagai pejabat sementara, Pieter Manuk begitu getol membangun kantor bupati di Lusikawak. Dengan posisi di ketinggian, dipandang indah dari laut, menunjukkan sebuah ekshibisi pemerintahan. Yang perlu ditonjolkan ketika orang datang ke Lewoleba (lewat laut) adalah kemegahan kantor bupati.

Ande Duli Manuk pada gilirannya tidak kalah. Dengan membangun di batas kota, ia mau mengajak orang Lembata dan luar untuk melihat begitu ‘menjanjikannya’ Lewoleba. Dataran yang luas menjadi sebuah ‘ladang menarik’ untuk segera dikuasai. Perebutan tanah pun menjadi kian liar karena tempat paling sentral itu kini berada di batas kota. Di sana, tanpa disadari, konflik tanah menjadi hal baru, sumber konflik yang tidak bisa dilerai begitu saja.

Di tengah kesimpangsiuran ini, bupati ketiga, Yantji Sunur, memilih ‘balik’ ke kantor pembantu bupati dulu. Bisa saja sebuah pilihan aman karena letaknya lebih strategis. Bisa juga ungkapan bahwa ia tidak terlalu hirau akan tempat berkuasa karena toh sebagian waktunya dilewatkan di laur Lembata.yance

Kisah tiga itu tidak saja satu paket. Paket yang tidak kalah menarik adalah pasar. Di kota sekecil Lembata dengan penduduk Lewoleba Raya tidak lebih dari 30 ribu jiwa, sebuah pasar sentral saja cukup. Lebih lagi dalam konteks Lembata yang terpecah oleh konflik Paji dan Demong, pasar sebagai pemersatu sangat penting. Di sana orang dari Kedang, Ile Ape, Lebatukan, dapat bertemu saudaranya dari Atadei, Nagawutun, dan Wulandoni.

Yang terjadi lain. Ada sebuah idealisme teramat luar biasa. Lewoleba dirancang bak ‘kota besar’ denagn penduduk jutaan rupiah. Di sana demi menghindari kemacetan, maka pasar dibuat di pinggiran kota. Tidak kurang, dua pasar pun dibuat: Lamahora dan Pada. Di sana kontrak yang seharusnya terjadi tidak terwujud. Di sela itulah muncul TPI di senja hari yang secara strategis lebih menarik.

Yang bisa dipahami dari keadaan tiga kisah tiga (kantor bupati, pasar, dan bupati), adalah ketidakterarahan. Masing-masing membangun dengan asumsinya, tanpa analisis yang mendalam. Masing-masing punya angan personal yang mau dibuat untuk Lembata dan bukan didasarkan pada kerinduan masyarakat Lembata sendiri.

Satu Kisah

Amores Perros, dapat menjadi tontotan menarik oleh kepiawaian seorang sutraada yang bisa menyatukan kisah berbeda. Yang lebih menarik, kisah itu dianyam hingga membangun kesadaran tentang kesia-siaan di balik angan yang tak terwujud. Yang penting adalah kembali kepada kenyataan dan menerima tanggungjawab itu secara baik.

Pertama, butuh kepemimpinan kuat dan merakyat. Pemimpin Lembata ke depan perlu lahir dari orang yang mengalami dengan jiwa dan raga perjuangan rakyat Lembata. Ia tidak sekedar orang yang tunggu pada garis akhir untuk dapat mengambil alih kekuasaan. Kepemimpinan selama ini, bisa saja lebih diisi oleh orang yang tidak mengalami ‘susah-senang’ perjuangan otonomi maupun pergulatan masyarakat Lembata dari bawah.

Fakta inilah yang harus membuka mata rakyat Lembata untuk lebih selektif. Sepak terjang, ‘track and record’ para calon ditelusuri. Tidak saja janji masa depan yang tentu saja indah tetapi terutama sepak terjang masa lalu dalam memperjuangkan Lembata. Di sana ada jaminan, ketika ia turut ‘bersusah-payah’, akan juga berhati-hati, minimal tidak merusakkan Lembata.

Kedua, pemimpin strategis dan bukan sekedar oportunistik. Perbedaan pendapat secara terbuka antara bupati dan wakil bupati atau hadirnya wakil bupati di tengah aksi satpol PP sekilas sebuah aksi merakyat. Tetapi bila kita sedikit jeli, terbaca sebuah aksi aneh. Bagaimana mungkin wakil bupati sebagai pihak eksekutor bisa melawan satpol pp yagn nota bene berada di bawahnya?

Yang sangat mungkin terlihat adalah usaha menyenangkan rakyat. Di sana sang pemimpin (atau bakal pemimpin) hadir begitu merakyat dan begitu membela rakyat. Padahal ia bisa melakukan hal yang lebih strategis, tidak sekedar bergabung dengan pedagang.

Ketiga, pemimpin yang ‘mengorbankan diri’ demi rakyat. Kenyataan menunjukkan, dalam berbagai kasus, rakyat justeru yang dikorbankan demi kepentingan penguasa. Sanjugan para pedagang bahwa mereka lebih identik dengan ‘kelompok ini’ dan membenci ‘kelompok itu’, adalah rekayasa murahan. Di sana rakyat diajar untuk berbicara sesuai keinginan penguasa dan demi menjamin kepentingan penguasa, dan bukannya kepentingan rakyat.

Keempat, perlu merajut satu kisah. Harus ada keputusan segera menyatukan kisah. Kepemimpinan harusnya berada di tengah untuk melayani dan memberi inspirasi dan bukannya berada di kejauhan dan keindahan singgasana. Menata kantor merupakan langkah bijak. Sementara itu pasar mestinya menjadi kata akhir. Lewoleba terlalu kecil untuk punya 3 pasar. Malah sampai ratusan tahun ke depan, satu pasar itu masih relevan dan belum ada ledakan penduduk yang membuatnya membagi pasar dalam beberapa bagian.

Lebih penting, dengan menyatukan pasar, akan tersatukan pula kisah berbeda. Rakyat dari berbagai tempat di Lembata akan hadir, berkumpul, menyatukan tekad. Oleh pertemuan di satu tempat, tiga kisah tiga bisa disatukan, hal mana akan membuat Lembata semakin jadi kuat.

Sumber: Flores Bangkit 30 April 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s