37. Tablet untuk Lembata yang Sakit

37. Tablet untuk Lembata Yang Sakit

Liburan sekolah yang bertepatan dengan liburan Idul Fitri Juni-Juli 2015 memiliki kesan khusus. Seluruhnya dilalui di Lembata, tanah kelahiran. Sebuah pengalaman langsung karena Lembata tidak didekati dari jauh tetapi dari dekat, malah dari dalam.LEMBATA 1

Tulisan ini merupakan sharing. Sebuah bagi pengalaman tentu saja bersifat subyektif, jauh dari tendensi membeberkan fakta apalagi memersalahkan satu dan memegahkan yang lain.

Lembata ‘Sakit’

Sebuah kesan umum, yang cukup menonjol adalah usaha melihat kelemahan orang lain. Dalam diskursus mulai dari level terendah sampai ke jajaran elit, usaha melihat kelemahan lebih dominan.

Di balik itu tentu saja ada tendensi memegahkan diri. Usaha ‘menembak’ kelemahan orang lain menyimpan kecendrungan itu menampilkan diri sebagai lebih baik. Tak heran, yang hadir adalah egoisme.

Panorama itu terasa mulai dari desa hingga Lewoleba (yang disebut kota). Di kampung, egoisme menghadirkan musik dengan loudspeaker menghadap jalan (agar didengar tetangga atau orang yang lewat), menunjukkan usaha pamer diri begitu besar.LEMBATA 2

Di kota, panorama itu tidak kurang. Para petinggi berusaha pamer diri sebagai yang terbaik sambil teamnya lihai melemparkan isyu yang mendiskreditkan yang lainnya. Pada saat bersamaan, setiap orang berusaha menonjolkan diri.

Nyaris terdengar pujian pada lawan. Yang terjadi, setiap orang berusaha memanfaatkan momen. Tak heran, di Lembata, para kandidkat untuk menjadi pemimpin begitu banyak. Dalam pemilukada sebelumnya terdapat hampir 10 pasang kandidat yang ingin jadi bupati.

Dalam logika matematis minimal, mestinya orang memahami bahwa semakin banyak kandidkat, maka kemungkinan untuk ‘lolos’ sangat kecil. Tetapi itu tak jadi masalah. Yang penting semuanya ‘mengadu’ kemungkinan, siapa tahu jadi pemimpin.

Suasana negatif itu juga terucap oleh seorang dokter PTT yang sudah hampir berakhir masa tugasnya di pulau Lomblen ini. Baginya, nuansa politik di Lembata sangat kejam dan tak sehat. Sebagai dokter yang mengobati jasmani, merasa bahwa akar sakit bukan pada badan tapi pada jiwa.

Lembata lagi sakit. Penyakit iri hati dan dengki. Di sana tidak sedikit orang yang sakit hati. Sakitnya memang ‘di sini’, di Lembata ini. Di atas sakit hati, tugas para ‘dukun’ menjadi begitu dominan. ‘Pasien’ mereka membludak. Orderan membukit. Suasana itu akhirnya menjadikan relasi persaudaraan memudar oleh rasa curiga berlebihan yang pada akhirnya juga memunculkan sakit sebenarnya.

Team Work

Terhadap Lembata yang sakit, maka perlu tablet. Pil yang tentu pahit itu diharapkan dapat menyembuhkan egosentrisme berlebihan. Obat itu juga diharapkan membuka mata untuk melihat juga keunggulan orang lain dan secara bersama-sama menciptakan nuansa positif demi merajanya kebahagiaan.

Yang dimaksudkan adalah berpikir positif untuk menyatukan kekuatan yang ada pada semua orang untuk menjadi sebuah kekuatan bersama. Ada sebuah peralihan dari melihat hal negatif kepada mengagumi hal baik yang tengah dilakukan orang lain.

Dalam proses ini, secara perlahan tapi pasti akan terbangun sebuah tim (team work) karena masing-masing pribadi berusaha melihat hal mulia yang tengah dilakukan orang lain. Hal itu memberikan beberapa pemikiran.

Pertama, sebuah kerjasama tim akan mulus terbangun mulai dari para elit. Proses pemilukada misalnya akan menjadi sebuah pembelajaran ketika semua pihak sepaham bahwa proses itu dilaksanakan secara ‘fair’ untuk mencai pemimpin terbaik.

Yang menang adalah mereka yang punya kompetensi dan pada saatnya perlu didukung. Ketika tiba gilirannya, yang menang pun tidak lupa diri. Dengan jeli melaksanakan sebuah kepemimpinan untuk semua. Sayangnya hal ini masih jauh dari harapan. Politik balas budi masih sangat kuat. Yang ‘berjasa’, dilbalas jasanya. Seorang guru olahraga misalnya, meski begitu ‘berjibaku memenangkan seorang kandidat tetapi ia mesti tidak harus terpilih jadi camat’, sekedar contoh yang tidak perlu diikuti.

Kedua, kepemimpinan dalam tim mengandaikan sebuah ‘think tank’ yang menjadi pijakan dan memberi bobot pada program kegiatan. Figur seperti ini bersifat lintas ilmu dengan tugas menggodok program unggulan yang bisa dimiliki sebuah daerah.

Kenyataan menunjukkan, ‘tim ahli’ yang dimaksud pada sebuah pemerintahan lebih merupakan ‘pengembangan’ team kampanye sebelumnya. Mereka adalah kumpulan orang-orang pragmatis yang ‘lihai mencari peluang jangka pendek’ (dan proyek jangka panjang) tetapi minim kompetensi keahlian.

Lembata ke depan perlu menginventarisir putera dan puterinya yang bisa menjadi team penggagas yang bisa lebih strategis memikirkan tentan Lembata dengan komitmen lebih luas.

Ketiga, kepemimpinan kolektif mengedepankan sebuah kepemimpinan dari hati. Sebuah kepemimpinan dari hati akan terasa ‘denyut nadi’ dan nuansa positif yang terasa saat memasuki Lembata kini. Sayangnya hal itu terasa sangat jauh (itu sekedar kesan) saat memasuki Lembata dan berada bersamanya hampir sebulan.

Kepemimpinan dari hati sekaligus juga menyimpan tekad dari dalam untuk mengakhiri semua pertikaian dan mengambil langkah bijak. Kata-kata Steve Maraboli bisa saja inspiratif: “It’s time to care; it’s time to take responsibility; it’s time to lead; it’s time for a change; it’s time to be true to our greatest self; it’s time to stop blaming others”.

Sudah waktunya untuk beralih dari egoism diri yang lebih memersalahkan dan lupa mengambil tanggungjawab. Kini saatnya untuk membuka luka sakit dan secara bersama menawarkan diri mengambil tanggungjawab. Justeru di sinilah tablet dalam arti sebenarnya.

Sumber Flores Bangkit 20 Juli 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s