38. Sebatas Salang dan Mahar Politik

38. Sebast Salang dan Mahar Politik

Berita mundurnya Sebast Salang dari pencalonan bupati Manggarai, cukup menasional. Dalam posisi sebagai Koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlamen Indonesia (FORMAPPI) dan terutama kecerdasannya dalam berargumen, menjadikan publik dengan segera terhenyak.MAHAR 3

Niat luhur mengabdi di ‘kampung-halaman’ yang tentunya akan memberi bobot tambah pada pembangunan di Manggarai pada khususnya dan Flores pada umumnya, maka hal itu perlu menjadi bahan refleksi.

Kenyataan Politik

Menyeruaknya fakta mahar politik bukan terjadi pertama kali di Manggarai. Mahar politik sudah jadi isu umum. Ada aturan tidak tertulis: bagi yang ingin menjadi calon melalui parpol, ia perlu membayar ‘perahu’ politik.

Sebuah tuntutan wajar. Para politisi yang kini menjadi wakil rakyat tidak memperoleh kursinya dengan mudah. Butuh perjuangan dan apalagi biaya. Dengan demikian kalau ‘diminta’ sejumlah uang, maka hal itu bisa saja dianggap wajar.

Masalahnya tuntutan kian melambung. Malah mencapai jumlah fantastis bahkan melampaui pendapatan seorang pejabat selama 5 tahun kekuasaannya. Akibatnya, tidak sedikit pejabat yang tersandera dengan mahar politik. Keterjerumusan dalam korupsi setelah berkuasa bisa dipahami sebagai upaya ‘mencicil’ mahar yang telah digadaikan.MAHAR 5

Kenyataan inilah yang hendak dilawan oleh Sebast Salang. Dengan berbekal kejernihan pemikiran hal mana tidak bisa disangkal, ia punya cita-cita luhur mendobrak pragmatisme politik. Politik transaksional ini hendak diberantas. Kenyataannya tidak demikian. Fakta berkata lain.

Mengemukakan fakta ini tidak berarti kita pasrah pada realitas mahar politik. Kita juga tidak bisa menerimanya karena itu ‘sudah biasa’. Tentu tidak demikian. Tetapi pengungkapkan fakta hanya menyadarkan bahwa mahar politik masih menjadi fakta. Dengan demikian hanya melawan dengan idealisme belum cukup.

Jelasnya, dibutuhkan strategi lain. Hanya dengan demikian, idealisme untuk memiliki pemimpin muda potensial seperti Sebast Salang tidak bisa kandas. Idealisme membaharui negeri ini melalui kehadiran figur terpercaya harus menjadi agenda pasti karena hanya melalui mereka, harapan akan pembaharuan semakin mendekati kenyataan.

Pada sisi lain, menyerah apalagi mundur dari pencalonan juga tentu bukan jalan keluar. Secara politis bisa diartikan sebagai sebuah pengakuan tidak langsung kian memberi ‘kemenangan’ pada transaksi dan mahar politik.

Pembelajaran

Penguakan realitas mahar politik kini tentu jadi hal yang memprihatinkan. Tetapi lebih menyayat hati tentunya penyesalan bahwa kader potensial yang bisa jadi harapan akan pembaharuan tidak lolos.

Kenyataan ini menjadi pembelajaran. Minimal ia menyadarkan bahwa perlu ada strategi lebih jitu, termasuk dengan mempertimbangkan fakta politik yang sayangnya masih tetap ada seperti transaksi politik seperti ini.

Pertama, figur popular dan sudah punya ‘nama’ seperti Salang, mestinya tidak memiliki kendala untuk maju secara pribadi (melalui jalur independen). Dengan keseringan tampil di TV dan pengenalan publik maka dengan mudah figurnya dapat lebih mudah dijual.

Hal ini diharapkan jadi alternatif mengingat partai politik selagi masih didominasi oleh figur-figur tua. Dengan demikian idealisme akan berseberangan dengan pragmatisme yang nota bene telah membesarkan mereka dan nyaris mengalami perubahan.

Kedua, tokoh cemerlang seperti Salang mesti diimbangi juga oleh praksis berupa medan karya yang menjadi penguat. Hadirnya Jokowi misalnya tidak lepas dari kinerjanya sebagai penguasaha meubel. Pekerjaan pada level ini menjadi credit point yang meyakinkan bahwa pengalaman berusaha jadi bukti.

Figur seperti Salang misalnya sangat tenar di level nasional. Di sana ia punya nama dan pendapat dan pemikirannya sering menjadi acuan banyak orang. Meski demikian, rakyat sederhana, terutama di Manggarai lebih membutuhkan elemen penguat sebagai contoh nyata akan perwujudan ide pada level konkrit.MAHAR 4

Salang dalam hal cukup terkenal karena menjadi Koordinator FORMAPPI. Di sana, dalam kapasitasnya sebagai pengamat dan tokoh yang peduli, ia tampil cemerlang memberikan pemikiran. Tetapi ketenaran sebagai pemerhati nasional belum jadi jaminan.

Untuk hal ini, bisa saja Salang sudah memiliki elemen penguat berupa kesaksian dalam kerja nyata (selain FORMAPPI) tetapi belum dimaksimalkan. Hal itulah yang perlu penguatan karena menjadi faktor penarik dan pendorong sekaligus.20150702_081536

Tetapi bila hal itu belum tercapai, maka, kegagalan kini jadi pembelajaran. Minimal jadi catatan penting bahwa kerja nyata (bukan sekedar pengamat) dalam bidang yang terbukti, dapat menjadi menjadi pembuktian yang bisa melerai tendensi mahar politik.

Kesaksian nyata ini menjadi ‘mahar’ penting yang sangat diperhitungkan. Ia (diharapkan) dapat menetralisir dan kalau boleh mengalahkan yang intinya melawan tendensi mahar politik salama ini.

Sumber Flores Bangkit 31 Juli 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s