(5) “Jokowi” NTT. Bukan Sekedar Demam Jokowi

“Jokowi” NTT, Bukan Sekedar Demam Jokowi

Fenomena Jokowi ternyata menggugah dan sangat inspiratif dan bak demam nasional. Lihat saja. Beberapa kader PDIP yang maju di pilkada beberapa daerah, sebuat saja di Jawa Barat, Banten (Kabupaten Tangerang), Makassar, Bali, Sumatera Utara, menjadikan Jowoki sebagai ‘branding’nya.Robert Bala, Diploma Resolusi Konflik pada Universidad Complutense de Madrid Spanyol. Menulis 47 artikel pada Opini Kompas.Baju kotak-kotak langsung dipilih. Ada keyakinan, sebagaimana warna itu dipakai Jokowi dan ‘memenangkannya’, imbas itu akan juga terkena untuk mereka. Ada yang secara langsung menjadikan Jokowi sebagai jurkam, seperti yang terjadi di Jawa Barat, Bali, dan Jateng.

Untuk tingkat NTT, hal itu tidak kurang. Christian Rotok, sebagaimana dikutip FBC 30/12/12, mengungkapkan kemiripannya dengan Jokowi karena sama-sama meniti karir dari bawah. Hal itu tentu saja benar dan diakui paling kurang warga Manggarai. Tokoh ini sangat sukses dan merasa yakin, pengalamnnya itu akan sangat berguna membangun NTT.

Sayangnya saja, identifikasi itu malah sedikit berlebihan ketika mengklaim dirinya lebih baik dari Jokowi. Bila mantan wali kota itu hanya memimpin ‘satu daerah’, yakni DKI, gubernur NTT itu malah harus mengepalai warga yang bermukim di ratusan pulau. Sukses itu pun tentunya lebih hebat. Barangkali identifikasi itu pula tidak simpatik hingga Rotok pun rontok pada putaran pertama.

Giliran lain Leburaya. Sesuai kedekatannya dengan PDIP, ia (atau pendukungnya) mengklaim dirinya sebagai Jokowi NTT. Sebuah identifikasi yang tidak bisa disangkali. Dari segi kesederhanaan maka hal itu bisa saja diterima. Belum lagi program ‘Anggur merah’ yang kian menjadikannya sosok ‘favorit’.

Tetapi melirik hasil penghitungan suara baik putaran pertama maupun putaran kedua, yang hasilnya tidak terlalu meyakinkan, memunculkan pertanyaan: apakah identifikasi itu benar? Atau, mengapa di beberapa daerah yang sangat ‘all out’ menjadikan Jokowi sebagai ‘bintangnya’, tetapi hasilnya bahkan gagal, meskipun tidak bisa diakui adanya dukungang yang lumayan, hal mana terjadi di Jawa Barat dan Bali?

Kualitas Pribadi

Fenomena di atas menyadarkan bahwa ‘Jokowi’ bukan jaminan, apalagi ketika identifikasi itu hanya sebatas ‘warna kotak-kotak’, atau bahkan dengan kehadirannya sekali pun sebagai jurkam.

Mengapa? Kesimpulan itu lemah karena sekedar bersandar pada prinsip ‘post hoc ergo propter hoc’, alias dimana dua kejadian yang terjadi secara berurutan secara langsung menjadikan kejadian sebelumnya sebagai sebab. Jelasnya, apabila Jokowi mengenakan baju kotak-kotak dan menang pilkada maka itu tidak dibenarkan kalau baju kotak-kotak menjadi sebab dari kemangan. Ia bisa jadi inspirasi tetapi ia tidak punya hubungan sebab akibat.

Hal ini memberi kesadaran, bukan saja bagi pemimpin di daerah lain di NTT yang sebentar lagi akan menjalakan pilkada untuk tidak sekedar ‘nebeng’ nama besar Jokowi atau partai. Hal itu bisa menjadi ‘kendaraan’, tetapi ‘pengemudinya’, tetapi pada kualitas pribadi.

Hal ini berujung pada pertanyaan: bagaimana menganalisis hal ini dalam konteks pilgub NTT kali ini? Bagaimana membaca hasil sementara pilgub yang (katanya) memenangkan Leburaya? Pembelajaran apa yang diperoleh dari Amerika Latin yang dapat diterapkan di NTT dan kualitas apa dari Jokowi yang harusnya mendapatkan perhatian?

Mengacu pada hasil pilkada yang tidak memberikan kemengan ‘spektakuler’ kepada ‘incumbent’ (Leburaya), mengingatkan bahwa, tanpa mengingkari aneka kemajuan yang sudah dicapai, kita harus akui bahwa gebrakan yang sudah dibaut oleh Lebu Raya belum begitu menjadikan rakyat ‘terpikat’ hingga memilihnya.

Pada sisi lain, Lebu Raya sendiri pasti mengakui bahwa ia berbeda dari figur Amerika Latin dan juga tidak sama dengan Jokowi. Alasannya, ia tidak  ‘bergerak’ dari bawah. Sebaliknya, dengan rendah hati menerima bahwa konstelasi politik saat ia terpilih menjadi Wagub mendampingi Piet Tallo, dan diikuti dengan kelanjutan sebagai gubernur karena wafatnya pria yang lebih cocok disebut Jokowinya NTT itu  merupakan ‘garis tangan’ yang cukup berperan.

Berpijak pada hal ini maka mengagung-agungkan diri sebagai pendekar NTT, apalagi mengkalim bahwa program ‘Anggur Merah’ yang disertai pemberian ‘Rp 250 juta’ itu dikasih oleh Leburaya (Expo NTT, 3/3) adalah sebuah kesimpulan yang berlebih-lebihan. Uang yang ada adalah milik rakyat dan dikelola oleh gubernur NTT yang kebetulan adalah Lebu Raya demi mengelola Desa Mandiri Anggur Merah (DEMAM).

Dalam konteks ini maka yang mestinya diperkuat oleh Lebu Raya dalam periode kepemimpinan bukan sekedar menjadikan figurnya sebagai pemain terdepan tetapi meracik sebuah team kerja yang lebih baik. Team inilah yang akan yang terdepan dalam menggulirkan program dan melaksanakannya. Sementara itu, Lebu Raya (kalau ingin menjadi Jokowi), harus lebih mengadakan konsolidasi sehingga sebuah team kompak lebih terbina.

Mengapa proses konsolidasi itu penting? Melihat hasil pilgub dimana peta kekuatan masih terpengaruh oleh faktor suku dan agama dimana kabupaten dengan basis protestan memenangkan Esthon dan yang Katolik lebih mengarah kepada Lebu Raya, maka program yang lebih menyatukan tanpa membeda-bedakan harus mendapatkan perhatian yang tidak sedikit.

Kalau proses ini berjalan dengan baik maka setelah lima tahun periode kedua, bukan tak mungkin rakyat akan mengakui sungguh Lebu Raya adalah Jokowinya NTT, dan siapa tahu, hal itu bisa memberikan tempat yang lebih layak di level nasional, seperti Gamawan Fauzi dan Fidel Muhamad. Tetapi bila hal ini tidak tercapai, maka identifikasi itu hanyalah ‘lib service’ yang tidak berimbas hal mana ditunjukkan pada hasil pilgub kali ini, dan mengapa tidak, sebuah cap ‘kebetulan’ (jadi gubernur), bisa saja diberikan sebagai kesimpulan atas kepemimpinan Lebu Raya.

Flores Bangkit 30 Mei 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s