(4) “Jokowi NTT”, Inspirasi Amerika Latin

“Jokowi” NTT, Inspirasi Amerika Latin

Bisa jadi sebuah kebetulan atau awal yang inspiratif. Pada 8 April 2010, penulis berada di antara anggota PDIP di Sanur Bali. Kehadiran kali ini bukan sebagai anggota kongres karena penulis bukan angota partai tersebut, juga (sampai sekarang), bukan partai apa pun.

jokowiYang menjadi tujuan dari kehadiran kali ini berkaitan dengan pengalaman penulis dan beberapa artikel di Kompas tentang Amerika Latin. Bagi partai ‘kepala banteng’ itu, pengalaman beberapa pemimpin Amerika Latin sangat inspiratif, terutama dalam memberdayakan ‘wong ciliknya’. Tema yang dipilih pun sejalan dengan kiprah PDIP untuk lebih memberdayakan ‘wong cilik’.

Mulai dari Bawah

Sharing pengalaman berjalan sangat alamiah, karena menarasikan tendensi yang terjadi di Amerika Latin dalam mengorbitkan pemimpinnya. Yang dibuat bukan sekedar janji tetapi sebuah sistem yang dibangun disertai dengan proses alamiah mengorbitkan pemimpin dari bawah yang dinilai sangat berbobot.

Kasus Uruguay bisa dijadikan contoh. Partai Frente Ampilo (FA), yang kini menjadi partai pemerintah bisa dikatakan sangat muda karena berdiri tahun 1971. Hal itu sangat berbeda dengan Partido Colorado (Partai Merah) dan Partido Blanco (Partai Putih) yang sudah berdiri jauh sebelumnya. Karena itu ia akan sulit berkuasa apalagi mengalahkan dua partai tradisional itu.

Tetapi hal itu tidak membuat mereka gentar. Sebuah sistem dibangun perlahan. Pada dekade delapan puluhan, beberapa anggotanya sudah menjadi wali kota. ‘Puncaknya’ dalam diri Tabaré Ramón Vázquez Rosas.

Awalnya ia terpilih sebagai wali kota Montevideo (1990-1996). Tugasnya tidak ringan. Montevideo yang sebelumnya dijuluki kota suram. Aneka tindakan kekerasan dan aksi kriminal lainnya menjadi cap buruk atas kota berpenduduk 1 juta jiwa ini.

Namun, perlahan tapi pasti ia mengubah kota itu menjadi lebih terang benderang, oleh berkurangnya aksi krimnalitas sejalan degan semakin membaiknya kesejahteraan rakyat. Hal itulah yang menyakinkan warga bahwa pemimpin ‘dari bawah’ layak diorbitkan ke jenjang lebih tinggi: presiden. Jadilah. Meskipun ia gagal dalam dua pemilu sebelumnya, tetapi akhirnya Vazque berhasil menadji presiden Uruguay (2004-2010).

Pengalaman yang sama terjadi di Brazil. Partido dos Trabalhadores: PT atau Partai Buruh baru didirikan pada tahun 1980. Ia harus berjuang menyaingi partai yang sudah lama berkuasa. Namun dengan didukung ‘kaum kiri’ dan orang Katolik yang terinspirasi dari Teologi Pembebasan, mereka juga mulai membangun kekuatan dari bawah. Posisi wali kota menjadi incaran dan hal itu tidak mereka sia-siakan.

Dalam waktu dekat, beberapa wali kota seperti : Maria Luíza Fontenele (Fortaleza), Olivio Dutra dan Tarso Genro di Porto Alegre, Vitor Buaiz (Espiritu Santo) dan Virgílio Guimãraes (Belo Horizonte).

Tokoh lain yang paling menentukan adalah Luiza Erundina, wali kota Sao Paulo. Di kota terbesar di Brazil ini, Erundina mulai menggalang aneka program yang berimbas langsung pada kesejahteraan rakyat. Ia tidak main-main, malah memrogramkan “Zero Fome”, alias nol kelaparan.

Tidak hanya itu. Kebijakan yang terencana, telah membuka mata warga negeri pesepak bola itu untuk segera memberi kepercayaan yang lebih tinggi bukan kepada dirinya tetapi kepada kandidat yang lebih pas dari partainya, Lula da Silva. Jadilah sebagaimana dirancang. Meski gagal dalam tiga kali pemilihan sebelumnya, tetapi pria mantan pejuang kaum buruh itu diberi kepercayaan memimpinBrazil.

Inspirasi Indonesia

Sharing di Bali saat itu tidak diakhiri dengan rekomendasi yang bermuara pada pertanyaan, apakah pengalaman Amerika Latin itu bisa inspiratif untukIndonesia? Semua sepakat bahwa pemimpin ke depan tidak bisa sekedar orang yang mengkalim diri sebagai pembawa janji. Ia haruslah orang yang sudah terbukti.

Arahnya jelas. Bila dua contoh Amerika Latin di atas menunjukkan bahwa kepemimpinan pada lingkup yang lebih kecil dapat menjadi contoh maka pertanyaannya, ke depan, PDIP hanya bisa menjadi pengendali di negeri ini kalau mulai mengelus pemimpin dari bawah.

Secara spontan, seorang peserta memberikan interupsi sambil menekankan bahwa PDIP sudah punya sosok pemimpin di beberapakota, salah satu di antaranya adalah Solo. Disebutkan seorang walikotayang (katanya) sangat sukses disanadan PDIP sudah lebih jauh karena menjadikankotatersebut sebagai tempat studi banding untuk kader PDIP.

Sayang, karena keterbatasan data, penulis tidak mendalami nama yang dilontarkan saat itu. Hanya saja, saat pemilukada DKI yang memenangkan Joko Widodo alias Jokowi pada putaran pertama yang kemudian kian dikuatkan dalam putaran kedua, penulis menjadi yakin bahwa nama yang disebutkan saat itu adalah Jokowi.

Ia adalah tokoh yang secara tepat menggabungkan antara cita-cita ‘wong cilik’ dari partai berlambang kepala banten itu dengan kepribadiannya. Dengan pembawaannya yang sederhana, luwes, apa adanya, ia berhasil mencuri perhatian warga ibu kota. Malah mengapa tidak, kader itu bisa mendekati yang sudah dilakukan oleh Uruguay dan Brazil, mencapai puncak kepemimpinan tertinggi di negeri ini. Siapa tahu? (Bersambung)

Flores Bangkit 29 Mei 2013