14. Misa “Hitam”

Misa Hitam?

Pernyataan Tokoh Perempuan Lembata, Bibiana Rianghepat tentang perlunya ‘misa hitam’ (Flores Bangkit 10/12) menarik untuk dikaji. Ada hal kontradiktoris yang perlu ditelusuri karena konsep ambigu yang dilansir, bukannya menyelesaikan masalah tetapi bisa juga memicu permasalahan baru.

Tujuan misa hitam menurut Rianghepat adalah meminta bantuan leluhur untuk menyelesaikan persoalan dalam kaitan dengan kematian Lorens Wadu. Mengapa? Mengandalkan pemerintah, rasanya sulit. Mereka tidak mencerminkan itikad baik. Selain itu, yang berkembang di masyarakat adlaah suasana saling mencurgai dan menuduh.misa negra(Misa Hitam bersifat destruktif dan tidak pernah diakui sebagai bagian dari misa Gereja Katolik)

Pertanyaannya: kalau tujuannya itu mulia dan terang, demi memperjelas, mengapa ‘misa hitam?’. Atau kalau pun misa itu benar-benar ‘hitam’, dalam arti bersifat mitis-magis, apakah hal itu diperkenankan secara iman Katolik?

Ilmu Hitam

Dalam bukunya: Misa Negra, La religión aplicada y la muerte de la utopía, John Gray mengartikan ‘misa negra’atau ‘misa hitam’ sebagai ritus sakralegis-sataanis yang bertentangan dengan misa Kristen Katolik.

Ia dilaksanakan dengan substansi yang berbeda dengan tujuan menertawakan ritus resmi Gereja Katolik.  Ia juga dilaksanakan dengan penekanan pada ilmu sihir yang tentunya bertujuan destruktif atau merugikan orang lain.

Secara ritual, kelihatan,  ‘misa hitam’ sama dengan  misa Katolik. Ada upacara yang berpuncak pada komuni suci, menyambut ‘tubuh’ dan ‘darah’ Kristus. Sayangnya dilakukan dengan cara yang sangat berbeda, penuh dengan jebakan.

Sebagai pengganti darah Kristus, yang dalam misa ‘normal’ digunakan anggur, dalam misa hitam digunakan darah hewan yang dikorbankan. Tidak hanya itu. Kadang agar persembahan itu ‘lebih diterima’, digunakanlah darah anak kecil yang ‘dipersembahkan’sebagai korban kepada dewa yang nota bene sangat harus darah.

Darah itu diletakkan di sebuah piala yang terbuat dari kayu, warnanya hitam dan jelek. Ia dikelilingi, disembah oleh para ahli sihir, dan kemudian diteguk secara bergiliran.

Untuk ‘tubuh Kristus’, memang digunakan hosti. Tetapi hosti yang dipersembahkan itu kemudian diinjak-injak, lalu dicampur dengan narkoba, dan dinikmati sebagai santapan ‘suci’ katanya.

Tidak hanya itu. Konsep ‘Tubuh’ Kristus yang ‘diserahkan’, diartikan ‘saling menyerahkan diri’ dalam aktus seks bebas. Mereka melakukan apa yang ditulis Carmelo Lison Tolosano dalam Las Brujas en la historia de Espana, 1992, sebagai ‘osculum infame’. Di sana semua ‘orang beriman’ menyerahkan diri untuk diperlakukan secara seksual oleh representan setan.

Konsep ‘misa hitam’ inilah yang terjadi di Bandung pada Mei 2013.  Yang dibuat tidak lebih dari sebuah aktus seks bebas yang diberi embel-embel agama. Mereka juga melakukan misa hitam dengan ritual intinya pada seks bebas dan memang disebut sebagai ‘misa hitam’.misa negra2

Penggunaan warna hitam diidentikkan dengan perbuatan sihir dalam kegelapan untuk merugikan orang lain. Hal itujelas berbeda dengan misa resmi yang bertujuan merayakan iman umat. Ia dilaksanakan dalam konteks penyelamatan diri dan sesama.

Memperjelas

Berpijak pada uraian ini maka konsep misa hitam yang digunakan oleh Rianghepat tidak tepat. Ia tentu tidak bermaksud sejauh itu untuk melakukan ritus dengan ‘darah korban’. Lebih lagi bukan sebuah aktus penuh seks dengan pemeran utama adalah tukang sihir. Tetapi melansirkan seruan, apalagi mengatasnamai aktivis perempuan Lembata, tentu tidak bisa dibenarkan.misa tobat(Lembata butuh pertobatan total, belajar dari pengalaman agar kisah serupa tidak terjadi lagi)

Tetapi ritus tersebut dipahami dalam konteks ‘pressure’ atau menekan.  Simpang siur kesaksian yang diberikan saat proses pengadilan mengindikasikan bahwa ada orang yang berusaha berkata jujur tetapi yang lain terkesan menyembunyikan sesuatu, terutama karena hal itu berkaitan dengan aktor intelektualnya.

Dalam arti ini, ‘misa hitam’ diharapkan dapat ‘menekan’ agar cepat terjadinya pengakuan agar permasalahan dapat menjadi lebih jelas dan lebih baik. Konsep ini pula yang kadang dipraktikkan oleh pastor tertentu dan menyebarkan konsep misa hitam yang nota bene menakutkan. Sayangnya, konsep ini bisa menyelesaikan masalah untuk sementara tetapi jauh dari sebuah penyelesaian yang mendalam dan menyeluruh.

Hal ini sangat bertentangan dengan esensi misa. Dalam perayaan ekaristi, yang diusahakan adalah terjadinya pertobatan dalam arti sebenarnya dan munculnya kesadaran diri. Adanya ritus absolusi sebagai bagian dari perayaan ekaristi juga mengandaikan bahwa keberanian mengampuni merupakan sebuah kebajikan yang perlu ditampilkan.

Tentu saja, mengampuni tidak berarti melupakan. Mengampuni orang yang bersalah tidak berarti menghentikan proses pengadilan. Ampun menjadi sebuah kesediaan psikologis untuk menerima kesalahan sebagai sebuah peristiwa yang sudah terjadi. Tetapi kesalahan itu perlu dipulihkan antara lain melalui proses pengadilan yang adil dan jujur.

Pada sisi lain, konsep misa hitam tidak bisa dilansirkan begitu saja mengingat pelaksanaannya yang sarat ritus mitis-magis, dipenuhi oleh kekuatan sihir yang pasti juga disesaki aneka konsekuensi destruktif tentu bukan merupakan sebuah penyelesaian yang bijak. Bila dilaksanakan hal itu maka yang terjadi bukan perdamaian tetapi justeru kecurigaan itu akan terus hidup dan malah kian menjadi-jadi.

Dalam konteks ini maka yang mestinya dilaksankaan bukan ‘misa hitam’ tetapi ‘misa terang’. Bukan misa yang bersifat destruktif yang ingin merugikan orang lain (meskipun kenyataan bahwa mereka itu telah bersalah), melainkan harus konstruktif demi membangun orang. Bukan lagi misa untuk memelihara bibit curiga tetapi mematahkan mata rantai pertikaian dan menawarkan solusi yang lebih baik.misat tobat

Untuk proses solusi ini, melihat rendahnya kepercayaan masyarakat pada pemerintah maka peran Gereja sangat penting dan menentukan. Bagaimana caranya? Diperlukan gerakan bersama dan terstruktur. Lembata sebagai bagian dari Keuskupan Larantuka dengan mayoritas penduduknya adalah Katolik, membuat refleksi mendalam tentang hal ini merupakan hal penting dan mendesak.

Keuskupan Larantuka misalnya terkenal dengan Repelita yang merencakan segala sesuatu secara baik. Dalam arti ini maka konflik yang terjadi tidak hanya di Lembata tetapi perang saudara di Adonara atau perang antarkampung di Solor mengindikasikan bahwa relasi keluarga telah berada pada tahap renggang dan rentan dan harus diperkuat kembali.

Membangun keutuhan keluarga ini akan menjadi langkah strategis mengingat kematangan dalam keluarga akan membawa perubahan masyarakat secara keseluruhan. Di sana kita akan jauh dari persaingan tidak sehat seperti yang pernah terjadi antara Kain dan Habel dulu dan kini sedang terjadi antara kini antara keluarga Langodai dan Wadu.

Keutuhan keluarga itu dapat dikembangkan di lingkungan tetanggan dan lingkup kerja. Rasa saling curiga perlu semakin dikikis karena ada keyakinan bahwa persahabatan itu jauh lebih penting daripada pertikaian, saling tolong menolong lebih mulia daripada saling membenci apalgai mencurigai satu sama lain.

Pada lingkup yang lebih luas tercipta bahwa menjadi pemimpin di satu tempat adalah panggilan jiwa untuk membantu saudara. Mustahil seseorang menjadi pemimpin dengan merugikan orang lain demi memperkaya diri. Tidak akan ada saudara yang berprinsip seperti itu.

Proses ini akan terus kita evaluasi dan rayakan dalam misa yang sudah menjadi rutinitas praksis iman kita. Di sana kita tidak merayakan lagi misa demi mencapai kesalehan pribadi tetapi sebuah gerakan untuk merayakan iman sebagai sebuah gerakan sosial. Bila proses ini kita jalani maka Lembata akan perlahan membersitkan terang yang mencerahkan.

Robert Bala. Mendalami Teologi Pragmatik pada Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol.

Sumber: FloresBangkit 14 Desember 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s