15. Natal, Lahir untuk Menderita

Natal, Lahir untuk Menderita

(Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

Kedengaran sangat sadis dan menyeramkan, malah bernuansa pasrah kalau melihat destinasi hidup hanya untuk menderita. Ia bisa saja kedengaran enak dalam kata-kata, seperti sebuah slogan di baju kaos di seminari kecil dulu: Cintaku tertuju kepada kurbanku. Enak dan begitu membanggakan saat dikenakan. Tetapi ketika memahami artinya lebih dalam, slogan itu tidak bisa diterima begitu saja sebagai kebenaran.buang-bayi-1

(Bayi ini sungguh lahir untuk menderita. Ia dibuang… Untung saja ada orang yang menyelamatkan…)

Pertanyaanya: mengapa penderitaan tetap  menjadi bagian dari hidup? Apakah itu berarti penderitaan harus diterima ‘apa adanya’ karena sudah menjadi bagian dari hidup?  Bagaimana memahami hidup dan derita ini dalam konteks Natal?

Rosario Derita

Derita menjadi sebuah kenyataan umum yang menyeramkan.  Dari Barat hingga Timur Flores, semua bersatu dalam derita. Dari Barat, Manggarai, pesona “Sail Komodo”, katanya menjadi kesempatan emas menyejahterakan rakyat. Sekilas memang ya. Kehadiran orang penting dari negeri ini belum lagi turis mancanegara katanya akan meningkatkan ekonomi rakyat. Ada janji ‘bedah rumah’, sebagai janji penuh pesona.

Nyatanya, ia sebuah seremoni atas menggeliatnya kapitalisme dimana yang ‘berpunya’ akan menguasai tanah rakyat demi membangun hotel berbintang. Rakyat yang ketiban berkat pun terkejut dan menggunakan uang hasil jual tanah leluhur demi tujuan konsumtif. Hal itu belum cukup menyebutkan geliat mengeksplorasi bumi atas nama tambang yang katanya tidak akan membahayakan ekologi.

Di Timur, kisah tragis juga tidak kurang. Akhir tahun 2013 ini, 16.155 nasabah Mitra Tiara lagi harap akan dikembalikan tabungannya. Sebuah harapan yang jelas-jelasnya ‘kosong-melompong’, karena mekanisme bunga 10% sudah menjadi jawaban atas keberadaan simpanan itu. Dalam 10 bulan, dana 413 miliar itu sudah lenyap karena sudah ‘dikembalikan’ dalam bunga. Karena itu mengharapkan Niko Ladi mengembalikan uangnya adalah sebuah mimpi kosong, meski Forum Peduli Nasabah Mitra Tiara masih ‘berupaya’ yang jelasnya dalam kehampaan.

Itu belum cukup kalau tidak menyebutkan kisah pembunuhan baik di Adonara maupun Solor. Masih belum cukup, kisah ‘pembuatan’ proposal yang meminta dana tidap desa 1 juta rupiah adalah wajah dari pemerintah yang bukannya merancang kemampuan ekonomi rakyat tetapi melanglang buana ke China dan Australia meminta ‘bantuan’ ketika secara ke dalam sudah ketidadaan cara untuk meminta.

Lembata sebagai ‘anak’ dari Flotim, tidak kurang kisah tragis. Kasus Laurens Wadu dan kisah mirip Langday, menunjukkan betapa pemekaran itu telah menghadirkan realitas berdarah. Itu belum cukup kalau belum disebutkan menjamurnya panti pijat dan pelacuran sambil tidak melupakan HIV/ AIDS yang sudah bukan rahasia lagi di pulau yang dulu disebut Lomblen itu.

Di bagian tengah Flores, bisa saja kelihatan aman. Ia tidak kurang derita atau karena sudah tidak menganggap lagi sebagai berita karena sudah terbiasa. Wajah Camat dan Kepala Dinas yang sudah ‘jarang’ masuk kantor di Ende karena ‘sang jagonya’ tidak lolos, berlarut-larutnya pelantikan Bupati Nagekeo yang tentu menyimpan sebuah ketidakpastian yang berakibat pada molornya pembangunan, menjadi hal yang menambahkan derita itu.

Deretan derita itu bak jalinan rosario. Dari Barat hingga Timur, rententang derita itu tersambungkan. Memang setelah puluhan derita ada fenomen optimisme, tetapi itu hanya berita kecil. Ia pun diberitakan bukan karena hal itu begitu penting tetapi karena merupakan kenyataan langka di tengah deretan panjang derita yang sudah tidak lagi penting untuk diberitakan karena sudah terlampau biasa.

Korban atau Pilihan?

Rosario derita sebenarnya bisa dikategorikan dalam dua hal.  Yang satu dialami sebagai korban dan yang lainnya sebagai pilihan. Korban biasanya dialami oleh mereka yang miskin dan lemah dalam masyarakat. Oleh minimnya akses pada kekuasaan oleh aneka keterbatasan, mereka mudah dimanipulasi oleh orang lain. Di sana derita itu terjadi karena ada yang meraup keuntungan di baliknya.pilihan

Itulah kisah kegagalan yang kebanyakan terjadi di Flores. Pemimpin daerah yang terpilih secara demokratis ternyata adalah hasil dari sebuah demokrasi prosedural. Mereka diorbitkan bukan atas motivasi menyejahterakan rakyat tetapi sekedar menjadikan rakyat objek dari tujuan partikular. Hal itu terjadi karena proses penuh korup, dijejali aneka negosiasi, karena itu saat berkuasa, yang akan dilakukan adalah bagaimana mengembalikan pinjaman.

Yang menjadi pertanyaan sulit dijawab adalah mengapa rosario derita itu seakan tercium tetapi susah dideteksi? Ibarat kentut, bau itu sudah menyebar. Sayangnya, oleh ‘senyum’ pejabat yang berkuasa menyilaukan dan membius hingga bau itu ditahan dan lama kelamaan dipikir itulah bau asli.

Untung saja, bak rosario, setelah sepuluh derita ada juga kisah-kisah mencengangkan. Prakarsa Kelompok Tani Lewowerang( KTL) di desa Honihama (Lawagoetobi) Witihama Adonara itu menjadi berita yang menyejukkan.  Kamilus Tupeng, menghadirkan kepempinan alternatif penuh contoh. Ia rela menderita hanya demi membangun kesadaran masyarakat akan kekayaan budaya gemohing yang bisa digunakan untuk memberdayakan masyarakat.

Ia berbeda dengan pemimpinnya yang ‘melanglangbuana’ ke luar negeri mencari sokongan tetapi lupa mengakar untuk membangun dengan pilar budaya yang sudah ada. Contoh belum cukup kalau kisah heroik Geng Motor Imut yang meski berkedudukan di Kupang tetapi telah juga memasuki desa-desa di Flores. Hal itu terjadi oleh hadirnya model kepemimpinan yang lahir dari kesadaran masyarakat untuk menderita, berkorban, hanya agar orang lain bisa tersenyum.

Hal menakjubkan hanyalah contoh bahwa derita itu jadi pilihan. Ia berbeda dengan pemimpin egois yang menderitakan masyarakat demi membahagian diri. Mereka justru memilih menderita agar rakyat dapat mengalami kebahagiaan. Mereka tidak tersenyum di tengah derita seperti kebanyakan pemimpin yang mengumbar senyum di baliho seakan itulah gambaran rakyatnya. Ia hanyalah ekspresi, telah memanfaatkan kekuasaan untuk memperkaya diri. Pemimpin  alternatif itu memilih menderita, ‘berdarah-darah keringat’ agar orang lain bisa tersenyum.

Jalan Salib

Natal, juga sebuah perayaan yang menghadirkan cara untuk membahagian orang lain dalam arti sebenaranya. Sang Raja, yang mestinya “Penguasa Alam Raya”, Immanuel, tidak memilih bak Anak Raja, meskipun hal itu terlalu mudah karena ‘tinggal bersabda, terjadilah semuanya’.

Ia justru memilih berkorban, menderita. Lahir di kandang binatang. Kelahirannya pun ditanggapi kecemasan Herodes yang juga ingin ‘menyembah’, sebuah ungkapan di bibir saja karena yang ingin dilakukan adalah ‘meleyapkanNya’, karena Ia yang lahir akan akan menggoncangkan kekuasaannya atau paling kurang mengganggu kenyamanannya memerintah.memilih

Tak pelak, seluruh hidupnya adalah sebuah jalan salib dan derita, hingga akhirnya wafat di Kayu Salib. Tetapi hal itu dilakukan sebagai sebuah pilihan. Di sana derita tidak disanjung melainkan diterima sebagai sebuah konsekuensi bagi setiap orang yang ingin berjuang agar orang lain bisa tersenyum.

Robert Bala. Pemerhati masalah Sosial. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s