16. Lahir untuk Membahagiakan

 

Natal, Lahir untuk Membahagiakan

(Bagian Terakhir dari Dua Tulisan)

Deretan derita bisa saja memberi kesan hingga diyakini sebagai sebuah kebenaran. Ia juga akhirnya bisa menjadi sebuah semboyan yang menyurutkan usaha untuk keluar dari derita.Diego Kedang Baby

Bagaimana bisa keluar dari pemahaman ini? Terutama, bagaimana membangkitkan motivasi untuk menjadikan kebahagiaan yang lebih bermakna membangun sebuah lingkaran yang membahagiakan yang memungkinkan terciptanya kebahagiaan untuk semua?

Melalui Proses

Kebahagiaan sebagai ‘akhir’ dari sebuah perjuangan tentu tidak sekedar sebuah impian. Ia tidak ibarat kisah romantis yang ‘happy ending’ yang begitu ‘mulus’ semuanya. Di sana tokoh utama hampir menang dalam setiap perjuangan. Yang lain sudah bisa diduga, kalah dan menyerah.

Kisah ilusif seperti itu, oleh Helen Keller, hanya ilusif belaka. Ia meninabobokan dan tidak mewakili realitas kehidupan itu sendiri. Baginya, kebahagiaan yang dimaksud lebih merupakan sebuah watak atau karakter yang terbentuk dari rentetan derita dan perjuangan.

Untuk itu ia menulis: Character cannot be developed in easy and quiet, only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened, ambition inspired, and success achieved. Yang dimaksudkan sangat jelas. Watak tidak bisa dibentuk secara mudah dan dalam suasana penuh sunyi. Justeru derita akan memperkuat jiwa, dan di sana ambisi terinspirasi yang akhirnya membawa kesuksesan.

Pertanyaannya, apakah proses ini bisa dijalani dengan sabar? Inilah pertanyaan mendasar karena berhadapan dengan egoisme dan napsu untuk cepat memperoleh hasilnya. Lebih lagi godaan jalan pintas menjadi begitu sering digunakan oleh minimnya kesabaran.

Egoisme kerap hadir dalam diri pemimpin yang menyadari kepemimpinan sebagai sebuah kehormatan untuk mendapatkan penghormatan. Ia bukan untuk melayani tetapi untuk dilayani. Ia pun senang dengan aneka pujian dan gembira dengan aneka sanjungan. Suka menerima berita yang menyenangkan dan berusaha menjauh berita yang tidak menggembirakan.

Tidak hanya itu. Memerintah merupakan sebuah seni untuk merangkaiankan sebuah strategi. Dalamnya aneka potensi dijadikan sebagai sebuah kekuatan. Seni mengorgansir aneka peluang telah menjadikan sebuah tekad menciptakan sebuah ‘team work’ yang kuat. Pemimpin seperti itu sangat jauh dari dendam. Siapa pun yang pernah jadi musuh dirangkul karena ia tahu, seorang musuh akan memberitahukan kelemahannya yang akan sekaligus menjadi sebuah kekuatan bila diperbaiki.

Keutamaan inilah yang kian jarang ditemukan dalam banyak pemimpin. Fenomen mengguritanya korupsi di NTT hingga seakan membenarkan bahwa memang kita masih jadi Nusa Tetap Terkorup di negeri ini. Malah julukan itu seakan menjadi sebuah sindiran teramat pedas karena pihak luar sekaligus menertawai bahwa propinsi ini sangat kental dengan kristianisme.

Sayangnya, kristianisme dihidupi dalam cara yang keliru. Solidaritas dan cinta kasih dipahami secara sempit. Hasil korupsi itu tidak dianggap ‘dosa’  karena ‘dinikmati secara bersama-sama’. Tak heran dalam kondisi seperti itu, tidak ada yang bisa berbicara karena semuanya terlibat. Ia adalah upaya ‘makan bersama’ dan bersama-sama pula saling mendukung agar kebobrokan itu jangan sampai tersibak.

Di sana cinta kasih pun dipahami dalam arti sangat ekstrim. Cinta kasih dianggap sebagai usaha membagi apa yang sudah dimiliki. Tak heran, donasi untuk gereja menjadi begitu kerap terjadi. Di sana sebuah proses ‘maaf’ itu terjadi. Yang memberi seakan tenang karena ‘bagian’ untuk Tuhan sudah diberikan. Sementara yang menerima pun berat untuk berbicara mewakili suara tak bersuara karena telah menjadi bagian dalam prose situ.

Lingkaran Membahagiakan

Kelahiran Yesus Kristus di Malam Natal, adalah sebuah contoh tentang c ara hidup yang membawa kebahagiaan total. Ia adalah sebuah kebahagiaan yang diperoleh melewati sebuah proses.Diegoku

Sebagai proses, ia tentu tidak sekedar membiarkan manusia berjuang sendirian. Manusia dilengkapi akal budi dan kehendak untuk dapat mempertimbangkan dan merefleksikan setiap perbuatannya. ia juga diberi kesadaran untuk menyadari risiko perbuatan tetapi sekaligus membangunkan optimisme untuk terus maju berjuang.

Tidak hanya itu. Kepada manusia juga para politis disertai visi iman untuk melihat hidup melampaui apa yang dapat dilihat kini. Iman memberi ruang untuk merancang sebuah hidup tidak hanya sekarang tetapi berlanjut. Hal itu akan menjadi sebuah kendali sebagai orientasi agar di mana pun (entah dipantau atau tidak), ia tetap yakin pada perbuatan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan.

Kenyataan inilah yang terjadi dalam diri Yesus yang lahir. Ia memilih menjadi manusia dan melewati kehidupan seperti manusia, mengalami penderitaan dengan sabar, karena tahu bahwa itulah yang harus dilewati oleh setiap manusia. Di sana godaan untuk ‘mengubah batu jadi roti’, tidak akan diambil sekedar menjadikan hidup mudah. Ia mengajarkan kerja keras dan ketabahan melewati semuanya.

Santu Paulus cukup jelas mengungkapkan hal ini. Terhadap kenyataan derita dalam hidup, ia menulis: “Kita malah bermegah djuga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan  menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan” (Roma 5,3-4).

Sabda yang menguatkan memunculkan kehendak untuk merancang sesuatu yang lebih jauh. Yang dimaksudkan, di tengah Rosario derita, mestinya memunculkan resolusi di masa Natal 2013 dan Tahun Baru 2014. Jelasnya, bagaimana menjadikan wajah Flores menjadi lebih nyaman untuk didiami bersama. Bagaimana menjadikannya sebagai rosario kebahagiaan dalamnya bukannya derita ditiadakan tetapi bagaimana dijalani secara kreatif sehingga berujung pada kebahagiaan untuk semuanya.

Hal itu tentu butuh pemimpin yang punya hati untuk melihat derita rakyat sebagai panggilan jiwa menjadikan mereka tersenyum. Ia juga rela menderita, rela menyangkali aneka kemudahan yang bisa dibuat untuk memperkaya dirinya. Dalam dirinya hanya adalah semangat ‘kenosis’, mengosongkan diri dan kepentingan untuk memberi ruang bagi kesejahteraan masyarakat.

Masyarakat yang juga umat tentu juga diharapkan tidak pasif melainkan secara proaktif ikut ambil bagian dalam menentukan pemimpinnya. Godaan membeli suara dan tipu muslihat menjelang pileg dan hadirnya orang-orang yang ‘superdermawan’, yang kelihatan begitu ‘ikhlas’ membantu Gereja, hendaknya tidak bisa dilihat secara selektif. Kesadaran perlu dimunculkan bahwa bantuan itulah yang harus dikembalikan berlipat-lipat saat berkuasa. Di sana rakyat ditinggalkan dan kemajuan yang diimpikan menjauh malah menghilang.

Jelasnya, yang dinanti adalah kesediaan dari semua orang untuk menjadikan sebuah lingkaran yang membahagiakan. Dalam lingkaran ini, egoisme dikesampingkan, jalan pintas dijauhkan. Sebaliknya semua terpanggil untuk menjadikan cara hidup Yesus yang lahir dan menderita sebagai contoh inpiratif untuk menjadikan hidup lebih baik mulai kini dan semoga sampai segala abad.

Robert Bala. Pemerhati masalah Sosial. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol.

Sumber: FloresBangkit 21 Desember 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s