17. “Paus” Ditikam Setelah Misa

“Paus” Ditikam Setelah Misa

(Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

Sumber: Flores Bangkit 18 Januari 2014

Kisah sukses nelayan Lamalera, Lembata  menangkap tiga ikan paus dalam waktu hampir bersamaan, menarik untuk disimak. Di sana, lama fa (juru tikam) dari tiga perahu berbeda membidik secara tepat sasarannya (Floresbangkit, 10/1). Sebuah kabar gembira karena sekaligus membawa sebuah harapan hidup untuk tidak sedikit orang Lamalera dan sekitarnya.

Keberhasialn itu tentu saja memberi penegasan atas proses yang sudah dilaksanakan. Artinya, baik upacara adat maupun perayaan misa yang telah dilaksanakan sesuai prosedurnya. Arwah leluhur dan Tuhan yang kepadaNya diarahkan semua doa, ‘mendengarkan’ mereka dan memberi rezeki.

Namun, bagaimana menjelaskan relasi antara ritual adat dan misa dengan keberhasilan? Mustahil bertanya demikian. Ketika keberhasilan ada, maka dengan jelas ditarik sebuah kesimpulan logis. Ritus dan doa  terkabulkan. Tetapi, apa yang terjadi bila tidak ada keberhasilan malah kecelakaan? Apakah juga disebabkan juga oleh Tuhan?

Mohon Perlindungan

 

Mengkap paus merupakan sebuah tradisi yang sudah lama berlangsung. Diperkirakan dimulai sejak abad XIV dan terus berlangsung hingga kini. Itu berarti sudah ratusan tahun dihidupi dan telah menjadi tradisi.

Laut Sawu yang berada di antara pulau Timor dan Lembata menjadi tempat nelayan menangkap paus. Bisa dipahami. Sumber makanan yang berlimpah yaitu plankton mengumpan gerombolan ikan paus yang bergerak dari kutup Selatan ke Samudera Pasifik untuk ‘mampir’ sebentar.

Masa pergerakan paus atau disebut ‘lefa’ yang biasanya terjadi pada Mei – Oktober dimaknai sebagai ‘berkah’. Masyarakat pun bersiap ‘mengais’ rezeki untuk memburu mamalia raksasa yang dikenal dengan sperm whale / Physeter marcrocephalus atau kotaklema dalam bahasa setempat.

Tetapi menangkap paus bukan perkara mudah. Raksasa laut itu terlalu perkasa. Bayangkan saja. Beratnya 15 sampai 20 ton. Kalau ia ‘bereaksi’, maka siapa pun bisa bertahan. Apalagi sarana yang digunakan untuk menghadang sang moster laut itu sangat sederhana. Secara kasat mata, penguasa laut itu tidak akan mudah dijadikan ‘rezeki’.

Kesederhanaan peralatan itu dapat terbayangkan. Perahu layar atau dalam bahasa setempat disebut peledang sangat kecil. Ia pun hanya dilengkapi alat tikam atau tempuling (harpoon) dan tali panjang (tali leo), dan beberapa sarana lainnya seperti bambu sepanjang 4 meter.lamalerra

Hal inilah yang mendorong pelaut Lamalera untuk membekali dirinya dengan upacara adat dan perayaan misa. Sehari sebelum musim penangkapan atau yang biasa disebut ‘lefa’, para pemilik perahu (tena alap), mengadakan doa di rumah adat masing-masing.

Selanjutnya, masyarakat berkumpul di kapel Santo Petrus, yang nota bene terletak di pinggir pantai, dan terletak di antara rumah tempat menyimpan peledang, untuk merayakan misa, tepatnya dilaksanakan tanggal 1 Mei. Tujuannya tentu saja memohon perlindungan dari Tuhan, pemberi rezeki setiap hari, agar masa yang sekaligus berkat tetapi juga mengancam jiwa itu dapat dilewati dengan baik.

Permasalahannya, apakah misa dan upacara adat yang bertujuan menyatukan dan memberi kebahagiaan bisa dipadankan dengan kegiatan memburuh paus? Jelas adanya kontradiksi. Ada doa untuk membunuh. Ia juga memberi kesan, Tuhan juga ‘mengiyakan’ aksi ‘brutal’ mencederai mamalia yang dilindungi itu.

Arif dan Bijak

Terhadap aksi yang bisa sepintas dianggap mencederai mamalia dan terutama menghadirkan kontradiksi penghayatan agama, dalam kenyataannya tidak dipahami demikian. Ritus adat dan agama tidak ‘memberkati’ aksi membunuh hanya demi memenuhi insting pemburu hal mana banyak dilakukan pemburu sadis.

Yang ada, sebuah perjuangan untuk memenuhi kebutuhan hidup. BBC, dalam www.bbc.co.uk/learningzone/clips/sustainable-fisihing-lamalera-whale-hunters-in-indonesia/11954.htm, menulis sekaligus mewakili sesuatu yang merupakan alasan perburuan yakni menjadikan paus sebagai sumber rezeki. Itu berarti apa yang diperoleh untuk keberlangsungan hidup, jauh dari kesan melakukan perburuan demi tujuan komersial.

Kembali ke ritual adat dan misa, bila proses berburu berjalan lancar dan ‘sukses’ dimana hasil buruan diperoleh maka siapa pun akan dengan yakin menandaskan semuanya terjadi berkat doa yang terkabul baik dari leluhur maupun berkat perayaan misa. Iman umat pun akan kian teguh karena doanya terkabul.

Tetapi, apa yang terjadi ketika rezeki yang diminta itu tidak terkabulkan, atau malah membawa petaka mortal yang mengancam pelaut terutama sang penikam, lama fa, hal mana begitu kerap terjadi beberapa tahun terakhir?

Tragedi kematian Teodorus Nuo Ebang (2010) yang terbelit tali tempuling,  kebasan ekor Paus yang menghilangkan nyawa Goris Klake Sulaona (3/3/12), atau Mateus Daeng Ebang yang ‘beruntung’, yang sempat tertolong (Mei 2012), meski dengan risiko, kakinya diamputasi menjadi contohnya.

 

Mengikuti alur pemikiran di atas, maka kesan sepintas, Tuhan tidak memberikan rezeki sebagaimana diminta. Sebuah kesimpulan yang bisa jadi benar. Sebagai sebuah permintaan, tentu saja ada yang ‘terkabulkan’, ada yang ditunda, malah yang lainnya tidak sama sekali. Itulah pemikiran manusiawi.lamalera

Pada sisi lain, tragedi yang bahkan menelan korban jiwa bisa dianggap sebagai kesalahan sendiri yang tidak sempat memurnikan diri seutuhnya sebelum melaut, sebagaimana tuntutan adat dan agama. Atau ketika semua proses itu sudah dipenuhi, sebuah sebab yang sudah lama tidak dipedulikan bisa dianggap sebagai penyebabnya.

Sekilas, cara pandang seperti itu sah-sah saja. Tetapi ketika ditelusuri lebih jauh maka cara pandang itu bisa memberikan pemahaman keliru baik tentang peran Tuhan di balik sukses dan petaka maupun upaya mempersalahkan orang lain atau diri sendiri bisa saja bersifat tidak mendewasakan.

Dalam konteks ini maka yang mesti diharapkan adalah perlunya sebuah cara pandang yang melihat keagungan Tuhan di baliknya. Tuhan Mahakuasa berada di baliknya. Tetapi kebesaranNya justru terletak pada kemahakuasaanNya yang menciptakan alam semesta dan segala isinya yang sekaligus diberi otonomi bergerak di alam raya.

Itu berarti sebagaimana paus diciptakan dengan kemampuan mobilitasnya dari kutup ke Samudera Pasifik dan kemampuan membela diri hal mana mendorong manusia untuk lebih memantapkan lagi persiapan lagi dengan tidak memberikan sedikit pun kekeliruan terutama saat-saat genting terjadi penangkapan. Hal itu juga sekaligus mengawaskan agar lebih cerdik dalam proses penangkapan.

Itu berarti keberhasilan dan kegagalan adalah hasil dari otonomi ciptaan memaksimalkan potensi yang sudah dihadiahkan olehNya. Di sana keberhasilan dan kegagalan harus menjadi sebuah permenungan agar ke depan terdapat hasil yang lebih baik.

Robert Bala. Penikmat Teologi Praksis. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol. 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s