(8) SVD, 100 Tahun Berjalan Bersama

SVD, 100 TAHUN BERJALAN BERSAMA

Tahun 2013 menjadi angka sangat berarti bagi gereja Flores dan Timor. Tak terasa, sudah 100 tahun Serikat Sabda Allah atau yang dikenal dengan Societatis Verbi Divini (SVD) berkarya di sini. Tidak heran, SVD telah menjadi bagian yang nyaris terpisahkan dari Flores dan Timor.

Papan Mgr. ManekBagaimana proses awal itu terbentuk hingga mengantar serikat yang dalam bahasa Belanda dikenal dengan “Goddelijk Woord Orde” identik dengan Flores dan Timor? Apa yang menjadi kunci keberhasilan dalam perjalanan seabad ini?

Berawal dari Lahurus

Awalnya tentu sulit bagi Serikat Yesuit untuk meninggalkan ““Lesser Sunda Islands” (Kepulauan Soenda Ketjil). Bagaimana tidak, mereka sudah berada di tanah misi itu hampir 50 tahun, tepatnya sejak kedatangan P. Metz, SJ 1865.

Selain itu, umat sudah merasa dekat dengan para Yesuit. Tetapi proses peralihan perlu dilakukan. Karena itu, pada tanggal 1 Maret 1913, Serikat Yesuit (SJ) yang diwakili oleh P. Mathijsen SJ dan Br Moecle, SJ menyerahkan ‘tanah misi’ kepada SVD dan diterima oleh Petrus Noyen SVD (mantan misionaris di China) dan Br Kalikstus, SVD (mantan misionaris dari Papua New Guinea).

Tidak beberapa saat kemudian, barisan SVD diperkuat oleh kehadiran P. Fransiskus de Lange, SVD, P. Johan Kreitten, SVD, P. Ardnolus Verstralen, SVD, P. Wilhelmus Baack, SVD, Br Lucianus Henri Molken, Br Sales dan Br Robertus Van de Lith.

Semuanya memberi landasan awal yang kokoh hingga akhirnya misi itu mencapai angka 100 di tahun 2013. Bagi mereka, kerja keras dan sikap menyatu serta hidup bersama akan menjadi tuntutan penting. Sebuah contoh. Hanya dalam waktu 4 bulan, P. Petrus Noyen, SVD bisa berkhotbah dalam bahasa Tetun (padahal di China, ia butuh waktu 2 tahun).

Proses awal ini tidak bisa dipisahkan dari sebuah tempat bernama Lahurus. Kampung yang terletak di bagian Timur propinsi NTT ini menjadi awal dari sebuah sejarah. Para misionaris awal memberi kesan mendalam hingga sungguh menjadi batu loncatan untuk melaksanakan misi yang lebih besar. Di daerah ini dengan cepat menyatu dengan umat.

Tekad misionaris juga ‘klop’ dengan praksis hidup orang Lahurus. Mereka memiliki komitmen untuk mengikuti hal yang dianggap baik dan berkesan. Jadilah “Bei Manek”, (sapaan untuk Gabriel Manek) tidak sekedar ikut-ikutan menjadi misionaris tetapi sungguh berkomitmen hingga akhirnya menjadi imam SVD pribumi pertama di Indonesia. Malah kemudian menjadi uskup pribumi pertama SVD dan uskup pribumi kedua Indonesia.

Kaum wanita tak ketinggalan. “Bei Bete” demikian nama panggilan Sr Mariel Klotilde, SSpS pun mengikuti jalan yagn sama. Ia adalah suster pribumi pertama di Timor berasal dari kampung nan sejuk ini. Tak lupa, Sr Dolorosa, CIJ, adalah biarawati CIJ pertama dari Timor juga dari Lahurus.

Aneka Wajah

Kisah yang dimulai di Lahurus itu ternyata telah berkembang lebih jauh. Pusat misi kemudian dipindahkan ke Ende Flores, yang saat itu lebih strategis, demikian pertimbangan Pastor Petrus Noyen, SVD. Karena itu pada tahun 1914, SVD menginjakkan kaki di Flores dan secara perlahan menjadi pusat SVD Indonesia saat itu.

Sebuah proses baru dimulai. Misionaris dari berbagai negara datang dan pergi ke bumi Flores dan Timor. Tidak itu saja. Misionaris juga kemudian datang silih berganti ke Bali, Jawa, Kalimantan, dan Sumatera untuk tidak mengatakan Indonesia secara keseluruhan.

Tercatat misalnya ratusan misionaris asing. Terbanyak, menurut data adalah misionaris Belanda sebanyak 525 orang dan Jerman, 152 orang, tanpa melupakan misionaris dari Ceko, Polandia, Spanyol, Austria, dan lain-lain.
Mgr Gabriel Manek, svdTidak hanya itu. Kehadiran SVD ditandai dengan tekad bahwa mustahil, Gereja lokal akan terus ‘dihidupi’ dari luar. Ia harus menghidupi dirinya sendiri. Karena itu, pendirian lembaga pendidikan imam di Ledalero dan bruder di Ende menjadi bagian penting dari misi itu. Buah awal itu ‘dipetik’ melalui penahbsian imam, P. Gabriel Manek SVD dan P. Karel Kale Bale, SVD pada tahun 1941. Sejak saat itu, bumi Flores terus menuai buah pendidikan. Hingga kini tercatat 1522 imam dan 18 uskup lahir dari panti pendidikan SVD.

Malah Gereja Flores tidak sekedar bertumbuh untuk dirinya sendiri. Sejak tahun 1983, ia sudah mengirimkan misionaris ke tanah misi di seantero jagat yang jumlahnya kini ratusan orang. SVD Flores karenanya bukan hanya untuk dirinya sendiri hingga mudah diplesetkan menjadi “SF(V)D, alias Serikat F(V)lores Doang karena hanya berasal dan berkarya di Flores. Lebih dari itu, SVD sudah menjadi Indonesia dengan terbentuknya 4 provinsi yakni Ende, Ruteng, Timor, dan Jawa. Jadinya aneka wajah kini mewarnai SVD Indonesia.

Jalan Bersama

Apa sebenarnya yang menjadi kunci keberhasilan tersebut? Mengutip sebuah pepatah tua, yang dikutip dalam buku Kenangan Perayaan 100 Tahun SVD Indonesia dan 35 Tahun Provinsi SVD Jawa 2012, sebuah kata diakui sebagai kuncinya yakni ”jalan bersama.” Dalam proses ini, keunikan tiap pribadi disinergikan dalam kebersamaan hidup berkomunitas sehingga menjadi sebuah kekuatan misional yang luar biasa.

Kekuatan itu sekaligus menandasakan bahwa yang menjadi prioritas misionaris SVD bukan perjuangan individual meski hal itu bisa mempercepat ritme perjalanan. Ia juga tidak sekedar mengambil untung yang ditawarkan oleh privilese dari sesama sebangsa dan setanah air yang tengah hadir di negeri ini sebagai penjajah.

Jalan pintas cepat itu tidak dipilih. Bagi misionaris SVD, yang terbaik adalah mengakar dan mengumat. Itulah pilihan jalan bersama umat. Karena itu perlahan umat melihat dan merasakan perbedaan antara orang Belanda sebagai penjajah dan para misionaris sebagai pembawa pembebasan. Hal itu menjadi sebuah kesan mendalam dan terus dihidupi sebagai sebuah kebajinkan yang menjadi ciri dari misionaris SVD saat itu (dan semoga) hingga kini.

Kesatuan dengan umat itu tentu bukan sekedar sebuah kesaksian keluar saja. Yang tidak kalah penting, para misionaris, secara ke dalam menjalani kehidupan berkomunitas sebagai kekuatan, dalamnya doa pribadi dan bersama menjadi bagian yang tak terpisahkan. Atau, meskipun harus hidup terpisah oleh pelayanan parokial, tetapi waktu untuk ada bersama, saling mengunjungi, merupakan nilai yang tidak ditawar-tawar.

Dalam perspektif ini, mengapa SVD baik Indonesia maupun sejagat menjadikan semboyan one spirit, one community, and one mission (satu roh, satu komunitas, dan satu misi) sebagai sesuatu yang sungguh dihidupi. Doa, entah pribadi maupun komunitas menjadi kekuatan internal. Tetapi ia akan semakin kuat kalau didaraskan tidak secara pribadi tetapi juga selalu diperkuat dengan persaudaraan komunitaris. Aksi spiritual pun akhirnya dijiwai sehingga mengurat-akar dan tanpa disadari dijalani sebagai sebuah kebutuhan dan menjadikan perjalanan itu sejauh hingga kini.

Ujug dari doa dan komunitas itu jelas berimbas pada misi yang handal. Ia tidak hanya sekedar bertahan tetapi kian menunjukkan kiprahnya di tengah tuntutan globalisasi. Di sana tantangan menghadang dilihat sebagai peluang untuk lebih berkiprah, hal mana sudah ditunjukkan SVD 100 tahun yang lalu disertai harapan untuk terus mengukir 100 tahun lagi ke depan. Ad multos annos. (Bersambung)

Sumber: FloresBangkit 18 Agustus 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s