18. Lamalera Mengajarkan

Lamalera Mengajarkan

(Bagian Terakhir dari Dua Tulisan)

Memahami proses perburuan paus dengan cara-cara sederhana yang nota bene sudah dipertahankan lebih dari setengah abad, menunjukkan adanya kearifan lokal yang dihidupi sebagai nilai dan dipertahankan ratusan tahun.

Kearifan dimaksud adalah nilai yang sangat tinggi yang bisa ditelusuri dapat memberikan pembelajaran teramat penting tidak saja bagi sebuah lingkup lokal (propinsi), tetapi mengapa tidak, bersifat nasional dan mengapa tidak mendunia.

Iman pada Laut Sawu

‘Pemurnian’ tentang pemahaman peran Tuhan di balik keberhasilan dan kegagalan tidak berpretensi meniadakan peran Tuhan. Sebaliknya ia justru memberikan pemahaman utuh yang sekaligus mematangkan iman akan Tuhan. Ia yang Mahakuasa tidak egois dengan menciptakan manusia dan mendiktenya dari saat ke saat. Ia justru memberinya otonomi kepada masing-masing ciptaan untuk ada, hidup, dan bergerak.lamalera

Selanjutnya kepada makhluk dengan keunggulan paling tinggi karena memiliki akal budi dan kehendak, diciptakan juga kesadaran refleksif untuk selalu merefleksikan apa yang terjadi di sekitar dan menentukan tindakan yang tepat. Iman di sini bisa dipahami sebagai sebuah kesadaran dan kegakuman dan syukur akan semua yang sudah disiapkan oleh “Yang di Atas”.

Inilah kedewasaan iman yang nota bene dipahami dan dihidupi ratusan tahun oleh orang Lamalera. Proses ritual dan upacara misa menggambarkan sebuah keyakinan bahwa tidak ada orang yang secara kebetulan berada di sebuah daerah secara kebetulan. Dalam konteks ini, masyarakat Lamalera yang berada di daerah tandus berbatuan yang niscaya bisa mengharapkan sebuah kehidupan agrikultural pada saat bersamaan terbuka matanya untuk melihat adanya potensi menangkap hewan mamalia raksasa, paus, untuk dijadikan makanan.

Dalam perspektif ini, upacara adat dan misa merupakan sebuah perayaan syukur sekaligus permohonan. Syukur karena dilahirkan di pinggiran Laut Sawu. Mereka mendiami sebuah jantung bentang laut paparan Sunda Kecil di bagian selatan segitiga terumbu karang (the coral triangle) dunia dengan keanekaragaman habitat karang tertinggi di dunia.

Tidak hanya itu. Laut Sawu juga menjadi koridor migrasi utama bagi 14 jenis paus termasuk di antaranya jenis paus langka, yaitu paus biru (balaenoptera musculus) dan paus sperm (physeter macrocephalus). Hal itu bukan kebetulan. Laut Sawu merupakan daerah kaya yang banyak mengandung fitoplakton yang merupakan bahan dasar rantai makanan di laut.

Kenyataan ini tentu saja disadari oleh masyarakat Lamalera tidak saja sekarang tetapi sudah beratus tahun. Hidup di sebuah kekayaan dunia tak terkirakan, mereka tak lantas jadi rakus dengan bertindak secara egois melenyapkan apa saja yang hadir di depan. Ini dapat terlihat dari kesederhanaan alat penangkapan ikan paus yang dimiliki. Oleh tuntutan hidup, mereka tentu saja diharapkan dapat menangkap hewan raksasa itu tetapi dilakukan secara bijak. Itu terbukti, selamat hampir 600 tahun, ‘monster laut’ itu masih ada.

Mengelola Harapan

Iman sebagai sebuah kebajikan, sebagai sebauh syukur dan kekaguman atas anugerah ilahi, tentu bukan akhir. Permasalahannya, apa yang dimiliki kini sebagai sebuah kekayaan, mesti dialami juga oleh generasi berikutnya. Itu berarti, bagaimana kekayaan Laut Sawu dan kebajikan menangkap ikan paus juga bisa diwarisi ke generasi berikutnya?berbagian

Setelah mendapatkan ‘hasil’, mereka saling ‘berbagi’

Di sini harapan dikelola dengan cara memilah dan memilih ‘mangsa’ yang akan ‘ditikam.’ Jelasnya, dalam proses penangkapan, sebuah kearifan lokal yang tidak mengizinkan untuk menangkap paus yang tengah hamil. Hal itu tentu disadari sebagai ‘membunuh’ rezeki generasi berikutnya.

Dalam konteks ini, harapan itu harus dikelola. Artinya, berharap akan sesuatu di masa depan tidak saja dipahami untuk diri sendiri tetapi meluas sampai ke semua generasi. Dengan demikian, harapan itu harus dikelola secara kreatif.

Harapan inilah yang menjadi daya hidup masyarakat Lamalera. Mereka keluar dari kegersangan geografis Lamalera karena yakin bahwa ada berbagai cara yang membuat hidup mereka lebih berarti. Hal itu pula yang memunculkan keberanian dalam diri untuk bisa melaut melawan ganasnya Laut Sawu.

Ha inilah yang tentu saja menjadi pendorong bagi lama fa (juru tikam) untuk melakokankan perannya secara baik saat menikam paus. Ia berani karena yakin bahwa apa yang diperoleh akan menjadi rezeki dan harapan hidup bagi banyak orang.

Kasih Tanpa Batas

Masyarakat Lamalera yang menghidupi pemahaman iman (tetapi harus terus dimurnikan), dan terus mengelola harapannya, pada gilirannya memahami, kekayaan alam yang ada tidak bisa dinikmati secara sepihak.

Di satu pihak, hal itu lahir dari sebuah kesadaran tentang kondisi geografis yang tidak memungkinkan sebuah otosubsitensi dalam arti, menghasilkan apa yang dimakan dan memakan apa yang dihasilkan. Alam tidak memungkinkan agar jagung dan ubi bertumbuh secara alamiah di daerah berbatuan.

Karena itu, tidak ada pilihan selalin membuka sebuah ruang interkasi dengan masyarakat sekitar. Di sinilah keunggulan kaum wanita Lamalera yang harus meninggalkan keluarganya, berjalan kaki dari kampung ke kampung sambil membawa hasil buruan untuk ditukarkan dengan bahan makanan.

Kenyataan ini mendorong orang Lamalera untuk selalu terbuka dengan orang lain, membagi kasih dengan orang lain. Sebuah relasi persaudaraan yang dihidupi dan diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi kebajikan yang dihidupi dan dianggap sebagai sebuah nilai yang sudah melekat arat pada orang Lamalera.

Di sini jelas, tiga kebajikan kristiani: iman, harap, dan kasih dihidup secara kreatif. Mereka beriman secara sadar dan terus direfleksikan. Pada gilirannya harapan dikelola secara kreatif dan akhirnya dihidupi secara sangat alamiah tentang sebuah persaudaraan yang perlu dibangun siapa pun.

Pemahaman ini mestinya membangun kesadaran dalam perspektif lain. Konservasi Laut sebagaimana amanah UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, dan UU No 31 Tahun 2004, tentu tidak bisa dipahami sekedar melindungi biolaut dan kekayaan lainya di Laut Sawu.

Ia harus ditafsir lebih luas, termasuk di dalamnya, konservasi atas sebuah praktek budaya dan kebajikan nilai yang sudah dihidupi masyarakat Lamalera. Selama ratusan tahun mereka telah menghidupi kebajikan yang sangat mendalam darinya perlu dipertahankan dan bukannya tradisi mereka dikorbankan hanya karena ingin melindungi paus.

Yang terpenting, dari praksis menangkap paus, kita perlu belajar, tentang kebajikan hidup orang Lamalera, tetapi juga bagaimana menjaga sebuah keseimbangan alam sehingga ‘awet’ untuk semua generasi.

Robert Bala. Penikmat Teologi Praksis. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s