(9) SVD, 100 TAHUN, SEBUAH REKOGNISI

SVD , 100 TAHUN, SEBUAH REKOGNISI

(Bagian Terakhir dari Dua Tulisan)

Sebuah rencana misi yang lebih tepat tentu saja merupakan permenungan dan buah dari penelitian lapangan yang terus dilaksanakan oleh lembaga misi SVD yang hampir terdapat di semua provinsi SVD Indonesia. Institusi misional itu sangat handal sehingga tanpa sumbangan pikiran pun sebenarnya konsep itu sudah dikaji yang tentu saja lebih dalam dari tulisan ini. ArnoldTetapi berpijak arus pemikiran baru dalam dunia pendidikan tempat di mana penulis secara intens melaksanakan refleksi dan pendalaman (karenanya tidak ditemukan referensi biblis hal mana menjadi ciri dalam pemberian tulisan tentang misi).  Basis dari tulisan ini lebih mengarah pada bagaimana pendidikan umum merenovasi dirinya. Dari sana, implikasi bisa saja diambil untuk memperdalam misi yang nota bene merupakan sebuah pendidikan dengan jangkaun lebih dalam karena menyangkut iman di tengah dunia yang kian berubah.

Krisis dan Ketakpuasan  

Aneka krisis yang terjadi di dunia pendidikan pada umumnya dan kehidupan membiara khususnya memunculkan pertanyaan tentang apa sebenarnya yang menjadi akar penyebabnya. Apakah hal karena perubahan realitas global yang daya pengaruhnya sangat besar?

Kenyataan ini tidak bisa dipungkiri. Perubahan dan perkembangan dunia begitu cepat. Pada milenium yang lalu, Gereja sungguh menyadari hal ini. Dunia sebagai locus (tempat) di mana sebuah refleksi teologis dilaksanakan sudah mengalami perubahan. Perubahan itu malah terlalu cepat sehingga nyaris dideteksi apalagi didalami secara sangat mendalam.

Kenyataan itu telah mendorong adanya pembaharuan. Keberadaan kaum biarawan yang sebelum Konsili Vatikan II lebih ‘kompak’ secara ke dalam harus membuka diri. Di sana masyarakat yang telah berlangkah lebih jauh dalam perubahan tentu menyambutnya positif. Tetapi bukan bagi kaum berjubah. Ia bisa saja berimbas negatif bila peluang itu tidak dimaknai secara tepat.

Di sini menjadi contoh bahwa penyesuaian terhadap dunia mestinya tidak menjadi takaran tunggal. Dunia dengan ritmenya akan bergerak dan harus diakui tidak akan bisa dikejar. Mengutip Frederich Herzberg, (1923-2000) dalam The Motivation to Work, 1967, faktor ekstrinsik itu memang penting. Seseorang apalagi serikat perlu membuka diri untuk selain menjawabi tuntutan dunia juga menyelami kehendak anggotanya (terutama yang masih muda energik) yang ingin adanya langkah sigap menyikapi perubahan.

Sebagai contoh tentang tuntutan kepemilikan barang yang sebelumnya dianggap ‘haram’ tetapi mulai ‘dihalalkan’. Memiliki kendaraan, alat komunikasi berupa Handphone hingga Ipad dan punya rekening di bank dianggap wajar karena (katanya) untuk membantu misi. Dalam kenyataannya,  benar. Dalam dunia yang kian menyerupai sebuah kampung, informasi harus cepat diperoleh. Uang pun bukan dianggap sebagai sumber dosa tetapi bantuan untuk misi.recognitionTetapi apakah tuntutan kebutuhan eksternal itu menjadikan misi itu lebih baik dari sebelumnya? Tentu tidak mudah menjawabnya. Tiap zaman berubah sehingga kita tidak bisa menggunakan takaran kini untuk mengukur yang sebelumnya. Tetapi kalau kita kritis, sebuah kesimpangsiuran bisa terjadi lantaran orang gagap menilainya. Secara kuantitas mudah karena ditunjang data faktual. Tetapi secara kualitas, hal itu bisa dipertanyakan.

Yang terjadi, bila kebutuhan lahiriah (yang katanya tuntutan zaman) tidak dipenuhi maka memunculkan kekecewaan dan ketidakpuasan. Tidak sedikit orang merasa ‘pembesar’ tidak memahami fasilitas yang dibutuhkan di lapangan. Mereka lalu mulai ‘ogah-ogahan’ dalam pelayanan, hal mana juga lumrah terjadi di ‘dunia luar’.

Kepuasan Internal

Lalu, apa yang bisa menjadi landasan yang bisa melahirkan kepuasan sebagai pijakan internal? Kembali pada Herzberg, kekuatan ada pada pekerjaan itu sendiri yang tentu dalam kehidupan membiara adalah panggilan itu sendiri (the vocation itself).

Kesadaran diri ‘dipanggil’ adalah tuntutan yang paling dalam. Di sana seseorang tidak bisa tidak harus menjawabinya karena seruan itu sangat pribadi dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tetapi sebagaimana di dalam dunia kerja itu sendiri, panggilan baru langkah awal. Bila ia dijadikan tujuan maka terkadang mudah dimanipulasi oleh hal-hal yang disebut Herzberg hal ekstrinsik.

Seruan itu selanjutnya dijadikan peluang untuk ‘berprestasi’ (achievement). Hal yang dimaksud belum diartikan dalam karya melainkan perjuangan internal tiap pribadi untuk terus mematangkan diri (advancement). Kematangan diri dicapai tahap demi tahap sepanjang hidup.

Bila  proses ini dijalani secara kreatif maka pengakuan (recognition) dari luar akan hadir dengan sendirinya. Ia diakui bukan pertama-tama kesuksesan bermisi keluar tetapi terutama karena secara pribadi mengalami kematangan dalam panggilan yang diperoleh melalui usaha tanpa henti melalui pendidikan dan perjuangan seumur hidup. Itulah ‘ongoing formation’ yang sebenarnya.

Kematangan juga ditunjukkan melalui pengembanan tanggungjawab (responsibility) secara sadar dan konsekuen. Misi pun disadari bukan pertama pada karya itu sendiri tetapi menghadirikan diri sebagai contoh darinya dunia yang terlalu pusing dengan hal-hal pinggiran akan belajar tentang inti kemanusiaan dan kebermaknaan yang mesti dimiliki oleh manusia itu sendiri.

Dari pengamatan yang sangat dangkal dari penulis, sambil mengakui minimnya referensi, dan apalagi dalam posisi sebagai ‘outsider’, dan karenya kebenaranya sangat terbuka untuk dipertanyakan, dengan sedikit takut dapat disimpulkan bahwa sebuah krisis akan mudah terjadi ketika lompatan yang terlalu cepat untuk mendapatkan “recognition” atau pengakuan. Sebagaimana di dunia luar, juga di dalam kehidupan membiara, yang nota bene sama-sama manusia, selalu ada tendensi untuk memperoleh pengakuan hal mana kerap menyebabkan krisis dan kekecewaan bila tidak diperoleh.

Padahal, baik hidup membiara, sama seperti kehidupan sebagai awam, baru merupakan jalan, malah baru mulai berjalan. Selama seseorang masih dalam perjalanan, ia masih dalam proses untuk mematangkan diri dan berlaku seumur hidup sampai nafas itu berakhir. Pengakuan karena itu tidak bisa menjadi sasaran jangka pendek melaikan dihidupi  sebagai proses dan dimaknai secara alamiah dan mengalir.

Nuansa rekognitif inilah yang pada hemat saya merupakan inti dan makna terdalam pada perayaan 100 tahun SVD di Indonesia. Ada kesadaran bahwa buah yang kini dipetik berasal dari kesaksian hidup ratusan malah ribuan misionaris sebagai pendasar, yang barangkali pada masanya berkarya secara alamiah dan tidak mengharapkan pengakuan secepat itu. Kini ungkapan itu ditonjolkan sebagai sebuah pengakuan.

Dalam perspektif  ini, pemindahan atas  6 kerangka misionaris dari Pekuburan umum  Mataloko ke pekuburan SVD di belakang Kemah Tabor (Br Erhard, P. Hackman, P. Helinge, P. W. Lauran, P. Paul Arndt) dan ke pekuburan SVD Ruteng (P Frans Eickman), adalah sesuatu yang sangat simbolis sarat makna. Ini adalah pengakuan (recognition) atas proses panjang yang sudah dilewati.

Inilah makna paling mendasar sekaligus mematerikan paradigma misional yang harus tetap dihidupi sebagai pijakan untuk melangkah 100 tahun lagi ke depan. Di sana, misi pada sisi utama menyentuh pada proses penerimaan panggilan diri dan proses perjuangan pematangan diri tanpa henti seumur hidup yang disertai dengan komitmen pada tugas yang diemban secara konsisten yang dihidupi dalam kebersamaan. Bila proses ini dilewati maka keteladangan pendahulu akan menjadi dasar untuk menjadikan 100 tahun ke depan juga diakui kemudian sangat historis.

Sumber: Flores Bangkit 19 Agustus 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s