20. Saya Sadar, Saya Gila

Bagian Terakhir dari Dua Tulisan

Saya Sadar, Saya Gila

(Di Balik Kematian Pieter Lajar)

Sumber Flores Bangkit FLORESIANA 12/02/2014

Mencari otak (utama) perancang Tragedi Lewoleba tentu saja sangat penting. Kelicikan dan kepicikan mesti disibak karena ia bak virus yang sangat membahayakan kebersamaan. Darinya, ketegasan meminta pertanggungjawaban aparat penegak hukum agar lebih profeisonal bukan sekedar sebuah tuntutan biasa.

Keterlibatan para pemuka agama dalam demo hanyalah gambaran bahwa pelaku harus diusut tuntas darinya seubah pembelajaran bersama dapat dilaksanakan. Apalagi untuk Lembata, tragedi itu diharapkan menjadi pembelajaran dan tidak memungkinkan terjadi hal serupa.

Masalahnya, apakah penegakkan itu saja cukup? Apakah kehadiran tidak sedikit organisasi kemasyarakatan atau forum yang ‘vokal’ belum lagi aneka demo yang menekan juga merupakan jalan cerdas dalam mengusut kasus yang nota bene sudah kusam dan kusut?

Tahu Diri

Kaum bijak sudah ribuan tahun silam tahu sebuah akar permasalahan. Ketika terjadi sebuah kekisruan maka yang ada dalam benak adalah klaim diri semua pihak merasa atau sekedar berusaha membenarkan diri.orgil

Sampai di sini, upaya itu bersifat normal. Ketika kebenaran berpihak, siapa pun tidak boleh mengalah. Tetapi apa yang terjadi ketika justru yang keliru itu tidak menyadari kekeliruannya? Kaum bijak mengungkapkannya sebagai: tidak tahu bahwa mereka tidak tahu?

Hal seperti ini mestinya tidak terjadi dalam kasus seperti kematian Lorens Wadu. Artinya, kesediaan untuk mengurai lepas benang kusut merupakan sebuah tindakan bijak karena hal itu tidak saja untuk mengejar otak pelaku tetapi terutama menjadikannya sebagai pembelajaran berharga agar tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Dalam kasus ini, kesadaran untuk lebih melihat diri sebagai bagian dari kasus ini merupakan langkah bijak. Berinspirasi pada hidup ‘si orang gila’, Piter Ladjar, kita bisa mengatakan, keberanian mengakui diri sebagai orang gila’ yang ikut bertanggungjawab, merupakan pintu terbuka yang memungkinkan terselesaiakannya masalah itu secara perlahan. Palin kurang ia mengingatkan kita pada kata-kata Mark Twain: When we remember we are all mad, the mysteries disappear and life stands explained. Artinya: ketika kita sadar bahwa kita

Tetapi, apakah hal itu mungkin terutama di tengah hangatnya dinamika politik seperti pemilihan legislatif? Apakah ada keberanian untuk ‘turun’ hanya karena menghindari kursi panas yang (katanya) empuk itu? Di sini sebuah kesadaran lain muncul. Kalau pun tidak bisa menjadi ‘gila’, minimal tidak menambah kisruh permasalahan.

Yang terjadi justru lain. Kisah tragis itu ternyata pada saat bersamaan memunculkan aneka inisiatif atau forum pembela.Muncul pula upaya yang tidak saja membongkar kasus itu tetapi (siapa tahu), bisa menguntungkan diri karena sukses tampil menunjukkan muka dan menghadirkan pesona sebagai pembela rakyat?

Aneka hal ini tentu tidak bisa dilihat secara terlepas. Semuanya, kalau ingin permaslaahan ini ditangani secara mendalam maka keterlibatan semua tentu sangat diharapkan. Di satu sisi meminggirkan aneka trik yang sekedar mencari untung diri sangat penting.

Menerima Kegilaan

Pertanyaan penting: bagaimana kita bisa keluar dari kemelut ini? Kebersamaan mengakui trik yang selama ini terjadi merupakan langkah bijak. Kita menerima diri apa adanya. Tetapi kegilaan yang dimaksud tentu tidak sekedar ‘mengaku salah’. Itu tentu bukan menyelesaikan masalah. Yang dimaksud adalah sebuah keberanian.

Pertama, perlu ada keberanian untuk mengakui apa adanya. Dalam konteks ‘kegilaan’ Pieter Ladjar, kita perlu berani untuk mengakui bahwa memang kita gila. Secara tegas kita mengakui, masalah ini menjadi seperti ini karena kita terlalu ‘ikut bermain’ dan mempermainkan kasus ini hingga mencapai kondisi seperti sekarang ini.

Kesadaran itu harus tumbuh pertama dari lingkup keluarga. Meskipun alasan perebutan warisan tidak dijadikan sebagai alasan utama dalam kasus kematian tetapi celah itu tidak bisa disangkali keberadaanya. Tak ada asap tanpa api. Percecokan dan perebutan harta itu selalu menjadi ancaman terutama di Lewoleba daerah yang panas dan lebih panas lagi tanahnya.

Hal ini harus terus disadari dan menjadi awasan untuk Lembata, khususnya Lewoleba. Peralihan dari sebuah desa besar menjadi ‘kota’ telah merubah cara hidup hingga dapat mencederai keutuhan keluarga. Tetapi hal itu tidak mesti dilupakan bahwa soal tanah, ia panas karena merekam bisu petuah nenek moyang. Ia diperoleh dengan darah lewat usaha karena itu tidak bisa diperjualbelikan yang nota bene hanya menguntungkan seseorang.

Kedua, perlu kegilaan untuk mengakui adanya ‘permain utama’ dalam proses tersebut. Proses pembunuhan yang penuh kejanggalan dengan melibatkan tidak sedikit orang, hanya mengandaikan sebuah perencanaan matang, dalamnya ‘orang-orang pintar’ terlibat.

Rencana itu bahkan begitu rapi dan halus. Ia bisa masuk dan memengaruhi lingkup keluarga guna ikut merancang kejahatan. Ini sebuah gaya yang hanya dilakukan oleh orang yang memiliki kecerdasan yang luar biasa. Mereka tidak menyerang langsung tetapi melempar jauh ke tempat lain dan kemudian baru ‘terpental’ hingga menewaskan Lorens Wadu.

Kasus seperti ini tentu tidak mudah dibuktikan, kecuali tiba-tiba hadir sebuah ‘kegilaan’ dari pelaku utama yang mengakui tentang keterlibatannya. Pengakuan itu pasti membuat legah dan mencairkan kebekuan yang terjadi.

Namun kegilaan yang ditunggu inilah yang terasa belum terungkap. Semua orang malah merasa benar. Yang tadinya jadi tersangka kini hadir dengan pengakuan lain hingga membawa tanya yang tentu saja membingungkan. Yang dimaksudkan, terjadikan kebingungan karena semuanya mempertanyakan ‘kegilaan’ siapa yang sedang terjadi.

Ketiga, permasalahan ini tidak akan menjadi ‘terkatung-katung’, ketika aparat berwajib pun perlu menjadi ‘gila’ dengan mengusut tuntas tanpa terpengaruh oleh siapa pun. Kegilaan mereka akan mendatangkan decak kagum ‘gile’ (kata orang Jakarta) karena secara tegas memperjuangkan berdiri tegaknya kebenaran. Kenyataan inilah yang masih ditunggu dari aparat kepolisian setempat. Meskipun sudah dijanjikan oleh Kapolda, tetapi ruang ‘gila’ itu belum terwujudkan hingga kini.

Kegilaan dalam arti keberanian inilah yang ditunggu. Piter Ladjar, yang ‘gila’ itu, hadir memberi inspirasi agar kita berani mengatakan apa adanya. Selamat Jalan ama Pieter, selamat datang Kebernaran di Lembata. HABIS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s