22. Atadei, Mitigasi Bencana

Bagian Terakhi dari Dua Tulisan

Atadei, Mitigasi Bencana

Laporan tentang ancaman gagalnya panen di Atadei mestinya tidak perlu jadi berita. Orang Atadei sudah terbiasa dengan penderitaan dan ditinggalkan. Karena itu mestinya derita itu tidak perlu dilaporkan (agar tidak diketahui).

Mengapa demikian? Pengalaman penderitaan, kemiskinan, dan kemelaratan, sudah melekat erat pada desa-desa di seputar gunung berapi: Alap Atadei (Dulir), Lerek, Lusilame (Atawolo), Nubahaeraka (Waiwejak), dan Atakore (Watuwawer), Nuba Atalojo, dan Lebaata. Selama periode lima puluhan (abad yang lalu), migrasi besar-besaran kaum lelaki menjadi sebuah pemandangan yang biasa.

Masyarakat daerah ini beranjak dari kampung ke Waiwerang dan akhirnya ‘berlabuh’ di Hokeng. Tak heran, pekerja di perkebunan kopi Hokeng itu tidak sedikitnya berasal dari daerah Atadei. Mereka bahkan menempati daerah khusus dan mempertahankan bahasa daerah.

Langkah berikutnya adalah ke Maumere dan nantinya berujung di Malaysia. Perantuan menjadi sebuah kenyataan yang tidak bisa dihindarkan. Di sana upaya mencari kebaikan terkadang tidak mencapai yang dimaksud. Dalam arti tertentu bisa dikatakan ‘ya’. Tetapi terputusnya hubungan karena jarak yang jauh merupakan derita.

Proses ini secara tak sadar membuat orang menganggap perantuan sebagai proses untuk ‘melarat’. Ungkapan tersebut bisa saja salah, karena yang dimaksudkan tentu ‘merantau’ tetapi juga bisa benar karena itulah yang terjadi.adowajo

Hal itu juga tidak melupakan adanya pemindahan secara massal akibat bencana alam tahun 1979 di mana masyarakat dipindahkan ke Loang, Nagawutun. Perpindahn juga terjadi pada tahun 2003 dimana masyarakat Kowa Ape dipindahkan ke Penekene, juga di Nagawutun.

Berjuang Sendirian?

Lalu, mengapa hal ini kini ‘diributkan?’ Ataukah kalau informasi itu dilihat secara ‘kebetulan’ karena FloresBangkit@ ‘lewat’ di daerah itu dan merekam bahaya kelaparan, maka apa yang mesti dilakukan sebagai tangagpannya?

Pertama, informasi ini bisa dilihat sebagai hadirnya sebuah terang kecil, bak lilin’ yang menyala di kegelapan. Artinya, ia membersitkan kesadaran akan kekeliruan yang selama ini dilakukan dalam memperlakukan daerah-daerah di Atadei (khususnya yang termasuk dalam wilayah paroki Lerek).

Daerah yang sudah akrab dengan bencana ini dibiarkan ‘berjuang sendirian’. Bencana dilihat sebagai petaka dan seakan tidak ada manfaatnya membantu. Ibarat rasa lapar yang bisa dialami lagi meski sudah makan, maka rakyat di daerah tersebut seakan dibiarkan. “Kalau pun makan, nanti mereka juga lapar lagi. Lebih baik tidak usah diberi makan”, sebuah logika yang tidak bisa diterima tetapi barangkali hal itu bisa menggambarkan kenyataan yang terjadi.

Yang lebih menyedihkan, kondisi mereka baru diperhatikan bukan karena didasarkan pada perubahan cara berpikir pemerintah, tetapi hanya karena daerah itu ternyata kaya ‘susu dan madu’ alias kandungan kekayaan bumi yang luar biasa. Di sana sebuah praksis tak elok tengah terjadi dan menjadi sebuah kenyataan yang menggelikan.

Tanggap Bencana

Ancaman gagal panen di Atadei yang tengah terjadi merupakan ‘alarm’ awal yang harus cepat ditanggapi. Ia menjadi sinyalemen bakal terjadi sesuatu yang lebih buruk kalau mitigasi bencana itu tidak dilaksanakan untuk melerai munculnya dampak yang lebih jauh.

Pada sisi lain, terbiasanya rakyat menanggung derita sendiri dan sudah ‘terbiasa’ dengan penderitaan, tetapi bila kini mengadu maka itu sebuah sinyal bahwa keresahan itu bukan hal biasa. Ia sudah memberikan gambaran tentang konsekuensi lebih jauh yang bakal dialami, darinya tindakan cepat perlu dilaksanakan.

Hal ini mengharuskan pemerintah Lembata untuk segera mengantisipasinya lewat bantuan jangka pendek. Memang jagung dan padi  bukanlah satu-satunya sumber hidup. Ia masih bisa diimbangi dengan ubi-ubian dan hasil kebun lainnya. Tetapi itu tidak berarti meniadakan upaya menyiapkan tersedianya makanan berupa beras padi dan jagung.

Tuntutan tentang hal ini penting sekali. Dalam banyak hal, antisipasi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Upaya penyelamatan baru dijalankan setelah adanya korban. Dalam kasus ini, ‘alarm’ ini harus sudah dianggap sebagai bencana dan tidak menunggu sampai adanya kegagalan panen total. Jelasnya, kalau kondisi hujan sudah tidak ada sampai beberapa minggu maka apa pun yang terjadi meski datangnya hujan, ia tidak akan bermanfaat karena kondisi tanaman yang sudah tidak bisa menghasilkan apa-apa lagi.

Pada sisi lain, peran pemerintah tentu tidak bisa dibiarkan sendirian. Upaya yang sudah dilaksanakan oleh putera daerah, perantuan, yang nota bene selama ini memang menjadi sokongan utama bagi masyarakat (karena memang daerah itu ‘ditinggalkan), perlu lebih digiatkan dan ditingkatkan lagi.

Beberapa inisiatif dan upaya yang dilaksanakan di beberapa desa seperti: Lewokurang, Watuwawer, Atawolo, dan Lerek dalam membangun desanya dengan dukungan putera dan puteri di perantauan telah memberi harapn bahwa kekuatan itu akan menjadi lebih baik lagi kalau upaya itu lebih maksimal.

Usaha ini tentu menjadi lebih mudah dalam dunia cybermedia seperti sekarang ini lewat kehadiran media sosial (Facebook dan Twitter), yang sangat memudahkan komunikasi. Media itu tidak sekedar untuk ‘mencari dan menemukan’ sahabat lama tetapi juga mencari kekuatan baru untuk membangun lewotanah.

Media ini harus dilihat sebagai sebuah kekuatan. Disebut demikian karena ia bisa menjangkau begitu banyak orang dalam waktu yang singkat dengan biaya yang relatif murah. Tetapi juga dimensi transparansi yang sangat menonjol. Setiap usaha akan terkawal dan proses eksekusinya pun akan berjalan secepat yang direncanakan.

Pada sisi ini, bila kekuatan pemerintah dan kerukunan warga di perantuan menjadi kekuatan, proses mitigasi itu akan menjadi ringan karena dipikul bersama. Meski demikian tidak bisa dipungkiri, kekuatan putera daerah, tentu tidak bisa menggantikan peran utama pemerintah. Ia hadir sebagai sejauh bantuan yang dilaksanakan di atas kenyataan bahwa pemerintah sudah sigap dan ‘all out’ untuk membantu hal mana menjadi tanggungjawabnya.

Pada sisi lain, akan menjadi lucu ketika wilayah itu hanya diperhatiakn dan dihidupi oleh putera dan puteri di perantuan, hal mana terjadi sebelumnya sementara itu daerah tersebut ‘ditinggalkan’ hanya karena berada di daerah ‘rawan bencana alam’. Semoga hal itu tidak terjadi lagi kini dalam ancaman gagalnya panen.

Robert Bala. Asal Lerek – Atadei.
Sumber: Flores Bangkit 17 Februari 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s