(6) Martin Boiliu dan Stigmatisasi Satpam NTT (1)

Martin Boiliu dan

Stigmatisasi Satpam NTT

(Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

Pengalaman berikut ini masih segar di ingatan. Pada tahun 2004, di Batam. Dengan berbekal pendidikan yang lebih baik dari banyak saudaraku yang merantau di pulau itu, saya agak terkejut mendengar sebuah ‘cap’ tentang orang NTT.preman

Saat memperkenalkan diri dalam sebuah pertemuan yang cukup bergengsi, seseorang di samping saya bertanya dengan tanpa rasa canggung : “Tugas sebagai Satpam di mana?”. Saya balik bertanya: ‘mengapa anda bertanya demikian?’. Kemudian saya tahu dia bisa ‘mencap’ demikian karena sebelumnya saya memperkenalkan asal saya dari NTT.

Cap ‘Positif’

Adalah sangat normal, ketika seseorang jauh dari lingkup keluarga terdekat, ia ‘mengguyub’ dengan orang seasalnya. Hal itu berimbas juga kepada pekerjaan. Ketika masih sulit mendapatkan pekerjaan, maka satu-satunya adalah bekerja di tempat ‘saudara’. Di situlah awalnya.

jadilah, orang Batak barangkali akan dengan mudah diidentikkan dengan ‘tambal ban’. Orang Madura dengan besi rongsokan. Untuk NTT, pekerjaan yang sangat mungkin untuk pria ketika baru menginjakkan kaki pertama kali di kota (Jakarta, Surabaya, Makassar) adalah di bagian security guard atau yang biasa dikenal dengan ‘satuan tugas pengamanan’ atau ‘satpam’.

Pekerjaan itu digeluti dengan begitu telaten, bertanggungjawab, berani, dan jujur. Telaten karena pekerjaan itu dilakoni sebagai sebuah panggilan jiwa dan dianggap sebagai pekerjaan yang halal. Di sana kata-kata Bruce McCulloch seakan jadi sebuah pembenaran saat berucap: I would rather be a security guard than a rock star (saya lebih suka jadi satpam daripada seorang bintang rock).

Perlahan ‘Satpam’ dari NTT kian dipercayai karean saat ada permasalahan, mereka berani berdiri di depan. Yang paling penting, tugas itu dilaksanakan dalam suasana kejujuran. Nyaris terjadi aksi pencurian karena mereka tahu bukan saja hal itu akan sangat merugikan tetapi terutama akan dijauhi dan dihukum lebih berat oleh orang seasalnya.

Cap positif inilah yang memungkinkan lahirnya kepercayaan dari pimpinan. Bahkan mereka mendapatkan tugas yang barangkali kini sulit dibayangkan. Saat awal, ketika Mesjid Istiqlal baru didirikan (dekade 50-70an), mereka dipercayakan menjaga keamanan di sana. Di mesjid terbesar di Asia Tenggara ini tidak ada orang yagn lebih dipercayakan selain orang NTT dalam menjaga keamanan agar umat muslim dapat beribadah dengan tenang dan nyaman.satpam ntt

Keunggulan tidak berhenti di situ. Petugas ‘satpam’ dari NTT ini punya satu kebiasaan lainnya yang mungkin tidak disadari telah membuat mereka sukses yakni semangat membaca. Tak heran di pos satpam hingga di keluarga, sudah sebuah kebiasaan melihat orang NTT membaca. Aneka informasi ‘dilahap’.

Hal itu berpengaruh pada cara berpikir dan berbicara. Meski dengan level pendidikan yang tidak tinggi dan jenis pekerjaan yang barangkali dianggap rendah oleh orang lain, tetapi mereka sangat melek informasi. Tak heran ketika terjadi diskusi atau perdebatan, mereka sanggup tampil berani (kadang keberanian itu kebablasan hingga mengarah kekerasan ) hanya karena mereka tahu bahwa apa yang diperbuat berdasarkan sebuah fakta yang diyakini kebenarannya.

Semangat itulah yang diteruskan ke anak-anaknya. Tak heran, meski hanya berprofesi sebagai ‘satpam’, tetapi tipikal orang NTT tidak akan menelantarkan pendidikan anaknya. Tak heran segala daya upaya dikeluarkan untuk pendidikan. Baginya tidak ada yang lebih bernilai selain menyediakan pendidikan itu karena itulah yang akan mengayomi anak di masa depannya.

Jadi ‘Preman’?

Cap positif yang melekat, dalam perjalanan waktu sedikit terganggu hingga bisa hadir dalam tindakan tak terpuji. Cap negatif sebagai preman pun mulai juga dihadirkan sebagai identifikasi atas pribadi satpam.

Kasus paling menggemparkan seperti kasus Antasari, Tragedi Cebongan atau ditangkapnya ‘preman’ di Jakarta, dalamnya tidak sedikit orang NTT bergabung, telah memunculkan penilaian dan stigma negatif. Benarkah demikian? Mengapa bisa terjadi demikian?

Pertama, pengaruh perubahan masyarakat dan juga realitas kejahatan itu sendiri. Sebelumnya, kejahatan terjadi pada level sederhana dan merupakan tindakan pribadi karenanya mudah diidentifikasi. Di sana keberanian orang NTT sangat dibutuhkan.

Sayangnya yang terjadi kemudian, kejahatan telah mengarah kepada ‘organized crimes’ atau kejatahan berencana. Ia juga ‘didisain’ oleh orang-orang ‘pintar’ untuk menimbulkan ketakutan darinya keuntungan egois diperoleh. Benar ketika T. Harv Eker menulis: living based in security is living based in fear (hidup berdasarkan keamanan adalah hidup berdasarkan ketakutan).

Di sini keberanian orang NTT bisa disalahgunakan. Mereka tahu ketika menjadikan orang NTT sebagai pejuang, maka selangkah pun tidak akan mundur. Apalagi menyangkut kebenaran (padahal kebenaran itu bersifat parsial dan sudah didisain oleh si ‘provokator). Jadilah seperti kerap terjadi. Keterlibatan orang NTT di aneka tindakan tak terpuji lebih didasarkan pada keyakinan yang sayangnya sudah didisain oleh orang tak bertanggungjawab.

Kedua, mundurnya nilai-nilai moral dan agama orang NTT. Sesungguhnya keberanian orang NTT tidak jauh dari pengamalan nilai-nilai moral dan agama. Orang NTT yang melekat dengan kekristenan dan kuatnya ikatan adat, tidak saja unggul menjaga keamanan lahiriah tetapi juga keamanan rohaniah.

Akar ini perlahan tidak kuat dalam ‘perantau’ baru yang ditandai oleh kemunduran nilai moral dan agama. Selain itu juga tingkatan pendidikan yang rendah bukan karena ketidakmampuan orang tua tetapi karena keengganan untuk belajar. Jadilah semangat membaca yang jadi kekuatan, nyaris melekat lagi dari pendatang baru.

Akibatnya jelas. Pengaruh dari luar (ketakutan yang didisain) itu tidak bisa dipahami lebih jauh. Dengan mudah orang terjerumus dalam aneka rekayasa. Tak heran kejadian yang memilukan yang melibatkan orang NTT dan cap negatif pun muncul dalam kenyataan seperti ini.

Dalam situasi ini maka cap negatif akan kian pupus dan gambaran positif akan mengemuka lagi hanya kalau dimungkinkan oleh dua hal di atas. Di satu pihak, dibutuhkan ketahanan internal. Moralitas yang dihidupi dan kehidupan keagamaan yang memudar perlu dihidupkan kembali.

Pada sisi lain tidak bisa hindari bahwa kejahatan yang terjadi pada level rendah hanya bisa berkurang bila aktor provokator yang adalah orang-orang pintar tidak terus mengobrak-abrik masyarakat dengan tindakan tak terpuji. Mereka mesti tahu, kejahatan yang terjadi di masyarkat bawah tidak sebanding dengan taktik licik yang merusak tidak saja pribadi tetapi masyarakat secara luas.

Robert Bala. Diploma Resolusi Konflik dan Perdamaian Asia Pasifik pada Universidad Complutense de Madrid Spanyol.

Sumber: Flores Bangkit 26 September 2013

Advertisements

3 Responses to (6) Martin Boiliu dan Stigmatisasi Satpam NTT (1)

  1. ina bunga karangora says:

    om robert..terima kasih….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s