(5) Martin Boiliu dan “Stigma Baru” Satpam NTT? (2)

                      Martin Boiliu dan

“Stigma Baru” Satpam NTT?

Bagian Terakhir dari Dua Tulisan
Siapa pun warga NTT di Ibu Kota tentu saja ‘gerah’ dengan cap negatif yang muncul. Penilaian negatif telah meluas sehingga memunculkan rasa tidak nyaman. Lebih lagi tidak sedikit kejahatan yang terjadi, ‘lagi-lagi’ menghadirkan wajah orang NTT. Semua kebaikan yang telah terbangun pun seakan pupus.
Dalam suasana dan aura yang negatif ini kahadiran dan perjuangan Marten Boiliu itu mengagetkan dan mengapa tidak menghadirkan kembali kredibilitas yang nota bene melekat pada anggota Satpam asal NTT.
martin boiliu
Pria kelahiran Kupang 11 November 1974 ini punya semangat dan daya juang yang sangat menonjol. Di rumahnya di Gang 3, Jalan Mawar Merah III, Duren Sawit, Jakarta Timur, ia melihat sebuah realitas timpang yang tidak hanya dialaminya tetapi juga hadir sebagai momok yang merugikan masyarakat.
Pasalnya, sejak 15 Mei 2002 hingga 30 Juni 2009, Martin menjadi anggota Satpam pada PT Sandhy Putra Makmur. Sialnya, setelah bekerja di tempat itu, pesangon yagn mestinya diterima tidak diberikan. Niat luhur pun mulai dikobarkan untuk mencari keadilan di Mahkamah Konstitusi (MK) RI dengan mengajukan judicial review Pasal 96 UU 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
Semangat juangnya terus dikobarkan. Tetapi ketika perjuangannya hampir mencapai kesukesan dengan mendapatkan hal yang adalah miliknya, ia terganjal oleh Pasal 96 UU 13 Tahun 2003. Di sana ditulis tentang masa kedaluwarsa tuntutan pembayaran upay pekerja karena maksimal 2 tahun.
Jelas bahwa perjuangan Marten akan terkendala oleh pasal tersebut karena masa tuntutan itu sudah melebih 2 tahun.Hal inilah yang mendorong pria yang kini bekerja di PT Graha Sarana Duta yang nyambi kuliah S1 di Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta memulai perjuangannya.
Tanggal 28 September 2012 ia mengajukannya ke MK, dan bersyukur, usaha itu disambut oleh kepiawaian Ketua MK Mahfud MD yang juga menyadari kepincangan itu dan permohonan itu diterima tanggal 26 Maret 2013 dan berpuncak pada pengabulan MK untuk menghapus pasal tersebut pada Kamis 19/9.Keberhasilan itu tentu tidak saja bermakna personal dimana ia memiliki legal standing untuk mengajukan gugatan hak pesangon ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI).
Lebih dari tu menghadirkan seorang figur yang dalam keterbatasan, dapat melakuakn tindakan terpuji dengan memenangkan gugutan. Padahal semua tahu, pasal itu adalah ‘hasil kerja’ kaum paling cerdik pandai’ di negeri ini.
Figur Baru?
Kehadiran Marten Boiliu memunculkan pertanyaan: apakah ini figur baru atau merupakan ciri dan karakter NTT pada umumnya dan Satpam pada khususnya? Sepintas hal ini bisa disebut sebagai angin segar di tengah terpaan negatif yang melanda masyarakat NTT terutama yang berdiam di ibu kota.
Rosario kasus bisa dideretkan untuk menunjukkan cap negatif itu. Dengan demikian kehadiran dan keberanian serta keuletan berjuang ‘melawan negara/UU’ yang dilakoni Boiliu, memberikan wajah baru tentang masyarakat NTT. Dari balik biliknya yang berukuran 3x7m ia bisa melahirkan pikiran hingga bisa mengalah para perumusnya yang duduk di kursi elit berharga jutaan rupiah di gedung miliki rakyat itu.
Tetapi mestinya terobosan ini tidak dianggap hal baru. Ia ‘tipe’ orang NTT yang memiliki keyakinan yang besar daya juang yang tinggi. Ketika ia yakin akan sesuatu, maka apa pun dilakukan termasuk mengorbankan nyawanya sekali pun. Tidak ada orang yang bisa menghalanginya. Keberanian inilah menjadi alasan, mengapa tidak sedikit orang ‘mempekerjakan’ orang NTT sebagai satpam.
Pada sisi lain, kegigihan Boiliu untuk terus menutut ilmu, meski usianya sudah 37 tahun, juga mencerminkan pemahaman tidak sedikit orang NTT tentang pendidikan. Hidup di dalam suasana kekejaman ibu kota, pendidikan ditempatkan pada tempat yang sangat terhormat.
Meski hidup sederhana, makan ‘apa-adanya’, tetapi soal pendidikan tidak ada tawar menawar. Tidak heran. Meski ‘hanya’ sebagai satpam, tetapi tidak sedikit keluarga yang sanggup menyekolahkan anaknya hingga Perguruan Tinggi.Tekad Martin untuk mulai kuliah, meski usianya yang tidak disebut muda lagi, adalah contoh nyata.
Daya juangnya sangat besar dan menjadikannya sebuah contoh, bahwa pendidikan dilaksanakan seumur hidup (long life education) dan tidak ada kata terlambat. Dengan demikian, perjuangan Martin Baoiliu mestinya tidak dilihat sebagai hal baru tetapi mengungkapkan karakter orang NTT.
Inspirasi
Lalu apa yang mesti dilakukan ke depan sebagai pembelajaran? Pertama, perjuangan Boiliu menunjukkan bahwa secara paling dalam tidak ada pekerjaan hina dan pekerjaan mulia.Semua pekerjaan hanyalah sarana yang bisa dijadikan manusia sebagai jembatan untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi.
Mengutip Laborem Excercens no 6,1981, di sana disentil bahwa yang membedakan seseorang dari pekerjaannya bukan obyek pekerjaan itu tetapi sejauh mana pekerjaan itu memanusiawikan seseorang. Karena itu Paus Yohanes Paulus II, menekankan bahwa sebuah pekerjaan tidak bisa sekedar dinilai dari sisi obyektifnya yakni jenis pekerjaan itu.
Ada hal yang lebih mendalam yakni nilai subyektif. Kerja dilihat sebagai kegiatan pribadi manusia sebagai mahluk dinamis yang mampu melaksanakan aneka ragam tindakan yang merupakan bagian dari proses kerja dan yang bersepadanan dengan panggilan pribadinya. Dalam konteks ini maka tugas sebagai satpam yang sudah digeluti mestinya merupakan sebuah kebanggaan karena melaluinya orang NTT dapat mewujudkan dirinya dan mencapai nilai yang lebih tinggi.
Kedua, butuh pendidikan dan pembentukan berlanjut. Harus diakui, realitas kota besar terus berubah. Pada dekade 60an, tuntutan akan pendidikan belum terlalu besar. Dengan berbekal pendidikan ‘apa adanya’ mereka bisa dipekerjakan sebagai satpam.Kini, tuntutan pendidikan sangat besar. Minimal pendidikan yang diminta adalah tamatan SMA.
Di sinilah masalahnya. Bagi yang berpendidikan lebih rendah, tidak bisa punya pilihan selain bergabung dalam berbagai kelompok dan dipekerjakan pada jasa penagihan utang (debt collector). Di sana yang dibutuhkan akan ‘keberanian’ dan ‘tampang’ (dan kalau boleh kebengisan) membuat si pengutang ketakutan dan cepat membayarnya.
Kenyataan ini mestinya mendorong pemerintah daerah untuk terus memikirkan bekal pendidikan yang layak. Aneka kursus yang memberikan kemampuan dan keterampilan perlu ditingkatkan. Dengan demikian terbuka peluang kerja baru yang mengandalkan keterampilan (dan bukan sekedar satpam). Itu berarti pendidikan tidak dipersoalkan karena yang ditauamakn adalah pendidikan.
Pada sisi lain, kalau pun profesi Satpam yang sudah identik dengan masyarakat NTT terus digeluti maka tuntutan pendidikan itu sangat penting. Marten Boiliu telah memberi inspirasi. Meski tinggal di tempat sederhana dan dengan penghasilan yang minim, ia masih meluangkan waktu untuk mengejar pendidikan. Ia sadar, pendidikan dapat memberikan sebuah mobilitas vertikal darinya sebuah manfaat yang lebih besar dapat dinikmati oleh banyak orang.
Robert Bala. Diploma Resolusi Konflik dan Perdamaian Asia Pasifik pada Universidad Complutense de Madrid Spanyol.
Sumber: Flores Bangkit, 25 September 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s