24. Perlukah “Karnaval?”

Perlukah “Karnaval?”

Pada bulan Februari dan Maret, karnaval begitu tenar terdengar. Pada masa itu, tidak sedikit kota di Amerika Latin (dengan pusat Karnaval terbesar yakni Rio de Janeiro), mengadakan acara tahunan yang cukup mengundang wisatawan.

Di sana aneka desfile dengan tontotan yang memanjakan mata dapat disaksikan. Pakaian yang minim, goyangan yang menggoda, dan aneka sajian lainnya menjadikan wisawatan selalu menunggu momen ini.

Sebuah pertanyaan sederhana: mengapa karnaval terjadi pada bulan-bulan seperti itu? Apakah ia perlu dipertahankan?

Sesungguhnya kata Karnaval (carnaval), berasal dari kata Latin: carne-levare, yang artinya meninggalkan daging. Sementara dalam bahasa Italia carnevale lebih diartikan sebagai masa untuk makan daging.

Kelihatan keduanya bertentangan. Dalam kenyataannya, mengungkapkan hal yang sama, terutama ketika dikaitkan dengan tradisi Kristen menyambut Paskah.

Perayaan Wafat dan kebangkitan Kristus yang biasanya dirayakan antara akhir Maret sampai Akhir April, maka 40 hari sebelumnya yang biasa disebut masa puasa atau Prapaskah, terjadi pada bulan Februari hingga Maret.

Masa 40 hari ini tentu bagi orang yang sangat beriman dipahami begitu bermakna. Inilah masa yang juga disebut retret agung. Setiap orang beriman diajak untuk lebih bergaul dengan diri sendiri, mengalami kesendirian sebagai ‘latihan’ nanti. Ia diisi dengan silih-tapa, untuk menyilih dosa dengan melakukan tapa, bersemadi dan berdiam diri dalam kesunyian.

Namun bagi orang yang kekristenanannya ‘sekenanya’ (atau KTP), tentu saja tidak dilewati dengan baik. Ia lebih dilihat sebagai masa penuh derita karena harus berpisah dengan hal-hal ‘daging’.

Apalagi kalau masa puasa itu dilakukan sekaligus dengan kontrol sosial yang sangat tinggi (hal mana terjadi pada masa puasa umat Islam di Indonesia). Bisa dibayangkan derita yang dialami. Masa puasa menjadi sebuah masa penuh derita.

Dalam arti ini, sebelum mengalami derita tak diinginkan, dirayakanlah Karnaval. Pada masa ini mereka berpesta pora, berdansa, memakan apa saja yang mau, menikmati hal yang paling duniawi pun diizinkan. Singkatnya, sebagai ganti ‘derita selama 40 hari’, kini harus bersenang-senang dahulu..

Semaksimal mungkin aneka kesenangan bisa dinikmati. Orang ‘diizinkan’ untuk mengalami dalam arti sepenuhnya ‘carnavale’ (arti Italia) yakni makan dan menikmati daging sepuasnya karena sesudahnya mereka akan berpuasa dari daging ‘carne-levare’ (arti Latin).

Tanpa Makna?

Perayaan Karnaval ternyata lebih mengambil momen ‘waktu’ mendekati Prapaskah atau sekitar bulan Februari dan Maret dan sedikit malah nyaris mengambil maknanya. Momen inilah yang masih kuat berjalan di Amerika Latin, khusunya di Rio de Jeneiro Brazil.

Sementara itu larangan makan daging pada masa Prapaskah yang dulunya sangat ketat dijaga, kini sangat berkurang. Hal itu menjadi sebuah kontradiksi. Artinya, mengapa “Karnaval” masih begitu diagung-agungkan dengan berpesta pora yang mengizinkan untuk melakukan apa saja padahal dalam kenyataanya pada masa Prapaskah pun ternyata tidak diadakan puasa?

Itu berarti yang diingat hanyalah masa Karnaval tetapi dilupakan makna di baliknya. Dengan kata lain, perayaan Karnaval menjadi begitu atraktif dan menarik tetapi dikembangkan sekedar tradisi yang keluar dari konteksnya.

Pergeseran yang terjadi pada perayaan Karnaval juga bisa jadi menjadi kecemasan dalam pengalaman kehidupan kekatolikan juga di sini, Indonesia. Meskipun kita tidak merayakan Karnaval sebagai awal memasuki Prapaskah, tetapi pergeseran makna yang dialami di Brazil juga tidak jauh berbeda di sini.

Maksudnya, kebiasaan makan dan minum pada masa sebelum Prapaskah nyaris terdapat perbedaan yang sangat berarti pada masa Prapaskah. Barangkali yang masih diingat (itu pun banyak kali saya lupakan) yakni pantang dan puasa pada hari Rabu Abu (saat menerima abu) dan pada perayaan Jumat Agung. Tetapi itu pun sudah banyak dilangkahi.

Lalu, apakah Paskah yang dirayakan 40 hari sesudahnya masih dianggap penting? Apakah masih perlu merayakan Paskah? Mustahil bertanya demikian. Sebagai sebuah perayaan tentu saja penting. Ia menjadi ciri khas kekatolikan yang minimal atau yang dikenal dengan Katolik “Napas” (Natal dan Paskah). Selanjutnya, kalau ia hilang maka sebagian besar tradisi kekatolikan juga bisa hilang.

Tetapi yang tentu lebih mengkuatirkan ketika yang diingat hanyalah tradisinya dan bukan makna terdalamnya. Maksudnya, yang dirayakan sekedar perayaan memorial atau kenangan belaka atas wafat dan kematian Yesus tetapi bukan pengalaman kematian dan kebangkitan diri.

Hal itu bisa dinilai dari praksis pantang dan puasa sebagai persiapan. Artinya, kalau tradisi itu tidak dilakukan dalam semangat persiapan Paskah, maka mustahil Paskah menjadi perayaan yang berkesan secara mendalam.

Di sinilah momen prapaskah menjadi sangat penting. Sebagai tradisi tentu penting tetapi akan lebih bermakna ketika berpijak pada makna. Itulah yang membuat Karnaval masih dianggap penting dan Paskah dianggap berguna.

Robert Bala. Mendalami Teologi Pembebasan pada Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol.
Sumber: Flores Bangkit 15 Maret 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s