25. Antara Barcelona dan Madrid

Antara Barcelona dan Madrid

Minggu, 23 Maret, sebuah pertunjukan yang dikenal dengan ‘el clásico’, bakal digelar. Perbedaan empat angka antara Madrid dan Barcelona akan menjadikan pertandingan ini punya makna tersendiri. Memenangkan duel kali ini, bisa menjadi penentu sekaligus juara “La Liga”.
Robert Bala. Pengamat Sosial, Penulis dan Kolumnis pada Harian Kompas. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca dan Universidad Complutense de Madrid Spanyol.

Robert Bala. Pengamat Sosial, Penulis dan Kolumnis pada Harian Kompas. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca dan Universidad Complutense de Madrid Spanyol.

Tetapi mengapa duel ini begitu menarik perhatian dunia? Bukan saja pertandingan kali ini saja. Setiap kali El Real dan Barça (dibaca Barsa bukan barka), ia selalu menjadi objek perhatian dunia. Mengapa demikian? Bagaimana membacanya dalam konteks pengalaman penulis secara pribadi?

“Orang Aneh”

Secara pribadi, saat pertama kali menginjakkan kaki di Madrid, tahun2001, seorang teman langsung bertanya: kamu pengagum Madrid atau Barcelona.

Sebuah pertanyaan yang mestinya tidak sulit dijawab. Untuk empat tahun ke depan (2001-2005), saya akan menimbah ilmu di Universidad Complutense dan Universiad Pontificia de Salamanca, di Madrid.

Itu berarti secara pasti, saya jadi ‘warga’ Madrid. Saya ‘minum air Madrid’. Bagaimana mungkin orang yang hidup dan diberi minum oleh Madrid bisa tidak membelanya? Singkatnya, tidak ada hal selain menjadi pendukung Real Madrid.

Tetapi setelah sebulan lewat, rasa simpati itu terasa berkurang. Bisa jadi karena saat itu, pemain termahal di dunia, Zidane, tidak sesimpatik harga bayarannya. Tanpa disadari, saya melakukan dosa berat dengan berganti meminati Barcelona.

Juga meskipun pernah sekali saya menyelinap untuk menyalamai pemain seperti Roberto Carlos, Ronaldo, Zidanne, Raul Gonzales, yang waktu itu memasuki Katedral Almudena Madrid, untuk bersyukur sebagai Juara La Liga, itu hanya sekedar usaha seseorang untuk bisa bertemu dengan pemain sekelas dunia.

Perlahaan identifikasi untuk menjadi pengagum Barcelona meningkat. Tetapi hal itu bukan pilihan gampang. Itu berarti saya membuka permusuhan dengan beberapa anggota serumah. Ada yang pengagum Madrid, Osasuna, dan Rayo Vallecano.

Sejak saat itu memang, ada musuh dalam selimut. Serumah, ketika pertandingan terutama antara Madrid dan Barcelona, suasana ‘panas’ saling mengolok itu mulai terlihat. Kadang kelihatan sekedar ‘kelakar’. Lainnya sudah menyulut emosi.

Tidak hanya itu. Hidup di Madrid tetapi jadi pendukung Barcelona, kadang membuat saya merasa aneh sendiri. Saat pertandingan “El Clasico”, biasanya tidak disiarkan di TV biasa tetapi lewat TV Kabel. Itu berarti saya harus nongrong di bar untuk bisa menyaksikan pertandingan itu.

Di situ terlihat keanehanku. Bila gol untuk Barcelona, saya berteriak sendiri dan dilihat sebagai makhluk aneh di antara mayoritas Madridistas. Untuk tidak disebut aneh, saya pun memendamnya. Teriak dalam hati saja, biar tidak dianggap aneh di antara orang Madrid.

Kenyataan yang sama saat diberi kesempatan menonton di Santiago Bernabeu. Sahabat saya, Manolo yang adalah ‘socius’ Madrid, terkadang mengundang saya. Biasaya terjadi dalam pertandingan yang tidak terlalu menentukan. Saat itu pun keanehanku terlihat karena berteriak saat mayoritas madirdistas diam.

Contoh Hidup

Duel antara Madrid dan Barcelona adalah duel antara dua gengsi. Madrid, klub yang didirikan tahun 1902, menganggap dirinya klub terbaik di dunia dan memang demikian. Ia melihat dirinya paling terkenal. Orang seakan berkesan, mengenal bola kaki berarti mengenal Real Madrid.

Ia juga digelari “los galacticos”, klub dari luar angkasa, tempat bertaburan para bintang. Ia memiliki pemain terbaik dunia seperti Di Stefano, Puskas tahun lima puluhan atau Hugo Sanchez pada tahun delapn puluhan. Ia juga punya pemain seperti Zidane, Figo, Roberto Carlos, David Becham, Owen, Raul, Ronaldo, dan Bale.

Barcelona memang tidak sebanyak piala yang diperoleh seperti Madrid. Tetapi ia memiliki banyak kesuksesan dan harus diakui, menjadi lebih terkenal ketimbang Madrid pada dekade terakhir.

Hal terbaru, pada masa Guadiola, malah diperoleh 14 piala dalam tiga tahun. Ia juga memiliki pemain dunia seperti Cruyff, Maradona, Gari Lineker. Juga Figo dan Ronaldo pernah bermain untuk Barcelona. Selain mereka deretan pemain terkenal seperti Ronaldinho (baca Ronaldinyo), Xavi, Punyol, Etoo, Charles Puyol, Messi, dan Neymar, yang membuat Barcelona kini sangat disegani.

Singkatnya, kedua klub terkenal itu masing-masing seakan tidak mau kalah. Aneka terobosan terus diciptakan karena di baliknya ada gengsi. Makanya setiap tahun, selain mengandalkan anak-anak binaannya, tetapi merekrut pemain terkenal dunia menjadi satu senjata ampuhnya.

Tetapi hal yang tidak dilupakan, sepanas apa pun duelnya, masing-masingnya berusaha mempertontonkan permainan yang menarik. Di sana yang diperebutkan bukan saja sebuah permainan tetapi mengekspresikan sebuah kerjasama dan kekompakan. Tidak kurang juga terdapat filosofi yang menjadi kekuatan di baliknya. Tidak kurang juga sejarah menjadi sebuah kekuatan yang melatarbelakanginya.

Kedewasaan dalam persaingan inilah yang secara pribadi menjadi sebuah kekaguman dan pembelajaran bagi penulis dan mengapa tidak bagi banyak orang. Di sana bola kaki mengekspresikan sesuatu yang lebih jauh dan lebih dalam tentang falsafah yang melatarbelakangi sebuah kerjasama. Sebuah praksis kehidupan ditunjukkan di lapangan hal mana menjadi sebuah pembelajaran untuk para penonton. Ia adalah contoh hidup yang patut diteladani.
Sumber: Flores Bangkit 22 Maret 2014

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s