26. Di Balik FcB Barcelona dan Real Madrid

Di Bali FcB Barcelona dan Real Madrid

Duel “el clásico” sangat menarik perhatian dunia. Aneka kegiatan tentu saja menjadi bak lumpuh karena ditarik untuk menyaksikan perhelatan antara Real Madrid dan FC Barcelona.

Robert Bala. Pengamat Sosial, Penulis dan Kolumnis pada Harian Kompas. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca dan Universidad Complutense de Madrid Spanyol.

Mengapa duel itu begitu kuat dan mendunia? Apa yang menjadi latar belakang sehingga pergulatan itu begitu menarik? Memahami latar belakang akan memberikan wawasan baru bagi tidak sedikit orang.

“Mikrokosmos”

Saat memilih “Barcelona” sebagai teamku, tak terbayangkan bahwa ada sejarah yang sangat panjang. Secara pribadi saya hanya karena ‘senang’. Tidak lebih dari itu. Namun ternyata di dasarnya ada hal yang lebih dalam.

Secara umum, duel antara dua kota terbesar di Spanyol itu ternyata mencerminkan sebuah pergulatan ide antara nasionalisme (Madrid), dan regionalisme (Barcelona).

Upaya nasionalisme itu tercipta semakin kuat pada masa kedikdatoran Franco (1939-1975). Selama hampir 40 tahun, Franco sangat menekankan sentralisme. Seluruh negeri, meski dengan karakter budaya yang berbeda, (dipaksakan bersatu) dipersatukan sebagai bangsa dan bahasa Spanyol.

Pada masa ini banyak bahasa daerah dilarang. Salah satunya adalah bahasa Catalan. Orang Barcelona pun secara umum harus menggunakan Spanyol sementara bahasa daerahnya hanya digunakan dalam percakapan. Sebuah tekanan yang tentu sangat kuat terasa.

Dalam rasa tertekan, sepak bola menjadi salah satu ‘senjata’ perjuangan. Budaya Catalan (melalui Barcelona) mau menunjukkan bahwa ia masih ada, malah menang.

Tetapi hal ini pun tidak dibiarkan Franco. Pada tahun 1943, terjadi duel “el clásico” antara Madrid dan Barcelona. Pada pertandingan pertama, Barcelona melumat Madrid 3-0, hal mana dengan segera disikapi Franco. Sebelum pertandingan kedua, Franco mengirimkan direktur Keamanan Spanyol yang adalah juga pegawai dan sahabat Fanco. Ia mengancam pemain Barcelona hingga dalam keadaan terpojok dan tertekan mereka kalah 11-0.

Kisah lain juga terjadi tahun 1953. Saat itu, Barcelona yang begitu kuat semangatnya untuk mengalahkan Madrid, berusaha mendapatkan pemaian terhebat di dunia saat itu, Alfredo di Stefano. Upaya itu mendapatkan hasil, tetapi Alfredo di Stefano tidak bisa bertahan di Barcelona.

Alasannya, Franco mengeluarkan peraturan melarang adanya pemain asing yang bermain di Spanyol kalau bukan di Real Madrid. Hal itu yang kemudian Alfredo di Stefano berpindah ke Madrid dan berjaya mengangkat Real Madrid menjadi team terkuat di dunia.

Pengalaman itu begitu kuat hingga setelah berakhirnya Franco, rasa dendam itu terus dihidupi. Barcelona karena itu dengan semboyan “més que un club,” (lebih dari sebuah klub) mau menunjukkan perjuangan itu akan terus ada karena di baliknya terdapat pengalaman dan falsafah yang sangat kuat.

Bagi Barcelona, perjuangan regionalisme itu terus dihidupi. Meskipun itu tidak terwujud dalam kemerdekaan dan melepaskan diri sama sekali, tetapi perjuanga itu mengingatkan bahwa bola kaki menjadi bak senjata kepahlawanan untuk sebuah bangsa tanpa negara.

“Derbi Kualitas”

Tuntutan akan regionalisme dan nasionalisme serta falsafah di baliknya tentu saja sangat kuat. Belum lagi karena hingga kini, kedua klub juga masihmemiliki kelompok radikal yakni “Ultra Sur” (Real Madrid) dan “Boixos Nois” (Barcelona).

Persaingan itu bisa memicu ketegangan terutama di Barcelona (sebagai team yang ‘terjajah’) karena selalu mengumar Cataluña no es España” (Katalan bukan Spanyol), tetapi hal itu hanya perang di luar lapangan.

Yang paling penting dan sangat menonjol untuk ditiru adalah upaya menampilkan kualitas dalam lapangan. Kerjasama cantik lewat pengorganisasian permainan bagi mereka lebih penting dan akhirnya hal itulah yang berbicara dan bukan perjuangan di luar lapangan.

Karena itulah, di lapangan, semangat kerjasama, pengaduan strategi itulah yang paling penting. Hal itulah yang menjadikan Spanyol tidak saja maju dalam persepakbolaan tetapi juga maju dan makmur sebagai negara. Terlepas dari krisis akhir-akhir ini yang cukup terasa, sampai beberapa tahun lalu, Spanyol telah menjadi sebuah negara maju, dunia pertama dengan kemajuan yang sangat kasat mata.

Hal itu adalah ekspresi dari sebuah permainan cantik, kerjasama apik, dan tontotan kualitas yang selalu dikedepankan ketimbang regionalisme belaka untuk sekedar merusak. Di sana setiap daerah, setelah diberikan otonomi, berusaha mengembangkan diri ke depan dan tidak terlalu terpanah pada pengalaman masa lalu.

Pengalaman inilah yang mesti jadi pembelajaran bagi Indonesia. Otonomi Daerah yang dilansirkan merupakan sebuah terobosan. Di sana diharapkan bisa lahir pemimpin-pemimpin berkualitas.

Sayangnya, upaya itu tidak mudah. Pemilu misalnya mestinya menjadi ajang perlombaan kualitas lewat permainan yang indah. Yang terjadi justru lain. Aneka tipu muslihat, money politics dan strategi menyesatkan dilaksanakan hanya karena inin mendapatkan kekuasaan.

Hal ini menunjukkan bahwa bagi kita, sepak bola hanya sekedar tontotan dan bukan pembelajaran. Kita merasa jadi pegagum permainan indah, tetapi kita sendiri melaksanakan permainan tak elok. Pembelajaran inilah yang harus kita petik.

Karena itu, sambil mengharapkan Barcelona menang dalam “Cl Clasico”, 23 Maret 2014, kita berharap, semoga kita pun bermain ‘cantik’ dalam Pemilu Legislatif 9 April nanti hingga yang kita peroleh adalah pemimpin berkualitas. Semoga.
Sumber: Flores Bangkit 22 Maret 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s