27. Yang “Buta politik”, Siapa?

Yang “Buta Politik”, Siapa?

Memasuki masa-masa akhir kampanye pemilu legislatif, mestinya aneka keraguan yang dirasakan pada awalnya, perlahan menjadi jelas.Para pemilih pun diharapkan punya gambaran yang lebih jelas tentang caleg.buta

Bisa dipahami. Nama mereka yang sebelumnya terasa asing, kini bisa saja menjadi lebih dekat. Kehadiran stiker, poster, spanduk hingga baliho diharapkan kian memperkenalkan calon yang akan mewakili rakyat.

Tetapi apakah memang demikian? Mustahil bertanya demikian. Aneka promosi diri yang sudah sangat jelas apakah terlihat dengan  jelas seperti diharapkan atau justru lebih gelap dari yang disangka?

Semuanya Hitam?

Hadirnya slogan yang sangat positif dengan janji yang hampir disampaikan oleh setiap caleg, tanpa disadari, menunjukkan suasana negatif di baliknya. Ibarat terang yang mudah terlihat berkat kegelapan malam dan pekat.

Jelasnya, semakin banyak janji kesejahteraan yang lebih baik, maka itu menunjukkan betapa negatif atau gelapnya suasana kini. Optimisme pun dibangun oleh sang caleg. Dengan memilih dirinya, diharapkan ada solusi atas situasi tersebut.

Upaya menonjolkan diri terasa kurang ‘sreg’ kalau tidak disertai upaya menampilkan sisi negatif dari lawan. Zona hidup pribadi dari caleg lain pun dibongkar. Perselingkuhan hingga tindakan yang menjual isu SARA digelar untuk mengingatkan orang guna tidak sampai menjatuhkan pilihan pada orang itu (melainkan pada dirinya).

Singkatnya, apa pun, dalam harga apa pun dibongkar. Kampanye pun akhirnya lebih menghadirkan ketidakpastian dan keburaman. Hal itu memberi  kesan, tidak ada seorang pun yang bebas dari sisi negatif.

Hal serupa (secara diam-diam), barangkali disambut oleh parpol yang sebelum kampanye sudah ‘babak-belur’. Terlibatnya pimpinan partai dalam arus korupsi bahkan kini merasa legah. Akhirnya perhatian orang akan lebih terarah kepada kasus baru. Mereka pun berharap, dosa kelam di masa silam dilupakan (begitu saja), dan deposito kepercayaan pun tertuju pada partainya.

Kenyataan memberikan sebuah kesimpulan yang bisa saja dianggap berlebihan yakni tidak ada caleg yang baik alias semuanya hitam. Di sana sesama caleg saling menjatuhkan dan yang paling kita sesali, terjadinya upaya pembodohan masyarakat secara masif.

Kampanye yang mestinya jadi momen pencerahan jadi sebaliknya. Akibatnya yang hitam tinggal hitam, malah kian kelam. Aneka rasa pesimisme pun meluas.

Kesaksian

Kampanye negatif yang mengarah kepada kampanye hitam mencemaskan. Lalu apa yang mesti dibuat agar aura negatif itu tidak sampai meluas?

Kisah seorang buta berikut ini bisa jadi inspirasi. Ia memberikan penyadaran bahwa ternyata yang dimaksud dengan melihat tidak sekedar dengan mata tetapi ia harus lebih jauh yakni turun ke hati dan diterima sebagai sebuah sebuah kenyataan.

Hal itu terjadi suatu saat ketika ia disembuhkan oleh seseorang yang kemudian dikenal ternyata seorang nabi. Baginya, yang bisa ia sampaikan kepada orang lain adalah pengalamannya disembuhkan dan kini melihat.

Ia pun berubah menjadi juru kampanye dari orang yang menyembuhkannya. Tidak hanya itu. Daya kesaksiannya justru merepotkan para penguasa yang mulai mencari-cari alasan untuk memersalahkan si penyembuh.

Tetapi hal itu tidak cukup. Kesaksian lebih kuat dan dahsyat. Pengalaman itu dibagi ke orang lain dan dalam sekejab telah menjadi ‘buah bibir’. Di sana cerita telah menjadi sebuah kekuatan karena yang disampaikan adalah pengalaman nyata dan bukan sekedar janji. Ia pun menjadi begitu ditakuti bukan karena janji tetapi karena perbuatan yang telah dilakukan dan dialami oleh orang lain.

Kisah ini mestinya jadi pembelajaran dalam menilai para kandidat. Basis penilaian bukan lagi pada janji tentan apa yang akan dilakukan tetapi sebuah ‘sharing’ tentang apa yang sudah dilaksanakan, meski dalam skala yang kecil.

Jadinya, setiap orang yang ingin menjadi wakil rakyat mestinya lebih kerap mengisahkan perjuangannya pada level yang kecil yang tidak dibuat sendiri tetapi dialami oleh orang lain dan dirasakan manfaatnya. Hal-hal kecil itulah yang kemudian melalui media sederhana (bisa juga terbantu media sosial) bisa dikisahkan dan dapat dialami lebih banyak orang.

Sayangnya, yang terjadi, kampanye lebih merupakan momen untuk saling mengubar janji. Di sana orang dipaksakan (lewat hadiah) untuk menerimanya atau lebih tepat mengimaninya sebagai pembawa kabar gembira.

Di sini justeru tersibak, siapa yang sebenarnya yang buta. Yang buta bukan ‘si buta’ yang sudah melihat tetapi orang yang merasa dirinya melihat (caleg) tetapi tidak bisa melihat realitas yang terjadi. Mereka kian berkoar-koar, menonjolkan diri karena janjinya lebih baik (sambil menampilkan orang lain sebagai yang lebih jelek). Tak disadari, mereka sebenarnya buta.

Kebutaan itu pun bisa berakibat fatal. Pengeluaran yang begitu ‘membabibuta’ yang dananya barangkali dalam bentuk ‘pinjaman’, berakhir derita. Di sana setelah terjatuh tidak bisa menjadi anggota legislatif, mereka baru sadar bahwa yang dibuat selama ini adalah buta. Mereka melihat tetapi hati mereka buta.buta

Dalam kondisi seperti ini, kata-kata Muder Teresa dari Calcuta (1910-1997) bisa sangat inspiratif. Ia mengajak agar masa tenang yang kini dimasuki, diberi bobot. Baginya, buah dari ketenangan adalah doa. Buah dari doa adalah iman. Buah dari iman adalah cinta. Buah dari cinta adalah pelayanan. Buah dari pelayanan adalah perdamaian.

Itu berarti masa tenang ini jadi sangat menentukan. Para caleg mesti sadar agar tidak buta dengan pengeluaran tak terkontrol. Selain itu pemilih menggunakan diam untuk memerhatikan buah dari para caleg untuk menentukan pilihan secara tepat karena di sana, masa depan sebuah daerah malah negara dipertaruhkan.

Flores Bangkit 30 Mei 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s