28. Paskah datang Lagi

Paskah Datang Lagi

Paskah datang lagi. Kali ini hanya beberapa hari setelah pemilu legislatif. Hiruk-pikuk, kritik-mengkritik sambil membuka borok yang lain menjadi sebuah pemandangan lumrah. Aneka taktik licik dilansirkan, siapa tahu dapat mempermudah mendaptkan kursi jadi wakil rakyat.

Hal ini memunculkan pertanyaan: apakah perayaan paskah absen dari kepincangan sosial seperti itu? Apakah segala sesuatu bisa dilakukan asalkan dapat memperoleh kekuasaan? Apakah misteri Perjamuan Akhir bisa mengajarkan sesuatu yang lebih dalam dan bermakna?

Jurang Melebar

Kecemasan akan kehidupan sosial yang porak-poranda tentu bukan terjadi secara nasional. Ia merupakan sebuah kenyataan bahkan mendunia. Di satu pihak, sepintas terlihat aneka kemajuan yang membanggakan. Harus diakui, pencapaian kini tidak terjadi sebelumnya, hal mana membuat decak kagum.apip

Tetapi apakah kemajuan itu juga meresap? Fakta menunjukkan bahwa kemajuan itu tidak mencerminkan kesejahteraan semua orang. Ia hanyalah pencapaian segelintir orang saja. Artinya kemajuan yang tampaknya ‘aduhai’ itu dimiliki oleh sebagian kecil orang.

Menurut data dari Jason Hickl dari London School Economics, 200 orang paling kaya di planet ini bahkan memiliki 2.700 triliun dollar. Jumlah itu ternyata berada di atas jumlah akumulasi kekayaan dari 3,5 miliar orang yang hanya mencapai 2.500 triliun dollar.

Kekayaan juga terjadi antarnegara. Kalau pada masa kolonial, perbandingan antara negara miskin dan kaya hanya 3:1, maka dalam beberapa saja dekade telah menjadi 35:1 bahkan kini disinyalir 80:1.

Secara nasional, kemajuan kita bisa disebut sangat menakjubkan. Kita digolognkan sebagai negara dengan pertumbungan ekonomi tertinggi setelah Tiongkok. Lihat saja selama pemilu legislatif. Dan 400an triliun dikabarkan digunakan untuk kampanye. Terlepas apakah ia diperoleh dengan cara dipinjam tetapi minimal memberikan gambaran kita bukan negara miskin.

Indonesia pun dipandang sebagai ‘macan asia’, yang mengaum siap menerkam siapa pun yang menghadang. Ia patut ditakuti karena dengan kekuatan kekayaan alam dan sumber daya manusia, ia bisa berbuat apa saja untuk mencapai yang diimpikan.

Sayangnya potensi yang luar biasa itu terkadang memunculkan nada miris. Pasalknya, baik secara internasional maupun nasional, tendensi kekayaan itu ternyata hanya menggumpal pada sebagian kecil orang atau sedikit negara. Yang lainnya menuju ke ambang ketakpastian.

Di Indonesia, korupsi menjadi sebuah kenyataan yang memprihatinkan. APBN yang sudah seribuan lebih triliun, tidak sedikitnya menguap alias dikorupsi. Mereka lalu memperkaya diri di atas penderitaan tidak sedikit orang. Tahun lalu diperkirakan hampir 200 triliun rupiah, hampir 20% dari APBN. Tak heran, kekayaan mereka yang sudah tertangkap kadang tidak bisa dipahami.

Makan Bersama

Kecendrungan ketimpangan sosial juga terjadi pada masa Yesus. Masyarakat Yahudi memiliki tradisi yang menjamin privilese mereka. Dengan dasar asal sebagai bangsa terpilih, mereka pun menetapkan peraturan yang menjaga hal itu.

Keterpilihan itu sekaligus melihat orang lain di luar dirinya sebagai orang kafir, berdosa, yang perlu dijauhi. Jelasnya, kekayaan yang mereka miliki tidak bisa dibagi begitu saja. Ada aturan yang sangat tegas melarang duduk semeja dan makan dengan orang berdosa. Itu najis.

Peraturan agama pun jarang menyentuh hal yang bersifat keadilan sosial. Yang ada, sebuah kesibukan untuk mengatur makanan yang ‘halal dan tidak halal’. Bagi mereka hal itu lebih penting karena demi menjaga kemurnian agama.

Kenyataan itu tidak diterima ohe Yesus. Tentang hal yang najis, ia tidak menolaknya, tetapi bagiNya, yang menajiskan bukan terutama apa yang masuk ke mulut tetapi terutama apa yang keluar (Mark 7,19). Artinya, apa yang masuk tidak begitu menentukan. Tetapi yang keluar dalam bentuk perkataan dan perbuatan itulah yang menentukan kualitas diri seseorang.

Tetapi ada hal yang lebih mendasar. Aturan makanan termasuk mengatur puasa tidak bisa dipertahankan ketika maksudnya tidak mengerucut pada distribusi sosial. Artinya, yang terpentign adalah saling berbagi, membentu sebuah meja perjamuan. Ia mengundang semua orang dalam satu perjamuan (Lk 14,21). Intinya, kesejahteraan umum dan kemajuan bersama dalah hal yang paling utama.

Begitu kuatnya penekanan pada arti makan, sebelum meninggalkan dunia, Ia meninggalkan sebuah perjamuan yang penuh makna. Di sana, tubuh dan darahNya juga diserahkan sebagai makanan, sebagai contoh dalam kehidupan. Sebuah kehidupan bermakna ketika diberi secara utuh. Itulah pengorbanan diri yang paling utuh.

Atas dasar ini, teologi seperti Rafael Aguirre dalam La Mesa Compartida, punya jawaban pasti. Menurutnya, Yesus disalibkan karena cara makanNya. Ia makan dengan orang berdosa dan orang kafir. Ia dinyatakan bersalah karena meruntuhkan tradisi yang sudah ‘disucikan’ agama. Ia disalibkan karena melakukan sesuatu yang melanggar dan menggugat kemapanan. Tetapi bagiNya, itulah yang terpenting, sebuah keberadaan bermakna ketika ada demi orang lain.

Di sinilah Paskah memiliki arti sebenarnya. Sebuah perayaan di tengah egoisme dunia dan egoisme nasional. Di sana yang kaya mestinya memahami bahwa kekayaan yang diperoleh harus dibagi dan bukannya digenggam demi kesenangan segelintir saja. Ia ada untuk dinikmati bersama. Sebuah hakekat pemberian diri.

Dalam proses ini, tentu ada harapan yang besar ketika pemimpin yang dipilih ingin membiaskan salah satu dimensi kenosis atau pengosongan diri demi memberi tempat kepada orang lain yang dilayani. Pemimpin yang keluar dari kepentingan dirinya dan berbakti kepada orang lain.

Inilah Paskah dalam arti terdalam: membagi makanan, memberi diri, dan menuai kesejahteraan bersama. Tanpa dimensi sosial seperti ini, Paskah sama sekali bermakna.

Robert Bala. Mendalami Teologi Sosial pada Universiadad Pontificia de Salamanca Spanyol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s