29. Larantuka, “Tuan Deo” Marah kah?

Larantuka, “Tuan Deo” Marah kah?

 

Tidak bisa disangkal. Di hari Jumat yang sangat Agung, di mana orang Kristen merayakan pringatan wafat Kristus, tragedi itu terjadi. 10 korban sudah ditemukan, belum terhitung yang hilang. Korbannya pun tidak hanya orang biasa. Sr Epifani, CIJ, salah seorang puteri terbaik serikat CIJ menjadi korban.

Mengapa tragedi itu bisa terjadi? Apakah itu semua ulah manusia atau ada unsur kemarahan “Tuan Deo”? Tepatnya, apakah semuanya itu karena hukuman dari Tuhan?

Badai Tragedi

Sebagai tragedi, tenggelamnya kapal nelayan yang digunakan mengangkut peziarah itu bak ‘klimaks’ dari serentetan tragedi yang menimpa Larantuka.

Kisah tragis tidak pernah habisnya. Perang antar kampung di Adonara. Terakhir malah juga merambah ke Solor yang selama ini dianggap paling aman. Tidak bisa dibayangkan. Masyarakat Flotim yang terkenal sangat bersahabat, menjadi mudah geram. Nyawa sesama pun dihabiskan. Dendam tidak bisa dilerai.

Peristiwa pengumpulan dana Rp 1 juta tiap desa untuk pembuatan proposal pun jadi kasus lainnya. Pemerintah yang kehilangan ide membangun daerah melihat bahwa ‘mengemis’ dana dari pusat adalah salah satu caranya.

Hal itu terasa belum cukup ketika Mitra Tiara meniarapkan semua masyarakat. Terkecoh bunga tinggi, masyarakat pun berlomba-lomba tak terkontrol ‘menabung’ uangnya. Sialan, Rp 1,7 triliun itu raib bersama perginya si (biangke)lagi. Ia peri diketahui oleh petinggi di Flotim dan dibiarkan menghilang setelah beberapa dana sempat dikembalikan.

Di tengah suasana tak pasti itu, sudah pasti ruang agama menjadi acuan satu-satunya. Semana Santa yang sudah terkenal ke seluruh pelosok negeri bahkan di luar negeri menjadi sandaran. Nyanyian “O Vos”, bukan lagi sebuah ungkapan menangisi derita Yesus tetapi sebuah ungkapan tentang derita nyata.

Semua derita yang selama ini melanda ingin dibawa ke Yesus melalui Bunda Maria “Mater Dolorosa”. Di sana sekaligus kekuatan dimohon agar diberikan guna melanjutkan Via Cruz, Jalan Salib.

Yang terjadi justeru duka bertambah. Larantuka berduka dan berdarah. Duka oleh meninggalnya sahabat dekat, orang yang tentu sangat dibutuhkan. Duka karena darah tanda hidup yang dimohon terus ada, ternyata mengering, pergi membawa nyawa dan hanya meninggalkan tubuh yang sudah jadi mayat.

“Allah Murka?”

Pertanyaan mendasar, apakah itu merupakan ‘hukuman’ dari “Tuan Deo” untuk Flores Timur? Apakah itu merupakan petaka yang memang direncanakan oleh Tuhan?

Sepintas jawabannya adalah “ya”. Perbuatan manusia sudah tak terkontrol lagi. Ia sudah melanda semua lapisan, tidak saja masyarakat, pengusaha, juga pemerintah. Teguran ‘ringan’ sudah diberikan tetapi tidak terjadi. Ia (Tuhan), lalu memilih cara yang paling menyedihkan: “Ia tenggelamkan kapal ikan dan mengocar-ngacirkan ziarah yang teramat suci itu”.

Asumsi ini dalam kenyataannya cukup mempan. Gambaran Tuhan yang membalas kejahatan demi menyadarkan manusia begitu kuat. Di sana sebuah proses pertobatan cepat terjadi. Pertobatan kilat terjadi. Mereka yang sebelumnya jarang ke Gereja, kini menjadi rajin, malah mengambil bangku terdepan biar dilihat oleh Tuhan bahwa ia sudah bertobat.

Tetapi apakah Tuhan ‘sejahat’ itu? Apakah demi menyadarkan ia gunakan derita? Sesungguh paham ini tidak benar. Yang ada padaNya hanyalah “Kebaikan dan Kebenaran”. “Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup”. Ia menciptakan segala sesuatu ‘baik adanya’, demikian saat menciptakan langit dan bumi.

Lalu mengapa ada derita? Mengapa ada korban jiwa seperti dalam Tragedi Larantuka? Tragedi sesungguhnya merupakan salah satu contoh otonomi ciptaan. Bumi dan manusia diciptakan dengan diberi kemampuan yang harus digunakan untuk mencapai kebaikan. Dengan akal budi dan kehendak ia (diharapkan) dapat membedakan yang baik dari yang jahat.

Manusia diciptakan dengan kemampuan untuk mengenal sifat alam. Arus Gonzalo yang tenang tetapi berbahaya harus dipelajari. Kecerdikan saat prosesi harus digunakan. Tidak hanya itu. Pemerintah sebagai penanggungjawab keamanan harus menatanya dengan patroli polisi di laut demi mengantisipasi yang tidak diiginkan.

Yang terjadi justru sebaliknya. Tragedi pun terjadi karena kecerdasan yang diberikan Tuhan kepada semua orang itu tidak digunakan. Tragedi karena itu bukan hukuman Tuhan. Tudah tidak bisa dibebankan dengan cap itu demi menutup tanggungjawab manusia.

Jalan Salib

Pasca Tragedi Larantuka, hal yang jelas diperhatikan adalah perbaikan. Artinya, evaluasi kegiatan perlu menjadi bagian.

Pertama, pemerintah perlu persiapan dan koordinasi yang lebih baik. Aneka tragedi yang terjadi baik dana proposal, minggatnya Niko Ladi, hingga perang antar kampung mengindikasikan tidak berfungsinya kontrol dari pemerintah.

Pasca tragedi, fungsi kontrol dan pengaturan yang baik harus diperhatikan. Di sana pemerintah tidak bisa sekedar ‘menasihati’ tetapi membuatkan sistem baku yang mesti berjalan secara sempurna.

Kedua, tragedi Larantuka menunjukkan bahwa Tuhan tidak akan menolong jika kita tidak menolong diri kita. Raibnya uang atau perselisian tidak akan diselesaikan oleh siapa pun (termasuk Tuhan), kalau tidak ada niat dari dalam. Karena itu usaha dari dalam dirilah yang paling penting.

Aneka tragedi mesti mengembalikan peran individu untuk membuat pertimbangan yang jeli. Keinginan diri ini akan jadi dasar kuat dalam menata hidup yang lebih baik.

Ketiga, jalan menuju perbaikan tidak seadanya, artinya asal-asalan. Jalan juga tidak mudah. Sudah pasti, keberhasilan yang baik akan tercapai kalau ada usaha dan kerja keras, tidak sedikitnya melalui jalan penderitaan.

Jalan Salib atau via crucis adalah jalan yang dipilih oleh Tuhan. Ia melewati jalan salib menuju kepada kebangkitan. Jalan dengan mengorbankan diri demi kebahagiaan orang lain.

Jalan pintas dan mudah tentu lebih disukai. Namun kesenangan itu bersifat sementara. Raibnya uang di MT adalah contohnya. Sebaliknya kita diingatkan untuk melewati jalan yang meski sulit tetapi sudah pasti menjanjikan kepastian yakni kebahagiaan. Semoga.

Robert Bala. Pemerhati Masalah Sosial. Tinggal di Jakarta.
Sumber: Flores Bangkit 21 April 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s