32. DI BALIK TRAGEDI WULANDONI

DI BALIK TRAGEDI WULANDONI

Ironis memang. Tepat di hari peringatan kemerdekaan 17 Agustus 2014, malah sesudah apel bendera, terjadi konflik berdarah yang menewaskan korban jiwa, belum terhitung puluhan orang terluka mulai dari ringan hingga berat. Kenyataan lebih menyayat lagi melihat rumah yang dibakar maupun yang dirusakkan tak terkecuali Gereja yang turut jadi sasaran amukan.WULANDONI2

Di balik tragedi Wuladoni terbersit kesdaran bahwa ada hal mendalam yang harus dikaji bersama. Butuh sebuah penanganan menyeluruh dan mendalam.

Kisah tragis antara dua desa tetangga, Wulandoni dan Pantai Harapan, yang berawal dari masalah batas desa menjadi menarik untuk direfleksikan. Mengapa hal itu terjadi? Apa yang perlu dibuat agar ke depan, tidak terjadi kisah serupa?

Tidak Disadari

Sebuah konflik hingga berujung pada aksi kekerasan malah perang, biasanya muncul dari hal yang kelihatan sederhana dan biasa saja.

Persoalan tapal batas desa misalnya sepintas tidak dianggap serius. Ia menjadi masalah yang ‘tidak penting’ karena tidak ada sesuatu berharga yang diperebutkan. Jelasnya tidak ada keuntungan ekonomis begitu menonjol (seperti lokasi pertambangan) yang mendorong orang harus rela menumpahkan darah karena ada sesuatu yang bisa diperoleh.

Namun mengapa hal yang ‘sepeleh’ itu bisa menjadi sumber konflik? Meminjam telaah Coser Lewis, dalam Master Sociological Thought, 1977, yang diperebutkan adalah identitas.

Dari sisi teori identitas, ada sesuatu pada masa lampau yang menjadi beban. Ia juga mengandung ancaman yang yang tidak terungkap. Ada ketakutan terselubung yang ketika dibuka akan memunculkan amarah yang bisa tidak terkendalikan.

Persoalan identitas diri yang didasarkan pada kisah yang dijaga ternyata menjadi seperti hal laten(latent interest). Ia dijaga dalam ingatan kolektif dan selalu dihidupkan. Ia pun menunggu waktu yang pas untuk diwujudkan.

Yang menarik, kisah masa lampau itu bersifat parsial. Masing-masing desa memiliki versinya yang dianggap paling benar. Lebih lagi, kisah parsial kerap juga diserta klaim yang merendahkan pihak lainnya. Inilah bahaya laten yang kerap tidak disadari.

Masalahnya berubah menjadi brutal hal mana terjadi ketika kisah itu dipatenkan dalam batas fisik. Dalam perspektif Lewis, hal seperti ini berbahaya. Sebuah konflik yang awalnya kelihatan bersifat tidak realistis (karena hadir dalam kisah parsial), berubah menjadi realistis oleh kehadiran obyek fisik yang menjadi sumber pertentangan.

Pembangunan talud oleh Pantai Harapan tanpa disadari sebenarnya menjadikan masalah itu menjadi sangat berbahaya. Sayangnya, proses itu tidak cepat ditangani. Malah kehadiran aparat kepolisian sehari sebelum konflik berdarah seakan tidak bermakan. Di depan mereka, terjadi kisah hal mana memunculkan kesan pembiaran.

Kisah itu pun meluas begitu cepat. Masalah yang tadinya ‘sederhana’ menjadi sangat luas. Isu agama disebarkan, lebih lagi ketika Gereja juga jadi bagian serangan. Sebuah bahaya yang sangat sadis dan menakutkan bisa saja terjadi ketika masalah yang tadinya sederhana kemudian dianggap sebagai konflik antarbudaya (antaragama).

Bisa dibayangkan suasana Wulandoni dan Pantai  Harapan. Kehidupan beragama yang selama ini sangat baik terjaga, karena terprovokasi oleh isu yang tidak jelas identitasnya, bisa berujung pada konflik berarah yang meluas.

Simbol Perdamaian

Tragedi yang tentu tidak mudah dilupakan dalam waktu dekat, bagaimana pun juga perlu disikapi. Kehadiran tentara yang menjaga keamanan dari tiga kabupaten yang dikerahkan tentu tidak akan berlangsung lama. Ketika tiba saatnya, mereka harus pergi dan yang akan berjuang adalah warga yang berkonflik.

Pertama, perlu negosiasi prinsip. Dalam kaitan dengan konflik tapal batas yang berpijak pada kisah berbeda, maka hal itu mesti disatukan. Prinsip kedua belah pihak yang tentu saja berbeda dan berseberangan perlu disatukan.

Tidak hanya utama. Prinsip paling utama adalah masing-masing pihak melihat bahwa kehidupan yang aman dan damai menjadi lebih penting dari segalanya. Pada sisi lain, konflik akan merugikan semuanya. Dalam konteks ini maka yang terjadi bukan lagi masing-masing pihak berdiri pada posisinya tetapi sebaliknya kedua belah pihak mengarahkan pandangan pada tujuan yang sama.

Kedua, perlu loyalitas ganda. Kesamaan prinsip perlu diikuti dengan kegiatan antardesa yang sifatnya menggabungkan warga dalam organisasi berbeda. Para pakar menamakannya sebagai kesatuan sosial(cross-cutting affiliations) atau loyalitas ganda (cross-cutting loyalities).

Dalam proses ini, warga Wulandoni dan Pantai Harapan tidak bertanding (misalnya olahraga) antar kampung tetapi masing-masingnya dilebur dalam kelompok berbeda. Degan demikian warga Wulandoni harus mendekati anggota teamnya dari Pantai Harapan. Jadi di satu pihak ia punya loyalitas pada desanya tetapi pada pihak lain ia juga punya loyalitas pada temanya yang merupakan gabungan.

Ketiga, kasus Wulandoni perlu menjadi pembelajaran khususnya bagi aparat pemerintah dan kepolisian. Kehadiran aparat kepolisian di lapangan saat konflik dan serangan terhadap kantor camat adalah sebuah bentuk ketidakpuasan terhadap pelayanan yang terjadi.

Di sini terlihat bahwa semestinya mereka (camat dan Kapolres) memiliki tanggungjawab terhadap pertumpahan darah karena mereka berada di lokasi. Dalam kasus itu, kejelian melihat masalah tidak terlihat pada aparat sehingga memunculkan amarah. Proses permintaan tanggungjawab karena itu menjadi penting karena telah melalaikan sebuah tanggungjawab yang mestinya diberikan.

Keempat, perlu transformasi. Konflik yang berawal dari hal yang kelihatan sederhana perlu dikelola dan menjadi pembelajaran berharga. Ia tidak hanya perlu dicegah tetap dikelolah secara positif. Dalam proses ini kekerasan perlu dibatasi dan dihindari. Lebih dari itu, proses resolusi pun harus dilaksanakan di mana sebab-sebab perlu ditangani secara baik.

Di atasnya yang paling dinantikan adalah transformasi di mana sumber konflik yang tadinya bersifat laten dan negatif diubah menjadi sebuah kekuatan sosial. Sebuah hal yang bisa dibuat pascatragedi adalah mengubah tapal batas menjadi sebuah monumen perdamaian.

Ia tidak dibongkar tetapi dengan bantuan pemerintah daerah didirikan simbol, monumen, atau prasasti. Hal itu akan menjadi tanda kemenangan karena talud yang konfliktif ditrasnformasi menjadi monumen yang menyatukan dan memberikan pembelajaranbukan saja untuk kita kini tetapi juga untuk generasi mendatang. Semoga.

Flores Bangkit 26 Agustus 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s