33. WULANDONI DAN PROVOKASI MEDIA SOSIAL

33. WULANDONI DAN PROVOKASI MEDIA SOSIAL

Di senja peringatan hari kemerdekaan 17/8/14, sebuah berita mengejutkan datang dari Selatan Lembata. Oleh bantuan media sosial, khususnya Facebook , konflik yang terjadi di ujung Lembata itu bisa diketahui pada waktu yang sangat singkat oleh orang Jakarta.MEDIA SOSIAL

Media Sosial sangat penting mempercepat informasi. Tetapi diperlukan kebajikan dalam menilai dan mengevaluasi. Hal itu terutama diminta dari orang berpendidikan yang bertanggungjawab dalam melanisirkan informasi agar tidak menjadikan situasi menjadi runyam seperti yang terjadi dengan tragedi Wulandoni

Komentar pun semakin tidak terkontrol. Ada yang mengklaim orang yang diam dan tidak membalas dendam adalah ‘bodoh’. Ada yang mengaitkan dengan masalah agama. Hal itu menjadi tafsiran saat Gereja menjadi salah satu objek pengrusakkan. Seorang wanita bahkan menantang kaum pria Lembata yang ternyata tidak ‘berani’ membela Gerejanya yang lagi dirusakkan.

Kicauan mediasosial itu bisa saja menguntungkan karena dalam waktu dekat bisa datang balabantuan dari kabupaten terdekat, seperti Flores Timur dan Sikka. Tetapi apakah informasi yang begitu telanjang beredar tidak dimanipulasi demi kepentingan parsial? Inilah pertanyaan kritis yang mesti jadi pembelajaran usai Tragedi Wulandoni.

Desa Global

Semenjak hadirnya radio dan televisi, kemudian semakin meluas oleh hadirnya media sosial, sudah terasa bahwa lingkup dunia menjadi kian kecil. McLuhan dalam Understanding Media (1964) sangat futuristik memprediksi kekuatan luar biasa dari media.

Teknologi bagi McLuhan merupakan perpanjangan dari kemampaun manusia. Hal yang hanya bisa disampaikan secara lisan-langsung, kini semakin meluas oleh bantuan media. Khususnya pada zaman McLuhan, terlihat bahwa informasi sudah dikuasai oleh orang (pemilik media). Mereka mengontrol proses informasi.

Tak pelak media disebut sebagai pesan itu sendiri (the medium is the message). Artinya, informasi yang disampaikan akan memengaruhi orang. Di sana diharapkan agar pesan itu dikemas secara bijak karena hal itu sangat memengaruhi orang lain.

Ternyata proses yang ditakutkan oleh McLuhan lebih dahsyat. Bila pada era media elektronik seperti televisi ditakutkan karena pemilik modal atau berita bisa menyitir informasi, kini justeru meluas. Semua orang menjadi pemberi dan penerima informasi, hal mana terjadi dengan kehadiran media sosial seperti facebook, twitter, whatsup, dan lain-lain.MEDIA SOSI

Tak pelak, dunia menjadi begitu kecil. Informasi yang terjadi di Wulandoni dan Pantai Harapan begitu cepat diterima. Bahkan mungkin saja desa tetangga seperti Knotan, Kahatawa, Mulandoro, Leworaja, Atakera, Puor, Posiwatu, Lamalera belum mengetahuinya, tetapi orang Jakarta malah luar negeri telah mengetahuinya.

Tak heran, proses ini menjadikan dunia bak sebuah desa global atau global village. Sebuah aspek dari globalisasi langsung terasa dan terlihat efeknya. Proses ini bisa saja positif.  Pelbagai informasi tentang tragedi yang membutuhkan bantuan bisa segera dilaksanakan. Hal ini terjadi terutama dalam tragedi bencana alam.

Tetapi hal itu bisa berimbas negatif. Dalam tragedi Wulandoni dan Pantai Harapan, hal bisa berakhir lebih mengkuatirkan. Beredarnya informasi yang segera ditanggapi dengan berbagai versi, belum lagi disertai agitasi dan provokasi tanpa disadari bukannya menyelesaikan tetapi malah mendatangkan masalah baru.

Lebih lagi ketika masalah yang sebenarnya ‘hanya’ sebatas tapal batas dikembangkan menjadi masalah agama. Bisa dibayangkan akhir tragedi kalau terjadi serangan membabi-buta.

Yang menonjol dalam proses ini, penyebaran informasi agak kurang terjadi pada lingkup yang bertikai tetapi malah berasal dari luar. Mereka bisa saja orang asal kampung itu, tetapi kini berada di luar daerah. Dari tempatnya, ia bahkan mengendalikan semua informasi yang dengan segera disebarkan kepada orang sekampungnya.

Menebar Kebaikan

Tragedi Wulandoni dan Pantai Harapan mestinya mengingatkan dan menyadarkan kita tentang peran positif yang dimiliki media sosial tetapi sekaligus awasan akan dampak negatif yang bisa muncul kalau tidak dikuasai.

Pertama, informasi dalam media sosial, mestinya tidak provokatif. Terhadap sebuah kasus yang terjadi, ungkapan spontan mestinya lebih menunjuk kepada penyelesaian masalah: “semoga semua pihak mengendalikan diri”, “masalah pribadi jangan dijadikan masalah bersama”, “aparat mohon segera turun tangan”, adalah contoh bijak yang perlu dilakukan.

Mengapa? Tanggapan atas sebuah informasi yang terjadi secara tiba-tiba harus diakui bahwa ia sangat mudah jauh dari kualitas. Ia sekedar issue yang kebenarannya bisa diragukan. Karena itu menambah komentar pada informasi itu akan merugikan.

Kedua, apa yang ditulis dalam media sosial terekam dan dapat menjadi bukti bila terjadi pelanggaran atau provokasi. Undang-undang data elektronik menekankan hal itu. Itu berarti, apabila terjadi hal yang tidak wajar, proses itu bisa dideteksi.

Hal ini mengingatkan kita bahwa bila dalam dunia lisan semboyan “mulutmu harimaumu”, maka dalam era media sosial, jejarimu adalah harimaumu. Jejari yang sangat mudah menekan tuts HP untuk menulis komentar bisa berimbas tidak saja merugikan diri sendiri tetaip juga orang lain. Karena itu kehati-hatian dan terutama kebijaksanaan tentu menjadi sangat penting.

Ketiga, ukuran dalam informasi media sosial sebenarnya sangat sederhana yakni sejauh mana apa yang disampaikan untuk mendatangkan kebaikan. Jelasnya, media sosial perlu menjadi sarana untuk menebarkan kasih dan bukannya kebencian, pengampunan dan bukan penghinaan, kerukunan dan bukan perselisihan, kebenaran dan bukan perselisihan.

Media sosial juga sebagaimana kata Santo Fransiskus dari Asisi, perlu menjadi pembawa kepastian, dan bukannya kebimbingan. Ia juga pembawa harapan (untuk juga Pantai Harapan) dan bukan keputusasahan dan membawa terang dan sukacita dan bukannya kegelapan dan kesedihan.

Tebaran kebaikan inilah yang perlu jadi target dan pembelajaran. Di sana sudah pasti, ketika kebaikan yang ditebarkan maka informasi itu akan benar karena orang selalu bersikap positif mengupayakan kebaikan.

Sebaliknya bila menebar keburukan atau dendam, tenpa perlu ditelusuri, itu adalah hal yang sudah pasti salah dan merugikan. Semoga harapan positif bisa hadir di balik tragedi Wulanduni dan Pantai Harapan.

Flores Bangkit 26 Agustus 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s