34. SLANK DAN GERAKAN SOSIAL

34. SLANK DAN GERAKAN SOSIAL

Tampilnya sebuah group Band dalam sebuah panggung politik, rasanya bukan hal baru di negeri ini. Demi menggapia impian menjadi pemimpin dan dapat mendulang popularitas, maka menggandeng para artis merupakan sebuah pilihan yang logis. Tak heran, mendekati sebuah perhelatan politik, para artis terus diburu. Memiliki artis terbaik sudah bisa menjamin kesuksesan.SLANK MEDIA

Tetapi apa yang berbeda dari Slank ketika memilih berada di balik Jokowi-JK? Apa makna besar ketika pada Sabtu 15 Juli 2014 Slank mengadakan Konser ‘2 jari’ di Gelora Bung Karno di lagi mengadakan Pesta Rakyat di Monas pada 20 Oktober? Apa rahasia di baliknya?

Tiga Periode

Mempelajari ‘riwayat’ hidup Slank, sejak berdiri Tahun 1983, kita bisa membaginya dalam tiga periode. Periode pertama, bisa disebut masa awal yang sulit, yakni 1983-1989. Grup yang cikal bakalnya dari grup bernama Cikini Stones Complex (CSC) yang dibentuk oleh Bimo Setiawan Almachzumi / Bimi Setiawan Sidharta (Bimbim).

Tidak ada ideal selain menyanyikan lagu-lagu Rolling Stones dan tidak menyanyikan lagu lagi. Dengan gaya yang mirip akhirnya kebosanan begitu cepat menghantui. Dari sana Bimbim mengajak saudaranya Denny dan Erwan untuk menginisiasi Slank bersama tambahan Bongky (guitar) dan Kiki (guitar).

Ada nuansa baru karena mereka mulai lebih kreatif dengan menyanyikan lagu-lagu gubahan sendiri. Tetapi penampilan mereka yang ‘slenge’an’, alias sedikit seleboran, biasa saja dan begitu biasa’, tidak saja memunculkan kebosanan pendengar, tetapi bahkan secara internal. Erwan memilih mengundurkan diri karena tidak ada harapan untuk tetap ‘eksis’ dalam grup ini.

Masa sulit tidak dilihat secara negatif oleh personil lainnya. Mereka justeru terus berusaha hingga tahun 1990 grup yang berjenis “Rock- Blues” masuk dapur rekaman dan mengantar mereka pada periode kedua yang menakjubkan (1990-1999). Mereka tidak saja melahirkan Album perdana: Suit…Suit….He….He….(Gadis Sexy) yang sanggup menarik perhatian dari dominasi atas lagu-lagu Malaysia (seperti Issabela), tetapi membangkitkan animo musik Indonesia.

Secara sangat mengalir, Album Kedua (Kampungan), Ketiga (Piss), Keempat (Generasi Biru), dan Kelima (Minoritas), muncul begitu mengalir. Hal itu pula yang memunculkan begitu banyak permintaan untuk show yang menggiurkan. Sayangnya, kehadiran permintaan dikira harus dijawabi dengan penampilan tetap ‘prima’ hal mana telah menjerumuskan Bimbim dan Kaka dalam jurang narkoba.

Pamoritas dan narkoba justeru kian mencekam. Kelahiran Album keenam Lagi Sedih bisa jadi lebih menggambarkan suasana sedih dalam grup. Bongky, Indra, dan Pay (kemudian diikuti Reynold) memilih mundur. Yang terjadi, para Slankers justeru tidak diam menyikap secara positif angka celaka ‘tahun ke-13’ Slank.

Lebih lagi, aneka peristiwa yang terjadi menyadarkan bahwa narkoba bukan jalan keluar. Ia justeru menghampakan. Dalam refleksinya sesudahnya, Bimbim dan Kaka menyadari, asumsi bahwa narkoba membantu kreativitas ditentang. Rangkaian almum terutama 1-3 saat belum terjerumus dalam narkoba justeru dianggap sebagai álbum terbaik.

Kejatuhan itu telah melahirkan sebuah semangat untuk memasuki periode kelahiran baru (2000 sampai kini). Masuknya Abdee, Ridho, dan Ivanka pada tahun 19977. tidak saja menyadarkan mereka yang terlibat narkoba untuk ‘balikin’, tetapi juga ‘suntikan’ positif dari Abdee dan Ridho yang sama sekali tidak menggunakan narkoba membawa semangat positif.

Tidak hanya itu. Slank telah berubah tidak sekedar solider dengan kelompok marginal tetapi juga beruapa terlibat mengadakan sebuah pembaharuan nasional. Lahirnya álbum Mata Hari Reformasimelahirkan semangat perjuangan. Sebuah Indonesia Baru untuk ikut dalam perjuangan.

Pada tahun 2006 dan 2008, mereka bahkan masuk dalam lagu-lagu yang secara terbuka mengkritisi perilaku tak sedap di negeri ini. Lagu Lapindo (2006) dan konflik terbuka dengan DPR tahun 2008 melalui lagu Gosip Jalanan (álbum 2005) dan tidak melupakan lagu Lembah Baliem (2001) sebagai kritik atas pembabatan hutan mencerminkan bobot lagu yang menjadikan Slank tidak sekedar sebuah band.

Peningkatan kualitas juga diikuti dengan pengakuan umum menjadikan Slank sebagai Indonesia’s Highest-Paid Music Star atau bintang musik berbayaran termahal pada tahun 2008 dan 2009 dengan honor Rp 500 juta per show.

Periode ke-4

Munculnya Slank pada tahun 2014 khususnya pada pentas pilpres, mestinya tidak dilihat sebagai sebauh kebetulan. Lebih lagi ia tidak sekedar ‘nebeng’ apalagi sekedar dibayar.

Sebaliknya, lika-liku hidup mulai dari periode ‘slenge’an’ yang biasa saja seperti kebanyakan orang hingga menjadi band papan atas adalah sebuah perjuangan. Di sana pamor dan kejatuhan menjadi bagian yang tidak bisa dihindari.

Namun dalam keterpurukan, ia masih punya harapan tidak saja untuk ‘balikin’ tetapi mengadakan sebuah pembaharuan sosial. Semangat inilah yang sudah dimiliki. Sebuah perjalanan sejarah yang sudah menjadi bagian hidupnya.

Konteks perjuangan diri inilah yang barangkali menjadi alasan bagi Slank untuk mencari figur Presiden yang identik dengan perjuangan hidupnya. Di sana dukungan ‘all out’ diberikan. Perubahan paradigma kehadiran artis pun berubah karena mereka bukannya ‘dicari’ untuk ‘dipakai’, tetapi ‘mencari’ untuk ‘memakai’.

Pilpres 2014 menjadi momen puncak dari Slank. Sejarah yang diretas 30 tahun menjadi sebuah rentetan yang menyadarkan mereka untuk tidak berhenti pada periode ketiga tetapi malah membuka periode baru mengantar siapa pun yang dianggap identik dengan slank yang tidak saja ‘slenge’an’, tetapi punya nyali untuk berbakti pada nusa dan bangsa.

Inilah periode ke-4, periode gerakan sosial yang inspiratif. Sebuah paradigma baru untuk menghasilkan pemimpin baru di negeri ini. (Bersambung)
Sumber: Flores Bangkit 23 Oktober 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s