35. Jokowi & JK dan “Slenge’an”

35. Jokowi & JK dan “Slenge’an”

Bersatunya Jokowi (JK) dan Slank pada pilpres 2014 menjadi sebuah berita yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Konser 5 Juli 2014 di GBK dan 20 Oktober 2014 di Monas adalah sebauh fenomena menarik.

 

Sebuah grup band begitu ‘all out’, memberikan diri untuk turut bermain menentukan pemimpin negara ini. Mereka sadar, pekerja seni tidak bisa sekedar ‘berteriak’ di luar panggung tetapi ikut ambil bagian.SLANKK

Namun keterlibatan mereka berbeda dengan tidak sedikit artis yang memilih untuk ‘jadi pemimpin’ dengan berbekal popularitas. Mereka justeru terlibat melahirkan pemimpin baru.

Kekuatan Dahsyat

Pablo Martínez Vila. Dalam bukunya El Aguijón en la Carne (duri dalam daging), 2008,  membuat sebuah refleksi menarik. Berpijak pada pengalaman penyakit glaukoma yang diderita hingga dioperasi 14 kali, ia sadar, setiap ‘duri’ bisa disikapi sebagai berkah.

Itu berarti, setiap pengalaman dari bawah tidak bisa dianggap sepeleh. Bahkan derita dan pergulatan hidup yang sangat seram dan pahit tidak bisa dianggap sebagai akhir melainkan momen inspiratif.

Berguru pada pengalaman rasul Paulus yang bangga dengan kelemahannya, ia temukan, setiap pengalaman harus diola menjadi kekuatan.  Rasul Paulus benar saat menulis: “Ketika aku lemah, aku kuat” (2 Kor 12,10).

Gagasan Martínez Vila seakan dibenarkan dalam fenomena yang tengah terjadi di negeri ini. Pengalaman jatuh-bangun Slank dari kelompok ‘slenge’an, menunjukkan bahwa hal-hal sederhana tidak dianggap biasa. Kelemahan bukanlah akhir tetapi justeru awal untuk mencapai kekuatan baru.

Pengalaman ditolak dan kejatuhan menjadi pengalaman manusiawi. Namun hal itu justeru tidak membuatnya jerah. Ia justeru mengantarnay untuk menjadi sukses. Tidak hanya itu. Pengalaman menjadi orang kecil justeru mengantarnya untuk menghasilkan karya berbobot yang hanya bisa dimiliki oleh orang yang mengalami hal-hal kecil.

Hal itu berbeda baik dalam Slank maupun Jokowi. Slank lahir dari bawah, dari masyarakat umum yang ‘biasa-biasa saja’. Berjuang ditolak dan tidak dianggap. Mereka tidak dilihat sebagai ‘siapa-siapa’. Namun dalam suasana itu memunculkan ide kreatif untuk hunjuk diri lewat lagu-lagu ciptaan sendiri (yang tadinya hanya menyanyikan lagu-lagu “Rolling Stones”.

Pengalaman yang sama terlihat dalam pribadi Jokowi. Ia bukan siapa-siapa pada masa kecilnya. Pengalaman sebagai ojek payung, jalan kaki ke sekolah, dan keluarganya yang pernah digusur tiga kali merupakan pengalaman riil yang ia miliki.

Hal itu menunjukkan bahwa pada masa kecil, Jokowi adalah ‘bukan siapa-siapa’. Dengan kata lain, tidak ada ‘dasar’ apa pun untuk mengandalkan bahwa keluarganya sudah punya ‘apa-apa’ untuk mengantarnya menadi ‘siapa’ pada periode ini.

Namun pengalaman dari bawah sangat dahsyat. Realitas perjuangan dan jatuh bangun telah memunculkan inspirasi bahwa sebuah perubahan biasa terjadi dari hal-hal biasa. Sebuah pembaharuan sosial bisa lahir dari pengalaman menjadi orang pinggiran.

Ia juga jadi inspirasi bahwa sebuah perjuangan yang tadinya bersifat biasa bisa berujung pada hal ‘luar biasa’ sebagaimana tengah kita saksikan kini di negeri ini. Ia kembali menguatkan hal-hal sederhana, ‘slenge’an’, kecil, bukan tanpa arti. Ia bisa jadi benih yang melahirkan sesuatu yang besar.

Inspirasi

Tampilnya Jokowi(JK) dan Slank sepanggung di tahun 2014 memberi inspirasi menarik untuk dimaknai.

Pertama, mereka memberi makna untuk hal kecil yang terus terjadi sebagai sebuah kekuatan. Mereka membangun kesadaran bahwa untuk membangun Indonesia, tidak perlu hal-hal besar dan luar biasa tetapi bisa lahir dari hal-hal kecil dan sederhana.

Kalau patokan ini dipakai, maka sebuah perubahan dahsyat terjadi karena setiap oragn akan mengambil bagian dalam pembangunan bangsa bertolak dari hal kecil yang dimiliki. Inilah cara pandang yang sudah lama hilang

Sejak Soekarno dengan ide-ide besar dan Soeharto dengan gebrakan-gebrakan luar biasa maupun pada masa reformasi dengan semangat-semangat agung merombak tatanan yang sudah ada pada akhirnya diketahui bahwa proses itu lebih didominasi oleh kelompok atas.

Kini sebuah kesadaran bahwa bahwa ide-ide besar yang sudah dimulai tentu baik pada periodenya tetapi akan mejadi lebih lengkap ketika disertai oleh partisipasi kecil dari kaum kecil untuk menjadikannya besar dan kuat.

Kedua, perjunagan Slank-Jokowi memberi harapan bahwa sebuah mobilitas vertikal dari bawah ke atas itu mungkin. Lebih lagi setiap tantangan bukan kata akhir tetapi sebagai semangat untuk memulai sebuah jalan baru.ROBERT SLANK

Kenyataan itu mesti membuka horizon baru dalam diri begitu banyak orang ‘kecil’ pinggiran di negeri ini bahwa sebuah perubahan ke arah positif selalu terbuka. Sebuah pembaharuan akan terjadi ketika semangat itu tidak padam.

Ketiga, bersatunya Jokowi-Slank punya harapan yang lebih besar. Jokowi yang lahir dari kaum pinggiran dan Slank yang dari bawah dari hal ‘slenge’an’ atau kecil tidak hadir sebagai sebuah angan kosong dan harapan yang berlebihan. Ia adalah sebuah kekuatan riil yang tidak bisa dipermainkan.

Artinya dukungan Slank dan relawan lainnya menjadi sebuah kontrak teramat besar. Di atasnya sebuah kesungguhan harus diutamakan di luar ‘deal-deal’ demi kekuasaan. Mengapa ? Sebuah kegagalan menanggapi harapan akan berakibat pada gerakan ulang untuk menurunkan sang pemimpin.

Jokowi tentu tidak ingin seperti itu. Demikian Slank dan para relawan tidak ingin menodai perjuangan yang sudah dilakukan. Karenanya, sebuah upaya bersama-sama, bahu-membahu, dan saling mengingatkan merupakan jalan bijak menuju Indonesia yang lebih baik.

Sumber: Flores Bangkit 24 Oktober 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s