36. Lewoleba dan Krisis Identitas

Lewoleba dan Krisis Identtias

Sejak menjadi Ibu Kota Kabupaten Lembata, malah sebelumnya ketika masih menjadi Koordinator Skap Lembata dan Pembantu Bupati Flores Timur (Flotim), Lewoleba sudah disebut ‘kota’.

 

Dari sisi jumlah penduduk 124 ribu penduduk Lembata, 38 ribu penduduk (atau 30%) mendiami kecamatan Nubatukan yang bisa disebut ‘Lewoleba Raya’. Ia pantas disebut kota.Tetapi apakah ‘kota baru’ diharapkan tumbuh itu kini terwujud? Mustahil betanya demikian. Mudah masuknya hal negatif (seperti pergualan bebas remaja dan bisnis ‘lendir’, serta konflik politik dan pembunuhan) (Flores Bangkit 16/2/2015) menunjukkan Lewoleba tengah mengalami krisis identitas.

Beban Berat

“Our Identity”, demikian Afnan Ahmad Mia has already been chosen for us; but it is up to us to accept it or fight and change it” (identitas kita sudah ditentukan untuk kita, tetapi terserah kita untuk menerima atau melawan dan merubahnya).

Dari pengertian ini maka sesungguhnya Lewoleba tidak sekedar nama. Ia juga mewakili sebuah identitas yang tidak saja digali tetapi juga dihidupi dan terutama harus dikembangkan ke depan.identitas

Secara literatur (minimal sejauh pengetahuan penulis), belum ada data tertulis tentang nama Lewoleba. Tetapi menelusuri bahasa tutur, lewoleba bisa diuraikan berasal dari kata ‘lewo’ (artinya kampung) dan ‘leba’(artinya pikul). Secara harafiah, lewoleba bisa berarti memikul beban (bersama-sama).

Hal itu mengandung arti, kehidupan sebagai kampung tidak bisa dijalankan secara sendirian. Di sana ada beban dan tanggungjawab yang harus dipikul (di’leba’). Hal itu mencakup tradisi sebagai warisan mapun kenyataan hidup kini yang butuh kerjasama untuk dipikul bersama. Inisiatif menjadi salah saut hal yang patut dijempoli. Di sana semua orang ingin memberi diri untuk membikul beban (leba ata) dan bukannya berpangku tangan malah menjadi beban bagi orang lain.

Tidak hanya itu. Di Lembata, makna ‘leba’ ternyata dimaknai lebih jauh. Dalam memikul beban hidup, pro kontra (paji dan demon) menjadi hal yang biasa terjadi. Konflik bisa saja terjadi oleh pertauratan kepentingan. Pada saat itu, posisi memikul beban di tengah (lebatukan) haus diambil. Hanya dengan demikian keharmonisan dapat dijalin kembali.

Dalam tafsiran bebas penulis, pemberian nama ‘lewoleba’ di posisi sentral di Lembata sudah dimaknai bahwa ia akan menjadi kampung dengan beban yang berat. Ia akan jadi tempat di mana semua orang dari berbagai tempat di Lembata akan bertemu. Di sana Lewoleba menjadi bak sebuah muara temu, inalebo yang pernah dipakai untuk menyingkat semua kecamatan di Lembata di era 70-an.

Tanpa Identitas

Menjamurnya kasus di Lembata mulai dari pergaulan bebas, bisnis ‘karoke’ yang sudah identik dengan prostitusi terselubung hingga pergulatan politik, hingga pertikaian antarkeluarga sampai kepada pembunuhan tanpa henti menunjukkan bahwa ada sebuah permasalahan identitas yang belum selesai digagas apalagi diwujudkan.

Sejak menjadi ibu kota kabupaten, justeru Lewoleba kehilangan identitas. Ia bukan lagi desa tetapi juga bukan kota. Ia bukan lagi desa kecil (small village) yang identik dengan akrabnya hubungan kekerabatan dan kontrol sosial serta tingginya keramahtamahan.

Yang terjadi, justeru Lewoleba sebenarnya telah ‘big village’, kampung besar. Kedengarannya ‘krein’. Tetapi sesungguhnya ia penuh ironi. Kampung besar ditandai oleh pola hidup ‘kampungan’. Di sana orangnya berlagak ‘kekota-kotaan’ dengan melemahnya relasi kekerabatan.

Ia juga ditandai oleh persaingan untuk selalu tampil ‘lebih’ dari yang lain. Atau ia malah mengikuti pola hidup remaja di kota yang kelihatan selalu tampil vulgar dan menarik. Padahal mereka lupa bahwa pola hidup seperti itu bukan tanpa syarat. Lemahnya kontrol sosial seperti yang terjadi di kota besar segea diimbangi oleh peran sosial media dan kelas menengah yang selalu hadir memberikan alternatif.

Sementara itu pola hidup remaja tidak berarti identik dengan pergaulan bebas. Dasar hubungan yang kuat dalam keluarga menjadi dasar bagi mereka dalam ‘menjaga diri’ dalam pergaulan. Tak heran, dengan mudah pergaulan itu dapat ditata.

Di Lewoleba hal ini mencemaskan. Pola kerjasama hal mana terpateri pada namanya, memudar malah sirna. Beban sosial yang menjadi tanggungjawab yang mestinya dipikul bersama dalam kenyataan tidak dikontrol apalagi ditata. Semua orang seakan ‘bebas’ menentukan nasibnya. Menjamurnya ‘karoke dan bar’ seakan dibiarkan begitu saja tanpa ada pihak yang bertanggungjawab.

Peran maksimal yang diharapkan dari pemerintah pun menjadi sebuah kevakuman. Pejabat lebih mementingkan urusan ‘perutnya’ (tunjangan dan ‘pondoknya) ketimbang memikul beban. Ia bukan lagi jadi ‘lebaata’, orang yang memikul beban tetapi malah jadi beban masyarakat.

Kembali

Kepincangan sosial yang terjadi mesti jadi pemicu untuk dapat kembali mengambil nilai-nilai tradisi dan sanggup merumuskan kebijakan baru.

Petama, perlu dihidupkan lagi tanggungjawab dan kontrol sosial hal mana menjadi identitas masyarakat desa. Meski secara fisik Lewoleba bisa disebut kota tetapi dalam kenyataannya ia semestinya sebuah desa yang ditandai oleh keakraban dan kontrol sosial yang tinggi. Di sana niscaya terjadi hal yang aneh (bisnis lendir dan pergaulan bebas) karena melekatnya identitas diri.

Kedua, butuh peran pemerintah dan gereja sebagai ‘penengah’. Mereka tidak jadi simbol pertentangan yang kian merunyamkan melainkan strategis memainkan peran. Yang terjadi, pemerintah masih sibuk dengan ‘kepentingannya’. Sementara itu Gereja lebih hadir secara sakamental tetapi belum memainkan peran maksimal termasuk dalam membangun keutuhan keluarga sebagai basis kehidupan masyarakat kota.

Ketiga, butuh kemauan bersama. Aneka kepincangan dan krisis identitas yang terjadi mesti jadi dorongan agar ditanamkan tekad bersama dalam membangun Lewoleba sebagai pusaran kekuatan di Lembata. Hal itu mengandaikan semua pihak bisa berkontribusi untuk menghidupkan kembali identitas diri dari dalam. Meminjam Doug Cooper: “identity cannot be found or fabricated, but emerges from within when one has the courage to let go”. Hal inilah yang harus dikejar dan menjadi acuan kini untuk Lewoleba yang lebih baik.

Sumber: Flores Bangkit 23 Februari 2015

– See more at: http://arsip.floresbangkit.com/2015/02/lewoleba-dan-krisis-identitas/#sthash.ZqBuk4Ce.dpuf

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s