37. Korupsi dalam Gereja?

Korupsi dalam Gereja

Ada sebuah anekdot yang kebenarannya bisa saja diragukan. Alkisah seorang petugas gereja, setelah menerima kolekte, dengan nada penuh keyakinan melemparkan semua uang hasil kolektek ke atas: “Ini semua untukMu. Saya serahkan semuanya (sambil melemparkannya ke atas). Tetapi yang jatuh, untuk saya”.

 

Anekdot lucu tetapi juga menggelikan, sengaja sebagai pentantar untuk menanggapi berita Flores Bangkit 05/03/2015: “Diduga Korupsi Dana Pembangunan Gereja, Jaksa Tetapkan Tiga orang Jadi Tersangka”.Apakah memang korupsi itu ada dalam Gereja? Mengapa justeru hal itu terjadi dalam Gereja dan bagaimana mengatasinya?

Hofni dan Pinehas

Kisah tak sedap yang justeru terjadi dalam rahim Gereja, mestinya bukan hal baru. Meski Gereja itu suci, tetapi semua orang (termasuk imam dan umat) tetap manusia yang tak luput dari kekhilafan kemanusiwian.korupsi gereja

Alkitab memuat kisah tak sedap dari dua orang putera imam Eli:Hofni dan Pinehas (I Samuel 2,12-17). Sebagai pelayan Tuhan, mereka menyalahgunakan jabatan yang ada.

Setiap kali ada seseorang mempersembahkan korban sembelihan, mereka seringkali mengambil bagian yang bukan haknya. Bahkan, keduan tak jarang memaksa orang yang membawa korban menyerahkan terlebih dahulu kepada mereka sebelum dibakar.

Praktik korupsi ini diketahui oleh ayahnya, Imam Eli. Hanya karena Hofni dan Pinehas adalah darah dagingnya, Imam Eli tidak pernah benar-benar menegur keduanya. Bahkan lebih terlihat bahwa Imam Eli lebih takut kehilangan anak-anaknya, daripada kehilangan Allah.

Kisah sudah ribuan tahun lalu. Tetapi gambaran simbolis itu seakan begitu mengena karena mewakili tiga hal mendasar.

Pertama, Hofni dan Pinehas adalah orang yang ‘tidak mengindahkan Tuhan’ (I Sam 2,12). Sebuah gambaran tentang minimnya kadar iman yang dimiliki. Mereka jadi pemimpin bukan karena kualitas diri tetapi lebih pada keinginan diri yang dilatarbelakangi oleh niat tak tulus. Yang ada pada mereka hanyalah keinginan untuk dapat memperoleh sesuatu dari Gereja.

Penyelewengan yang pernah terjadi dalam Gereja, kalau direfleksikan, bisa saja berakar dari hal ini. Rendahnya kadar iman dari pribadi membuat orang cepat goyah ketika dihadapkan pada godaan uang. Manipulasi data dan fakta, penggelembungan dana misalnya akan mudah terjadi karena ‘itulah yang biasa terjadi dalam dunia’.

Indira Gandhi pernah mengawaskan: One must beware of ministers who can do nothing without money, and those who want to do everything with money. Pribadi seperti ini harus terbebaskan segera dalam proses seleksi karena yang dikejar adalah uang. Tidak lebih dari itu.NIKO LADI DITANGKAP1

Kedua, mengabaikan batas hak imam atas umat Israel (1Sam 2,13). Hal itu bisa dimaknai sebagai sebuah manipulasi wewenang yang digunakan untuk mendapatkan sesuatu (yang katanya) untuk Gereja.

Manipulasi mengatasnamakan Tuhan, mudah terjadi. Dengan alasan membangun Gereja, umat sebenarnya sudah punya disposisi batin untuk merelakan apa saja yang dimiliki untuk ‘rumah Tuhan’. Aneka gerakan, seruan, dengan mudah ditanggapi. Tak heran dana yang dikumpulkan tidak sedikit.

Lebih lagi disertai sikap ‘pasrah dan percaya’ dari umat. Mereka ‘beri dengan tangan kanan, tetapi diajarkan untuk secara ikhlas, hingga tidak perlu diketahui oleh tangan kiri. Hanya yang ‘di atas’ saja yang tahu.

Di sinilah sebuah proses korupsi dengan mudah terjadi. Kemurahan hati umat dibelokkan dengan cara yang sangat mudah. Tetapi pada sisi lain, umat yang telah memberi ‘secara diam-diam’, tidak akan ‘mengungkit’ karena hal itu akan mengurangi amal dan sedekahnya.

Ketiga, sebuah korupsi dalam Gereja, berakhir sangat tragis karena minimnya iman berakar pada cara pandang yang sangat rendah terhadap korban untuk Tuhan (1Sam 2,17). Dana umat tidak lagi dianggap sebagai sebuah persembahan mulia penuh arti yang dilakukan hanya demi kemuliaan Tuhan.

Pelanggaran kalau memang terjadi dalam Gereja maka sesungguhnya pribadi yang melakukan berada pada batas kadar iman yang sangat rendah. Ia merasa begitu hampa karena Tuhan yang mestinya disegani, dalam kenyataannya dijadikan ‘alat’ untuk memperkaya diri. Bila terjadi pada titik ini maka korupsi yang dilakukan di Gereja sebenarnya telah menyentuh rasa keprihatinan yang sangat mendalam.

Menata Kembali

Kasus yang terjadi di Lewoleba yang bisa saja dalam proses peradilan tidak terbukti tidak mesti menetralisir peran untuk menata kembali penataan keuangan sebagai basis dalam membantu arah Gereja yang lebih baik.

Pertama, proses pemilihan petugas gereja terutama berkaitan dengan pembangunan Gereja harus dilakukan melalui proses yang ketat. Hal itu terjadi karena faktor terpenting adalah orang ‘beriman’ (bukan sekedar raji berdoa apalagi pandai bicara) yang disertai perbuatan. Kesaksian hidup dan keteladanan harus menjadi bukti.

Kedua, perlu menata pembukuan. Hal ini ditekankan karena sesungguhnya penyalahgunaan keuangan begitu terbuka terjadi. Kerelaan hati umat yang ‘memberi tanpa menuntut’ meskipun hal itu bersifat positif tetapi bisa menjadi sebuah godaan bagi petugas Gereja yang minim iman. Ia dengan mudah terjerumus dalam tindakan manipulatik karena tahu, apa pun yang dibuat tidak akan diminta pertanggungjawaban.

Lebih lagi mereka yang terlibat juga tahu, kalau pun tindakannya kemudian diketahui, mereka akan mudah ‘diampuni’ ‘diberi maaf’. Hal itu menjadi sebuah godaan terbuka, untuk melakukan tindakan tak elok.

Ketiga, diperlukan usaha pengawasan dan audit. Hal itu lebih mendesak lagi ketika dana pembangunan tidak saja berasal dari dalam umat tetapi juga dari hasil sumbangan atau hibah. Godaan manipulatif akan mudah terjadi di mana pos yang sama bisa saja dibayarkan oleh banyak sumber yang berbeda.

Hal ini pun sekaligus menjadi kirik yang tidak kurang pedas. Tak jarang, kampanye mencari dana ke kota besar (seperti Jakarata dan Surabaya), tidak disertai proses pertanggungjawaban yang semestinya. Tidak jarang, laporan tumpang tindih masih terjadi hal mana menjadi prseden buruk.

Penekanan akan hal ini, hanya mau menyadarkan bahwa Gereja yang dilayani oleh semua adalah suci adanya. Sayangnya, umat yang ada tetapi ‘manusia’. Karena itu, dengan pengawasan yang ketat disetai basis iman yang kuat, diharapakn agar tidak terdapat celah apa pun untuk terjadi korupsi.

Sumber: Flores Bangkit 11 Maret 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s