38. Semana Turistica

Semanca Turitica

Hotel-hotel di Larantuka penuh sesak, masyarakat menawarkan rumahnya untuk jadi tempat penginapan, demikian koran lokal memberitahukan.

Ribuan peziarah, dalam dan luar negeri bakal memadatinya. Tak heran, dengan bercermin tempat ziarah seperti Fatima dan Lourdes, Andreas Ratu Kedang, Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Flores Timur menawarkan agar dibuka beberapa stand makanan dan pakaian serta asesoris atau souvenir khas.

Sampai di sini semuanya wajar. Bagaimana pun setiap perhelatan bisa ditangkap sebagai peluang. Dengan demikian agama dapat juga menunjang kesejahteraan rakyat. Tetapi apa sebenarnya yang ingin dihadirkan di “Semana tan Santa” (pekan begitu suci itu?).  Apa sebenarnya yang dicari (peziarah) dan yang diharapkan ditampilkan oleh warga Larantuka?

Bergeser

Membludaknya umat memenuhi Larantuka baik lewat jalur darat, laut, maupun udara, sekilas merupakan sebuah pemandangan menyejukkan hati. Di sana terpateri sebuah pencarian.larantukak

Di tengah kesibukan dan pergulatan hidup, orang tahu bahwa hidup perlu diberi arah. Semana Santa, pekan suci, yang sudah dimulai pada Minggu Palem (malah ada yang memulainya pada Jumat Sengsara), diharapkan menjadi momen terindah yang bisa diperoleh.

Kesadaran akan makna Pekan Suci, menjadi alasan untuk siapa pun berkorban. Berdesakkan di Ferry, berjubelan di bis, terpaksa menumpangi bis kayu, menghadapkan dada pada angin karena harus menggunakan motor, serta tiket pesawat yang nyaris diperoleh, merupakan derita yang ada. Tetapi di sana ada keyakinan, pengorbanan akan terbayarkan di ‘nagi tanah’.

Pertanyaannya: apa sebenarnya yang dicari para peziarah dan apa yang akan disajikan oleh orang Larantuka? Tentu pertanyaan sangat substansial ini tidak bisa dikenakan untuk semua orang. Ada yang sekedar ‘ikut rame’ atau dalam dialek nagi ‘ikut aro’ (arus). Bagi mereka, semana santa tidak kalah sebuah tontotan. Tidak lebih.

Tetapi tidak sedikit orang  mengharapkan sebuah makna. Mereka datang untuk berwisata secara rohani. Artinya jelas, yang dicari adalah hal rohani yang bisa memberi nilai tambah pada hidupnya. Jauh-jauh mereka datang ke Larantuka karena yakini, di sana, mereka temukan kedamaian, sebuah ziarah menuju diri sendiri.

Pada titik ini maka proses Jumat Agung yang menjadi salah satu kekhasan di Larantuka bukanlah tujuan. Ia sekedar sarana yang mendekatkan orang. Ia adalah ‘alat bantu’. Sayangnya, dalam perjalanan, sarana kerap menjadi tujuan. Adanya pembelokan makna. Bagi banyak orang, Jumat Agung tetap berlangsung karena tidak dikaitkan dengan kebangkitan yang seharusnya menjadi tujuan.

Artinya, ziarah hidup yang dilalui dengan derita harus berujung pada kebangkitan. Setiap orang yang pergi ke Larantuka harus pulang sebagai pribadi yang bangkit, memulai sesuatu yang baru sebuah buah ziarah. Dalam perspektif ini, pelbagai persiapan, perlu sangat dikoordindir. Di sana kegiatan yang tidak menjurus, apalagi betentangan perlu ditinjau. Napak Tilas misalnya menjadi contoh. Belum lagi kegiatan bisnis yang malah kontraproduktif.

Pengalaman negatif ini tidak sekedar awasan. Di negara yang dulunya sangat ‘katolik’ seperti Uruguay sudah terbukti. Sejak tahun 1919, melalui UU tanggal 23 Oktober 1919, semua peseta agama diganti nama pesta agama menjadi pesta biasa. Selama Semana Santa misalnya diganti menjadi Semana Turistica atau Semana de Turisme(minggu wisata). Pesta Natal tetap dipetahankan tanggalnya tetapi yang dirayakan adalah keluarga, bukan kelahiran Yesus.

Mengapa sampai terjadi demikian? Perayaan keagamaan telah dikeluarkan dari konteksnya dan diberi ruang kepada bisnis. Masyarakat meninggalkan inti perayaan dan hanya mengembangkan dimensi bisnis atau sosial hal mana tidak kita inginkan terjadi di Larantuka.

Kualitas Diri

Pengalaman negatif tentang Semana Santa, mesti jadi sebuah pembelajaran bagi Larantuka dalam membenah diri untuk menjadi kota religius. Hal paling mendasar (meskipun agak idealis) bagaimana menghidupi nilai kerohanian itu. Jelasnya, iman yang (katanya) dimiliki orang nagi harus diwujudkan dalam tingkah laku. Hospitalitas menerima tamu, rela berkorban, merupakan wujud nyata dari iman.

Sebuah pengalaman penulis, saat penulis berada di Lourdes. Di kota yang sangat internasional oleh hadirnya pelbagai bank, tokoh (barang suci), tetapi keramahan itu begitu terkesan. Saat tersesat, penulis mendapatkan tawaran dari orang Lourdes untuk mengantar secara gratis dengan mobilnya ke hotel. Sebuah contoh teramat luhur. Ia tahu, di tempat itu, ia bisa mendapatkan menawarkan apa saja asal mendapatkan uang. Tetapi ia memilih sesuatu yang membuat saya terkesan hingga kini.

Kenyataan itu bisa saja menjadi sebuah masukan. Pekan Suci telah menjadikan Larantuka ‘kota mahal’. Segala sesuatu ‘punya harga’. Segala yang dimilili (termasuk rumah) bisa dibuat pemondokan biar dapat memperoleh ‘sedikit rupiah’. Portir kapal (yang tekenal sangat tidak manusiawi) bisa meraup untuk besar.

Hal ini wajar karena ketika ada ‘permintaan’ maka peluang itu harus ditangkap. Tetapi apabila warna bisnis begitu menonjol (seperti acara lahiriah lainnya) maka apa sebenarnya ingin dijual di Larantuka? Di sana yang terjadi, justeru Semana Santa menjadi pekan tak suci, jauh dari apa yang diharapkan.

Kualitas yang diharapkan tentu tidak berhenti di sana. Kehidupan iman yang bisa ditampilkan orang nagi tentu tidak berhenti pada Semana Santa tetapi merasuk hingga dalam kehidupan bermasyarakat. Agama menjelma dalam kehidupan (termasuk bisnis). Sebaliknya perilaku adalah cerminan kedalaman iman.

Penyerapan nilai ini harus diakui, sampai beberapa tahun lalu terutama ketika hadir bisnis bodong seperti Mitra Tiara, orang Larantuka ‘aman-aman saja’. Ada kesan, masyarakat melihat ada dua dunia berbeda: di satu pihak iman dengan semana santa jalan menurut ‘ritualnya’, sementara bisnis bodong berjalan ikut maunya. Iman dan perbuatan berseberangan.

Pengalaman seperti itu mengingatkan bahwa Semana Santa yang kini menjadikan Larantuka objek sorotan harus dibenahi. Ia haus kembali kepada jati dirinya sebagai ‘Pekan Suci’ dengan nilai-nilai yang dijiwai dari dalam dan meluas dalam kehidupan bermasyarakat. Inilah keutamaan rohani yang ‘dijual’ dan dicari oleh peziarah.

Hanya dengan demikian Larantuka dapat kembali menjadi kota suci karena orang suci yang datang membagikan kesuciannya di nagi tanah. Tak lupa juga mereka yang pergi membawa keramahan sebagai kenangan yang terbawa. Tanpa dasar ini, kita hanya sekedar jadi kota turis karena menjual banyak hal tetapi kurang malah tidak menjual kualitas diri. Semoga.

Sumber: Flores Bangkit 2 April 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s