40. Bulan Maria, Bulan Bencana?

Bulan Maria, Bulan Bencana?

Sehari menjelang bulan Maria, KM “Ina Maria” milik Keuskupan Larantuka terbakar di perairan selepas Tanjung Gemuk (FloresBangkit 30/4/2015).

Tragedi itu memunculkan pertanyaan hal mana menjadi latar belakang tulisan ini. Apakah tragedi yang terjadi menjelang bulan Maria itu membenarkan kalau Mei dan Oktober bulan Maria itu memang bulan bencana? Atau seperti seorang netzisen juga sampai bertanya, apakah ada yang salah di baliknya?

Bunda Maria “Marah?”

Fakta bahwa pada bulan Mei dan Oktober banyak terjadi bencana, tidak bisa kita pungkiri. Sekedar merentet beberapa kejadian. Kerusuhan Mei (Trisakti, lengsernya Pak Harto), Lumpur Lapindo (sekitar Mei 2005), Kecelakaan Pesawat Merpati di Kaimana (2011), Kecelakaan Pesawat Sukhoi (2012), Badai Catarina di AS, Kejatuhan Pasar Saham terbesar di AS.

Pada bulan Oktober tidak kalah tragedi. Bulan Oktober dianggap asal muasal Perang Dunia II. Di Indonesia, tahun 2010, dihiasi bencana. Sebut saja Wasior (Oktober), Tabrakan Kereta di Jateng (Oktober), Bencana di Mentawai (Oktober) dan Sleman.

Kejadian terakhir, terbakarnya KM Ina Maria, seakan membenarkan, Bulan Maria, bulan bencana. Bulan itu “Ina Maria”, “Bunda Maria” seakan menyiapkan paket duka. Kapan saja, ketika ia mau, aneka bencana itu bisa datang. Siapa pun (termasuk mereka yang paling dekat dengannya) bisa saja ketiban duka.

Sesungguhnya asumsi demikian tidak ada salahnya. Rentetan kejadian bisa saja memunculkan asumsi seperti itu. Lebih lagi ketika di daerah seperti Indonesia, demikian catatan buletin Kemanusiaan Bulanan edisi 03 April 2013, ada peningkatan bencana alam pada bulan tersebut seperti: banjir, tanah longsor, angin puting beliung, hingga aktivitas vulkanik.

Tetapi lantas apakah semuanya memiliki kaitan dengan bulan Maria?Apakah itu semua tanda bahwa Bunda Maria geram dan menggerakan semua tragedi itu? Tentu tidak semudah itu menarik sebuah kesimpulan. Kecelakaan misalnya tidak melulu terjadi pada bulan Mei dan Oktober. Tidak sedikitnya terjadi juga pada bulan lainnya, malah mungkin lebih banyak lagi.

Hal ini mementalkan kesimpulan kita. Jelasnya, alam telah memiliki otonomi sendiri semenjak ciptaan. Sang Mahakuasa begitu mulia dan bijaksana. Ia tidak menciptakan alam disertai egoismenya untuk terus mengaturnya dalam siklus bencana dan tidak. Ia justeru memberinya otonomi. Sebuah kebesaran tak terkira, mencipta dan memberi kebebasan seutuhnya.

Aneka bencana alam adalah tanda bahwa rangkaian otonomi itu tidak tergunakan semestinya. Manusia selama ribuan malah jutaan tahun telah menjadikan alam sekedar objek dan bukan subjek-partner untuk ada bersama. Karenanya kalau alam kini ‘mengamuk’, itu karena akumulasi.

Sementara itu kebijaksanaan juga merupakan elemen yang melekat pada manusia. Kecelakaan manusiawi seperti yang terjadi pada “KM Ina Maria”, tentu tidak bisa ‘diberatkan’ apalagi ‘dibebankan’ seakan Bunda Maria menjadi penyebab. Lebih lagi dikaitkan seakan Keuskupan Larantuka sebagai pemilik telah melakukan sesuatu yang ‘tidak menyenangkan Bunda Maria’. Secara manusiawi hal itu bisa saja muncul, tetapi ia nyaris punya korelasi.

Bulan Syukur

Kalau semua bencana terjadi dalam konteks otonomi alam dan tanggungjawab manusia, maka mengapa bulan Maria menakutkan?

Penetapan Mei sebagai bulan Maria, merupakan sebuah tradisi dari abad XIII. Saat itu Raja Alfonso X yang dijuluki “Sang Bijak” dilantik. Pelantikan itu seakan diikuti kegembiraan alam karena Mei adalah bulan musim bunga. Momen yang terlalu indah karena ada hujan yang membawa kesegaran di kebun. Bunga-bunga pun mulai mekar menghadirkan keindahan menakjubkan. Orang Spanyol lalu menamakannya ‘mes de flores’ (bulan bunga-bunga) yang diidentikkan dengan Bunda Maria dikelilingi keindahan alam hal mana menggambarkan kecantikan dari dalam dirinya.

Di Italia, Santo Filipus Neri, pada abad XVI mengajak kaum remaja agar mendedikasikan bulan Maria sebagai penghormatan pada Bunda Maria. Mereka membawa bunga menghiasi Bunda Maria. Hal yang sama di Amerika Latin. Dedikasi yang tinggi terhadap devosi Bulan Maria.

Oktober semenjak abad XIX, sehubungan dengan penampakan Bunda Maria di Lourdes, Paus Leon XIII mengajak semua orang Katolik untuk berdoa rosario dalam keluarga. Ia mengajarkan keutuhan dalam keluarga, sebuah kebersamaan antara orang tua dan anak untuk berdoa bersama, bersyukur atas anugerah hidup yang diterima.

Dari rangkaian ini maka semestinya nada yang paling utama dalam Bulan Maria adalah syukur. Sebuah kekaguman dan rasa hormat mendalam atas anugerah yang sudah diterima. Manusia mengagumi karya Tuhan hal mana mendorongnya selalu bersyukur. Di sana muncullah iman dalam arti sebenarnya, sebuah kekaguman atas kemahakuasaan Tuhan.

Sayangnya rasa syukur ini menjadi hal yang mudah terlupakan. Aneka bencana alam dan bencana buatan dalam interpretasi paling dalam adalah ekspresi ketidakpedulian pada alam dan sesama. Manusia telah terlampau egois untuk menjadikan dirinya pusat dan lupa bahwa ia sekedar sarana untuk mencapai sesuatu yang lebih mulia. Bencana alam dan bencana buatan karena itu momen yang menyadarkan untuk kembali menempatkan rasa syukur.

Rasa syukur juga tidak bisa sekedar vertikal, ke atas dengan menyembah tetapi juga mengarah kesamping. Pujian pada ‘Yang di Atas’ harus diwujudkan dalam keseharian. Bencana alam karena itu bisa saja mengingatkan solidaritas yang mestinya kian besar di tengah alam yang kian rentan akan bencana. Jelasnya, ketika solidaritas dihidupkan malah diberi ruang semestinya, bencana alam seberat apa pun bisa dipikul. Jelasnya, oleh otonomi alam, bencana alam tidak bisa dihindari lagi. Dunia semakin tua. Bencana itu sudah datang seirama rentannya alam.

Solidaritas itu akan kian utuh ketika didasarkan pada pertobatan yang ikhlas dan tulus. Sebuah seruan untuk kembali. Hal ini berlaku tentu tidak saja bagi umat-rakyat, tetapi juga bagi pemimpin agama dan pemimpin negara. Selagi semuanya melekat erat kemanusiawian, maka tidak ada yang terkecuali dalam panggilan untuk berbenah.

Dalam konteks “Ina Maria”, kita pun bisa berangan. Meski tidak ada kaitan antara bencana dan hukuman dari Bunda Maria pada siapa pun apalagi kepada pemiliknya, tetapi yang pasti, kecelakaan kini mengajak berbenah dan bersyukur. Bulan Maria juga tidak identik dengan kegeraman Bunda pada kita.

Yang ada, bencaan yang kini terjadi di awal bulan maria mengajak untuk berbenah. Berbenah dalam pelayanan hal mana bisa jadi pembelajaran. Sejarah misi tidak kurang kesaksian dari KM Fatima Lembata, KM Siti Nirmala, KM Arnoldus, KM St. Theresia, dan KM Ratu Rosario yang jalannya tentu tidak secepat “Ina Maria” kini. Tetapi dalam kesantaian, mengikuti arah gelombang, ada waktu merefleksi hidup dan pelayanan yang nota bene menjadi bagian terpenting.

Sumber: Flores Bangkit 3 Mei 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s