42. Kebangkitan Flores

Kebangkitan Floes

Judul ini bisa saja memunculkan pertanyaan: apakah memang selama ini Flores tertidur malah ‘mati’ hingga perlu bangkit atau dibangkitkan? Atau, apakah Flores itu memiliki kekuatan luar biasa yang tinggal menunggu momen revolutif agar dapat terwujud segalanya?

Robert Bala. Pemerhati Sosial. Tinggal di Jakarta.

Pertanyaan ini tentu terjawab ketika dibaca dalam konteks Hari Kebangkitan Nasional. Sejak 107 tahun yang lalu, para pemuda, lewat organisasi Budi Utomo ingin memberi wadah bagi sebuah perjuangan yang terwujud 37 tahun lewat kemerdekaan. Di sana bisa dipetik nilai yang bisa dimaknai dalam konteks kebangkitan Flores.

Sistem Organisasi

Flores sebagaimana namanya mengungkapkan kebhinekaan. Di wilayah ini, pluralitas merupakan harga mati. Semakin ia berada dalam perbedaan, semakin kaya. Sementara menyendiri apalagi bersikap fundamentalis-egois, akan membawa kemunduran, malah kematian.

Flores justru menghadirkan sebuah campuran etnis: Melayu, Melanesia, dan Portugis. Sebuah campuran indah hingga S.M. Cabot melihatnya bak bunga yang terdiri dari aneka warna, hingga mendorongnya memberi nama ‘Capo de Flores’ atau Tanjung Bunga. Dari sisi bahasa, ada kelompok bahasa Manggarai-Riung, Ngadha-Lio, Mukang (Sikka), Lamaholot, dan Kedang di Lembata.

Deretan kekayaan itu masih bisa diperpanjang lewat seni budaya, keindahan alam, kekayaan alam, dan lain-lain. Semuanya menjadikan Flores sebagai sebuah kekuatan. Tak kurang, sumber daya manusia pun tidak kalah. Tidak sedikit orang Flores yang secara vertikal dapat melangkah ke posisi penting di republik ini. Hal itu belum terhitung keramahtamahan, kerjasama dan toleransi yang sudah mengurat

Tetapi apa yang menjadi kendala hingga aneka kekuatan itu terasa tidak terlalu bergaung sebagaimana mestinya? Organisasi Budi Utomo yang kita peringati kini dalam perayaan Kebangkitan Nasional sangat inspiratif. Hal yang menjadikannya patut dikenang adalah sistem berorganisasi yang menonjol.

Berbeda dengan organisasi sebelumnya yang lebih menjadi ‘perkumpulan’, Budi Utomo oleh A.K. Pringgodigdo dalam “Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia”, 1980, dianggap sebagai sebuah organisasi modern. Sebuah organisasi disebut modern bila memenuhi beberapa kriteria seperti: adanya pengurus yang pasti, ada anggota terdaftar, punya tujuan serta rencana kerja yang tersusun dalam program kerja. Hal itu mendorong diterbitkannya Kepres no 316 tanggal 16 Desember 1959 untuk menjadikannya Hari Kebangkitan Nasional.

Kesadaran berorganisasi yang pada awal abad yang lalu sangat rapi, hemat saya masih menjadi sebuah pekerjaan rumah untuk Flores. Sistem yang mengikat yang menjadikan ‘kefloresan’ seseorang terbedakan masih jauh dari harapan. Hal itu bisa saja menjadi penjelas, mengapa rencana Provinsi Flores yang sebenarnya lebih tua dari Provinsi NTT tidak terwujud.

Kendalanya sangat serius pada sistem nilai organisatoris yang mengikat. Yang terjadi, di Flores ikatan suku lebih kuat. Ketika ditanya tentang asal, dengan cepat kita mengidentikkan diri sebagai ‘orang Flores’. Tetapi ketika secara lebih jauh ditanyakan apa itu Flores, masing-masing orang menjelaskannya dari sisi sukunya. Flores karena itu tak beda sebagai tempat bukan sebuah identitas yang telah terjelma dalam aneka nilai penguat.

Kekuatan Pendidikan

Aneka kepincangan mestinya tidak terlalu ditangisi karena keadaan itu bersifat dinamis. Organisasi bisa dibangun sejauh ada tekad dan komitmen. Pertanyaannya, melalui jalur apa, kebangkitan itu bisa diwujudkan?

Bercermin pada Kebangkitan Nasional, harus diakui pendidikan adalah jalannya. Saat itu, meski hanya dilandasi politik etis atau balas budi dari C. Th Van Deventer, Belanda ‘dipaksakan’ agar secara moral mendidik warga pribumi. Hal itu dianggap sebagai een eerschuld (sebuah balas budi). Artinya, orang Indonesia yang ‘dijajah’ telah berkontribusi terhadap kecemerlangan Belanda di daerah jajahan. Karena itu kaum terjajah harusnya dibalas jasanya melalui irigasi, emigrasi, dan pendidikan.

Meskipun dalam kenyataan terjadi penyimpangan karena irigasi lebih ditujukan pada areal persawahan Belanda (bukan rakyat), dan emigrasi hanya sekedar memindahkan rakyat ke wilayah perkebunan Belanda, tetapi pendidikan bisa dianggap lebih efektif. Meskipun yang dididik sebagian adalah anak pegawai Belanda, tetapi nilai itu kemudian nilai pendidikan justru meluas membangun kesadaran.

Pendidikan karena itu mestinya menjadi sebuah langkah strategis bagi Flores dalam kebangkitannya. Sejarah telah membenarkan bahwa Flores (khususnya Larantuka) telah menjadi pioner dalam ‘mengekspor’ guru ke berbagai tempat pada menjelang dan awal kemerdekaan. Semangat pengabdian mendidik telah menjadikan orang Flores sebagai pendekar.

Bidang inilah yang perlu dikelola secara baik. Wawasan tentang bidang pendidikan harusnya dibuka mengingat ruang keahlian masih sangat tebatas. Sebagian besar orang Flores bertumpuh untuk menjadi guru atau masuk seminari (menjasi biarawan-biarawati) hal mana tentu juga bagus adanya. Tetapi tidak disadari, bidang lain harusnya menjadi lingkup pengabdian yang tidak kalah menariknya.

Kekuatan lainnya dari pendidikan adalah bahasa. Orang Flores terlahir dalam kebhinekaan bahasa, tidak saja dua atau lebih bahasa dikuasai oleh tuntutan berkomunikasi. Hal itu telah menjadi sebuah peluang. Komunikasi yang luas akan memudahkan untuk mengakses informasi dan mengapa tidak dapat membuka peluang untuk lebih bangkitnya Flores.

Peluang pendidikan inilah yang harus digagas lebih jauh. Flores kalau ingin bangkit, ketika pendidikan ini diberi ruang. Alokasi anggaran haus diperuntukkan bagi pendidikan, tidak saja agar pendidikan merata tetapi terutama agar pendidikan itu efektif karena orang yang potensial, mendapatkan ruang pengembangan diri yang maksimal. Melalui jalan pendidikan ini, kita yakin, kebangkitan Flores akan menjadi nyata. (Bersambung)

Sumber: Flores Bangkit 19 Mei 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s