44. Pers Yang Mencerahkan

Belum terlalu lama, penulis melansirkan sebuah artikel: Bulan Maria, Bulan Bencana (FloresBangkit 3/5). Seperti biasa, sebagai ‘perkenalan’ biasanya disertai sebuah resumen dalam bentuk pertnayaan. Maksudnya agar pembaca tergugah untuk dapat membaca secara lengkap artikel itu.

Robert Bala. Pemerhati Sosial. Tinggal di Jakarta.

Tujuan itu tercapai. Dalam waktu hanya dua hari, pembaca mencapai 1500 orang lebih. Tetapi bagi beberapa yang lain, hanya ‘terkesan’ dengan judul. Puluhan orang memberi komentar (bahkan dengan bangga mengatakan belum membaca artikel tetapi sudah menanggapi) dengan memberikan ‘judgment’ yang sama sekali bertentangan dengan maksud penulis.

Netral

Tema ini bersifat umum. Apa yang terjadi ketika tema yang diangkat bersifat sensitif? Ini yang terjadi dan menjadi keluhan penulis. Di sebuah media lokal, penulis terkesima dengan sebuah judul berupa ‘kepastian’.

Kisahnya, ada dugaan sebuah adegan pembunuhan yang dilaksanakan di rumah jabatan seorang bupati. Sayangnya, judulnya itu sangat memastikan: “Ada adegan….”. Jelas di sana sudah ada sebuah kepastian.

Hal itu pula yang mendorong penulis mendalaminya. Penulis heran, yang terjadi di luar dugaan. Yang dikisahkan adalah seorang terdakwa mengatakan ‘pernah ada orang (S) mengatakan pernah melihat sebuah rekaman video tentang pembunuhan. Tapi rekaman itu kini sudah tidak ada dan orang yang menyebarnya pun sudah menghilang’.

Jelas, isi pemberitaan tentang dugaan. Itu pun ‘katanya’ melihat sesuatu dari sebuah rekaman yang kini sudah tidak ada. Sayangnya, judulnya sudah menjadi sebuah kesimpulan “ada adegan pembunuhan….”.

Ini sekedar contoh. Terlepas dari misi pers untuk menguak kebenaran, tetapi akan mudah terbaca, sebuah kesimpulan yang terlalu luas dari premis, bisa saja lahir dari sebuah cara pandang yang tidak seimbang. Jelasnya, ada asumsi (yang bisa saja benar) yang begitu memengaruhi penulis dan media. Dengan demikian setiap kejadian diarahkan kepada sebuah kesimpulan yang mendekati asumsinya selama ini.

Terhadap gejalan ketidakseimbangan ini, Warren G. Bovée (1999) dalam Discovering Journalism, menandaskan dengan sangat jelas.Dengan lugas ditulis: The journalist must report only the facts and not a personal attitude toward the facts (wartawan harus melaporkan hanya fakta dan bukan sikap pribadi dari seseorang terhadap sebuah fakta).

Memang sebuah fakta tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya opini sebagai penyedap. Sayangnya, sebuah kesimpulan yang terlalu luas menjadi indikator bahwa tidak saja asumsi dari orang lain yang dimasukan tetapi bahkan pers sudah tidak seimbang dalam pemberitaan.

Kenyataan ini semakin mendorong agar pers perlu mewujudkan sisinya yang objektif. Singkatnya, semakin dibutuhkan objektivitas jurnalistik dalam menulis. Di sana prinsip berikut ini perlu ada dan dioptimalkan yakni yakni bersifat adil, tidak berpihak, dan faktual. Ia lebih dihargai lagi kalau pers tidak ‘berpihak’ pada partai tertentu yang mengondisikan model pemberitaan.

Misi Kenabian

Upaya menyibak kebenaran hal mana menjadi komitmen pemberitaan sebuah media, harus dianggap sebagai sebuah identitas. Terhadap tema yang ‘keramat’, apabila sebuah media bisa menyibaknya, maka ia akan dihargai. Bisa saja kini ia dicaci-maki tetapi kemudian ia disanjung.

Inilah idealisme yang melekat pada setiap media. Pertanyaannya, apakah sesuatu yang sungguh faktual dan objektif dengan nilai kebenaran yang hampir sempurna, kontributif terhadap kebaikan bersama? Pertanyaan ini akan semakin kuat ketika tuntutan mengupas kebenaran itu sampai juga membuat pers melanggar kaidah logis yang minimal dimiliki.

Tetapi media tersebut juga tidak bisa dipermasalahkan. Pengalaman akan ketakmungkinan aparat yang sudah ‘sulit’ ditembusi dengan dialog, telah jadi alasan lain. Tetapi bila memang terjadi, keadilan dan kesimbangan itu mesti terus diutamakan. Minimal ketika pihak tertentu diklaim tidak adil dan memang benar, tetapi hal itu tidak bisa merampas independensi media untuk jadi adil dengan dirinya sendiri.

Berhadapan dengan permasalahan di atas, maka diperlukan beberapa hal berikut ini. Pertama, pers perlu kembali kepada objektivitas jurnalistik. Di sana ia menampilkan fakta yang terjadi. Agar fakta tersibak maka hal itu bisa terjadi dengan menyibak dua sisi berbeda. Sementara hanya menampilkan satu sisi maka fakta itu justeru menyembunyikan sesuatu.

Kesadaran itu akan mendorong pers untuk lebih faktual dalam menampilkan berita. Sebisa mungkin fakta disibak. Insting jurnalistik ingin berdiri di tengah. Memang pada saatnya ia memberi kesimpulan sebagai sikapnya, tetapi hal itu dilakukan setelah proses argumentasi dilaksanakan.

Kedua, pers yang objektif mestinya berkontribusi terhadap kebaikan bersama. Sebuah kebaikan tentu saja tidak saja dicapai melalui kritik apa saja. Di sana memang peran kenabian terlihat karena ia menyibak kepincangan yang terjadi dan secara jelas menampilkan celah yang terjadi. Pada bagiannya ia menghendaki adanya perbaikan.

Sayangnya proses seperti ini kerap menimbulkan kebosanan. Pers yang terlalu mengkritik tetapi lupa memberi alternatif yang mencerahkan akan dijauhi pembaca. Pembaca yang berada pada proses mencari kebenaran, merasa bahwa sebuah media sudah terkapiling pada cara pandang tertentu sehingga menjadikannya tidak netral lagi.

Di sini tanpa disadari, sebuah media sudah kehilangan pembaca. Ada cap partisan pada sebuah media. Sudah dipastikan bahwa ia kehilangan pembaca dan akan sulit mendapatkan kembali pembaca yang sudah terluka dengan cara pandang sepihak.

Menyikapi hal ini, sebuah pers semestinya tidak saja mewujudkan dimensi profetis tetapi perlu juga menampilkan dimensi indikatif. Pers yang demikian tidak saja berteriak agar orang melaksanakan apa yang belum diwujudkan (meskipun hal itu benar dan jelas), tetapi juga perlu menampilkan apresiasi terhadap apa yang sedang dilaksanakan

Di sana pers mengindikasikan (menunjukkan) hal positif yang sudah dilaksanakan. Ia ajak apresiasi atas hal yang sudah terlaksana. Di atas indikasi itu, ia juga memberi harapan perbaikan. Sementara itu kritik tanpa indikasi, akan menjdikan pers semakin parsial.

Ketiga, pers yang objektif punya sasaran akhir mencerahkan. Sebuah pers harus hadir memberi terang. Di tengah kegelapan, dengan cara pandang sepihak, ia hadir secara seimbang menghadirkan terang yang mencerahkan.

Ketika pembaca sadar bahwa setiap kasus selalu berakhir dengan sebuah terang, maka di situ sebuah media kian mendapatkan penghargaan dan semakin berada di hati pembaca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s