45. Belajar Pancasila? (Ya ke Flores!)

Belajar Pancasila? (Ya ke Flores!)

Juni selalu identik dengan bulan Pancasila. Di antara banyak tempat, Flores justeru menjadi salah satu acuan. Tidak berlebihan. Bung Karno, selama pembungannya di Ende, memiliki waktu berahmat. Oleh kontak yang intens dengan para misionaris yang tentu saja dimudahkan oleh kefasihan berbahasa Belanda, telah menjadikannya waktu berahmat. Bila kemudian Pancasila lahir, maka Ende bisa menjadi tempat ‘embrio’itu disemaikan.

Tahun 2015, keanekaragaman juga muncul melalui figur “Azizah Maumere”. Si gadis kampung itu tiba-tiba menarik perhatian ibu kota. Selain oleh suaranya yang memukau (meski akhirnya hanya sebagai juara 2), tetapi dukungan dari semua pihak tanpa mempertimbangkan asal, suku, agama, menjadi sebuah pembenaran. Contoh ini menunjukkan bahwa tidak berlebihan kalau Flores jadi tempat lahirnya Pancasila.

Keanekaragaman

Ketika bicara tentang Flores, maka yang dibicarakan tentu saja bukan satu melainkan sebuah kesatuan dalam keanekaragaman. Setiap orang Flores misalnya dengan mudah menyebut asalnya dari Flores (meski ia berasal dari Lembata). Tetapi bagi yang tahu, Flores terlalu umum. Ketika ditanya, identitas itu masih harus diurai. Tetapi dengan bekata demikian, hendak diperkuat bahwa Flores adalah sebuah identitas atas nama keanekaragaman.TUGU-BUNG-KARNO_3_JPG

Hal itu menunjukkan bahwa Flores sebagai identitas tidak bersifat tunggal. Seperti namanya, ia bukan sekedar “flos” (Latin artinya bunga) atau “flor” (bahasa Spanyol artinya bunga). Tetapi dirumuskan dalam bentuk jamak”flores” yang artinya bunga-bunga.

Di daerah ini, semua orang bisa ada bersama. Perbedaan tidak dilihat sebagai hal yang memunculkan konflik. Malah ia jadi ajang pemersatu. Kerukunan beragama dan saling membantu sangat menonjol. Singkatnya, keberagaman dilihat sebagia sebuah kekayaan.

Penegasan tentang identitas jamak ini sebenarnya menarik. Minimal hal itu merupakan kesadaran benua Eropa kini. Di benua tua (viejo continente) itu, demikian Pockok dalam “Some Europes in Their History” (2002), pernah ada usaha untuk mencari identitas tunggal. Agama Kristen dianggap bisa memersatukan semuanya. Kini mereka sadar, agama tidak pernah jadi identitas. Agama hadir menyatu dengan budaya. Justeru budaya beranekaragam. Dengan demikian kehadiran agama (dan budaya) tidak pernah menggantikan budaya yang sudah ada.

Realitas keanekaragaman inilah terlahir atau minimal menjadi inspirasi bagi Soekarno. Semboyan ‘berbeda-beda tetapi tetap satu’, menjadi sangat nyata di Flores dan mengapa tidak menjadi sebuah kekayaan yang dibawa pulang serta menjadi permenungan menarik dalam proses melahirkan Pancasila.

Lahir Pancasila

Adanya praksis yang menyatukan dalam keberagaman, harus diakui merupakan embrio darinya lahir buah Pancasila yang kita hidupi kini.PESANTREN GEREJAP. Leo Kleden, SVD, Povinsial SVD Ende dalam kerjasama dengan Pesantren di Ende

Di Flores, agama disadari sebagai jalan. Setiap orang berbeda jalan, tetapi punya tujuan yang sama. Tak heran, ketika ada sesama membangun rumah ibadah, bukannya dihalangi tetapi malah dibantu. Lebih lagi, keagungan sebuah agama tidak dilihat dari caranya tetapi sejauh mana agama dapat terekspresi dalam perbuatan.

Fenomena yang hadir dalam figur KDI, Azizah sangat tepat. Azizah dianggap orang Flores terlepas dari agama atau suku asalnya. Di sana agama tidak dipermasalahkan apalagi dijadikan sumber konflik. Sila Ketuhanan yang Maha Esa bukan sekedar kata tanpa makna. Ia bermakna karena lahir dari praksis nyata.

Pengakuan akan Tuhan yang satu sekaligus menumbuhkan rasa kemanusiaan. Semua manusia sama. Pada sisi ini, sebuah agama akan terbukti menjadi terbaik ketika sanggup mewujudkan spiritualitas dalam kehidupan konkrit.

Rasa kemanusiaan itu sangat tinggi. Orang Flores terkenal sangat menghargai tamu. Ia adalah saudara. Namun rasa kemanusiaan itu kadang ditekankan berlebihan. Harga diri menjadi barang taruhan. Adanya belis yang cukup tinggi untuk wanita tidak bermaksud menjual ‘wanita’ tetapi hendak menunjukkan betapa tingginya martabat wanita. Di sini sekali lagi Kemanusiaan yang adil dan beradab tidak kurang contoh.

Hal lain yang sangat penting adalah persatuan. Ikatan persaudaraan sangat menonjol. Orang Flores menjadi sangat suka berkumpul. Malah semangat itu diwujudkan dalam kerjasama. Kenyataan menunjukkan bahwa di negeri ini, gerakan koperasi memiliki tempat yang sangat khusus di Flores.

Kesatuan juga selalu ditunjukkan di mana pun orang Flores berada. Semangat membantu merupakan sebuah ciri.Dengan mudah orang berkawan karena sadar bahwa persatuan adalah kekuatan.

Rasa kerakyatan menjadi nilai lain yang sangat dijunjung tinggi. Orang Flores terkenal sangat loyal dengan pemimpin, sejauh sang pemimpin konsisten dengan amanah yang telah diberikan. Ia akan sangat menghargai karena di sana ia memimpin dengan kebijaksanaan. Dalam perspektif ini, ketika seorang pemimpin bijak ditantang oleh orang tak bertanggungjawab, orang Flores pasti berdiri di depan.

Di sana terlihat bahwa sukuisme menjadi sangat kurang tampak. Terhadap sebuah kesalahan, siapa pun tidak akan dibela. Itu menunjukkan nilai berharga yang patut dilanjutkan.

Jelasnya, Flores menjadi contoh dalam kehidupan berkeadilan sosial. Toleransi, gotong royong (gemohing atau sakoseng sekedar menyebut dua contoh) adalah kesadaran bahwa kesuksesan tidak bisa dinikmati sendirian. Ia harus dinikmati bersama.

Nilai positif inilah yang mestinya tidak pudar karena dalam semuanya, tercermin secara utuh tentang Pancasila. Pada sisi lain, nilai-nilai ini akan semakin menjadikan Flores tidak saja sebagai tempat lahirnya Pancasila, tetapi juga tetap menjadi referensi dalam mempelajari tentang perwujudan kebersamaan dalam keanekaragaman. Dengan demikian kini dan juga kelak, Flores tetap jadi acuan bagi yang ingin belajar keanekaragaman dalam keharmonisan. Di sana Flores jadi tempat belajar.

Sumber Flores Bangkit 05 Juni 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s